Beranda

Cara Menghilangkan Perspective Grid Di Adobe Illustrator

4 Komentar

pernah mengalami saat mendesain di Illustrator kemudian tanpa sengaja ke klik perspective grid seperti gambar di bawah ini?

 

gambar1

klik kembali perspective grid tools nya masih saja ada. Mungkin ada yang merasa terganggu dengan adanya bentuk seperti di atas.

Baik, cara mengatasinya adalah :

  1. Pilih menu view
Menu view

Menu view

2. Pilih Perspective Grid > Hide Grid

gambar1

Atau secara cepatnya tekan SHIFT+CTRL+I untuk menghilangkan perspective grid.

Semoga membantu rekan sekalian yang sedang mencari tutorial ini :D

 

Bekerja Bukan Sarana Menyombongkan Diri

Tinggalkan komentar

http://impianclub.com

dapet artikel ini di grup WA, jadi saya posting saja di blog

From Allah to Allah: Rezeki Itu Milik Allah

by Leila Hana

“Saya nggak mau jadi ibu rumah tangga saja. Kalau suami meninggal atau kita bercerai, gimana? Siapa yang kasih makan saya dan anak-anak? Istri itu harus mandiri finansial supaya bisa punya uang untuk jaga-jaga kalau ada apa-apa dengan suami.”

Seketika, kalimat itu buyar kala saya berhadapan dengan seorang wanita berusia 47 tahun yang datang ke rumah saya untuk mengisi pengajian. Wanita bersahaja itu datang jauh-jauh, cukup jauh dari komplek perumahan tempat tinggal saya, untuk memberi pengajian secara gratis. Ingat, gratis lho…. Nggak ada bayaran sepeser pun kecuali sajian makan siang yang saya berikan. Dia datang untuk menggantikan guru ngaji saya yang berhalangan. Sambil menunggu teman-teman lain, kami ngobrol-ngobrol.

“Coba tebak, anak saya berapa, Bu?” tanyanya, ketika kami sedang ngobrol soal anak-anak. Saya sedikit mengeluhkan kondisi rumah yang berantakan karena anak-anak nggak bisa diam, lalu dia memaklumkan. Namanya juga anak-anak. Dia sudah berpengalaman karena anaknya lebih banyak dari saya.

“Ehm… empat?” (pikir saya, paling-paling cuma selisih satu).

“Masih jauh….”

“Tujuh….”

“Kurang… yang benar, delapan.”

Mata saya membelalak. Masya Allah! DELAPAN?!

“Itu masih kurang, Bu. Ustazah Yoyoh (almarhumah Yoyoh Yusroh, mantan anggota DPR) saja anaknya 13. Jadi, saya ini belum ada apa-apanya,” katanya, merendah.

Setelah itu, mengalirlah cerita-ceritanya mengenai anak-anaknya sampai teman-teman saya datang dan acara mengaji pun dimulai. Di sela pengajian, wanita itu bercerita mengenai keluarganya. Dari situ saya baru tahu kalau suaminya sudah meninggal dunia! Meninggal karena kecelakaan motor, meninggalkan istri dan delapan anak, yang terkecil berusia 2,5 tahun dan sang istri, ya… wanita itu… seorang IBU RUMAH TANGGA.

Ibu rumah tangga di sini maksudnya nggak kerja kantoran, tapi juga bukan pengangguran. Beliau aktif mengisi pengajian. Lalu, bagaimana kehidupannya setelah suaminya meninggal? Beliau nggak punya gaji, nggak kerja kantoran. Coba, gimana? Apa beliau lalu sengsara dan anak-anaknya putus sekolah? No. no, no….

Kalau saya mengingat kalimat pembuka di atas kok kayaknya mustahil ya seorang ibu yang nggak bekerja dan suaminya meninggal dunia, bisa bertahan hidup dengan delapan anak dan anak-anaknya bisa tetap kuliah. Mustahil itu… NGGAK MUNGKIN!

“Bagi Allah, nggak ada yang nggak mungkin, Bu. Asal kita percaya sama Allah. Allah yang kasih rezeki, kan? Percaya saja sama Allah. Saya cuma yakin bahwa semua yang saya dapatkan selama ini adalah karena kebaikan-kebaikan saya dan suami semasa hidup. Saya cuma berbagi pengalaman ya, Bu, bukan mau riya. Memang, suami saya dulu itu orangnya pemurah. Kalau ada yang minta bantuan, dia akan kasih walaupun dia uangnya pas-pasan. Alhamdulillah, Allah kasih ganti. Sewaktu suami masih hidup, kami hidup sederhana. Rezeki suami itu dibagi ke orang-orang juga, padahal anak kami ada delapan. Suami nggak takut kekurangan…..”

Kami menahan napas…..

“Hingga suami saya meninggal dunia… uang duka yang kami dapatkan itu… Masya Allah… jumlahnya 100 juta. Padahal, suami saya itu biasa-biasa saja, bukan orang penting. Uang itu langsung dibuat biaya pemakaman, tabungan pendidikan anak, dan sisanya renovasi rumah yang mau ambruk.”

Dengar uang 100 juta dari uang duka saja, saya sudah kagum.

“Saat renovasi rumah, saya serahkan saja ke tukangnya. Dia bilang, uangnya kurang. Saya lillahi ta’ala saja. Yang penting atap rumah nggak ambruk, karena memang kondisinya sudah memprihatinkan. Khawatirnya anak-anak ketimpa atap…..”

Saya membayangkan, keajaiban apa lagi yang didapatkan oleh wanita itu?

“Nggak disangka. Begitu orang-orang tau kalau saya sedang renovasi rumah, mereka menyumbang. Bukan ratusan ribu, tapi puluhan juta! Sampai terkumpul 100 juta lagi dan rumah saya seperti bisa dilihat sekarang…. Sampai hari ini, saya masih dapat transferan uang dari mana-mana, Bu-Ibu. Saya nggak tau dari siapa aja karena mereka nggak bilang. Saya juga udah nggak pernah beli beras lagi sejak suami meninggal. Selalu ada yang kasih beras.”

Duh, nggak bisa nahan airmata deh jadinya….

Apa rahasianya?

“Berbuat baik kepada siapa saja, sekecil apa pun. Insya Allah ada balasannