Beranda

Penantian, Sebuah Kekuatan Menjaga

3 Komentar

“Kisah cinta Ali pada Fatimah. Tentang keikhlasan Ali saat mengetahui Abu Bakar melamar Fatimah, serta tentang kelapangdadaan Ali saat harus mengetahui lamaran Umar kepada Fatimah. Namun toh kedua lamaran itu berakhir penolakan. Hingga majulah sang Ali, pemuda miskin namun sosok pemberani melamar Fatimah dan berakhir dengan “Ahlan wa sahlan”, gumam Rasulullah.”

Siapa yang tak pernah merasakan cinta. Mengagumi sesosok yang sering membuat pikiran tertuju padanya. Saat dia ada, mungkin hati berdecak kagum, namun ekspresi berdecak biasa. Di situlah bentuk pengendalian hingga memang terungkap jika kau siap untuk menjadi halal.

Galau. Sebuah kata yang muncul menjadi sebuah tren, dan tak disangka itulah kata yang mewakili saat hati dan pikiran sedang “kacau”. Pun dengan cinta. Tak sedikit seorang insan galau dengan cinta. Tak sedikit pula seseorang yang galau akan menunggu cinta itu sendiri.

Seseorang yang jatuh cinta karena dia ingin mengisi kehampaan yang ada dalam dirinya“, yang seperti itulah kira-kira kutipan dari Mario Teguh. Begitupun seseorang yang sedang menunggu, menunggu akan cinta sang pangeran datang.

Wanita mana yang tak luluh saat sosok yang dikaguminya menyatakan “menikahlah denganku” ? Namun, mana sosok pemberani itu? Sosok seorang Ali yang berani melamar Fatimah. Fatimah yang sejujurnya menginginkan Ali, apakah ia meminta Rasul untuk menyatukan mereka? Fatimah hanya diam, hingga bersatulah mereka tanpa adanya cacat pada cinta mereka. Namun masihkah ada sosok Fatimah, yang senantiasa menjaga perasaannya?

Saat mata jelalatan pada yang sesosok “yang disukai”, bagaimana dengan seseorang yang akan menjadi pasangan kita kelak? Apakah dia melakukan hal yang sama dengan kita?

Saat bermalas-malasan dalam penantian, bagaimana dengan dia? Apakah dia pun begitu?

Saat hati ini telah diisi oleh cinta serta kekaguman pada makhluk, apakah di hatinya pun ada orang lain?

Saat hampir sebagian perasaan telah tercurah pada yang lain, apakah dia pun begitu?

Oh, sungguh Rabbi, tak sanggup.

Jangan, janganlah biarkan hati ini terlunta-lunta. Penantian, biarlah hanya sekedar nama kondisi saja. Bukan sebagai aktifitas, apalagi pengacau pikiran. Penantian, semua bisa terjadi. Bahkan saat setelah dicap sebagai calon pasangan, belum tentu dialah jodohmu.

Rabbi, dalam penantian ini, biarkan hati selalu terpaut padaMu.

Rabbi, dalam penantian ini, jagalah diri ini.

Penantian, uji kekuatanmu dalam menjaga.

Penantian, uji kesabaranmu dalam berharap.

Penantian, uji keikhlasanmu dalam menerima.

Dalam penantian, semua bisa terjadi. Dalam penantian, tak ada yang pasti. Yang ada, sebait doa “Jagalah Hamba

Hati yang terjaga hanya bagi mereka yang menjaga dirinya.

Malaysia Menang, Tentu Sudah Itu Yang Terbaik Bagi Indonesia

4 Komentar

Semua-mua-mua peristiwa pasti sudah ada hikmah bagi siapapun. Baik yang lagi sedih akan kejadian itu, baik yang lagi senang. Itupun yang sekarang terjadi di pertandingan Final SEA GAMES 2011 antara Indonesia VS Malaysia. Ya, finally 1-1 in normal match time until 2 round of additional times. The last, penalty. 3-4 for Malaysia.

Ini hanya sebatas pendapat saya lho, hehe.

Mungkin kalau Indonesia kalah bukan disebabkan oleh usahanya yang buruk, tapi mungkin dari mental suporter yang “berlebih”. Apa maksud berlebih itu? GBK sudah dipenuhi sejak sebelum maghrib. Nah terus pertandingan sampai hampir pukul 10pm. Di situ, apa suporter udah pada sholat maghrib? :D . Ya mungkin ada sebagian yang di jama’ dengan sholat isya kali ya (urusan boleh atau tidak bolehnya sholat dijama’ dengan alasan itu ga tau juga sih :D . Lebih baik tanya ke ahlinya. Kalau setahu saya jama’ itu jika saat waktu sholat tiba dia sedang berpergian tapi kembali lagi tanya kepada ahlinya.

“Kalah sih kalah, tapi kenapa harus sama Malaysia lagi sih”. Mungkin mungkin lagi nih ya di sini Indonesia sedang diuji untuk jangan membenci sesuatu secara berlebihan. Nasionalisme boleh saja di kedepankan, namun ingat jangan sampai membenci berlebih apalagi sesama muslim :D

Kenapa bukan Indonesia yang menang? Mungkin Sang Pemilik Taqdir tahu, jika Indonesia menang akan muncul penyakit hati baik dari suporter maupun pemain maupun siapa aja itu. Contoh, bisa jadi suporter jadi malah jadi sombong atau berasa “paling” dari Malaysia.

Oke just think Husnudzan. May Allah Blesses Us with love. Be Humble Indonesia!

Hey, Keluarga!

Tinggalkan Komentar

Yap, ini tulisan yang telah mengisi ke”ramat”an blog ini.

Oke, saya memang orang yang tidak konsisten dalam menulis di blog. “Terutama setelah lulus” <- alibi ketidakkonsistenan sebelum lulus. Sungguh ingin menulis sebenarnya.

Berawal

Hey Keluarga! Itulah judul yang sengaja saya ambil dari esensi pengalaman saya kemarin.

Tak sengaja yang disengaja, setelah menghadiri suatu acara dan pulangnya kemalaman, maka  saya memutuskan untuk menginap di rumah teman. Cukup terkesan dengan kebiasaan dan kehangatan yang terasa di rumah itu. Walaupun cuma sehari, tapi saya yakin itu kebiasaan mereka.

Shalat berjamaah bersama keluarga. Itulah salah satu kebiasaan yang paling saya suka. Kebiasaan yang sering dilakukan terutama saat shalat maghib, isya, dan shubuh. Iri :’)

Lantunan mengaji ibu saat shubuh.  Oh inilah lagu merdu, terdengar begitu syahdu, dan buat hati merindu sendu :D . Sungguh lagu ini yang membuat rumah mereka barakah, terselimuti oleh perlindunganNya.

Masakan yang masih hangat sengaja dibuat untuk sarapan. Masakan siapa lagi kalau bukan ibu. Wah, enak banget masakannya. Sederhana tapi hangat :D . Terdengar begitu maknyos suara osang oseng memecahkan pagi hening *weits.Masakan penuh doa yang sengaja dipersiapkan untuk mengisi energi sang penghuni rumah.

“Mamaah, sini dulu”. Ya ini ucapan seorang anak yang sekedar diminta untuk memberikan saran pakaian yang dipakai, atau mereka-reka pakaian yang akan digunakan. Kemanjaan anak kepada ibunya yang indah menurut saya. Kebiasaan untuk melibatkan  ibunya dalam segala aktifitasnya. Itulah yang membuat rumah lebih berasa penuh dengan ucap syukur.

Menunggu penghuni rumah yang belum pulang. Menunggu di ruang depan sambil nonton TV atau apalah itu akan membuat sang penghuni yang baru pulang merasa begitu berharganya dan begitu ditunggu kehadirannya. Inilah yang membuat seseorang tak mampu jauh dari rumahnya. Tentu :)

Itu mungkin biasa saja bagi sebagian orang, namun sebagian lagi? Tentu itu sangat sangat sangat sangat sangat berharga :)

Semoga, kamu, saya, dia, mereka mendapatkan kebahagiaan kekal dariNya.

ending tulisan ini mau dong kutip lirik keluarga cemara:

“Harta yang paling berharga adalah keluarga
Istana yang paling indah adalah
keluarga
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga
Mutiara tiada tara adalah keluarga
Selamat pagi emak,
selamat pagi abah
Mentari ini berseri indah
Terima kasih emak,
terima kasih abah
Penuh hati berkata
dari kami putra putri
yang siap berbakti”

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.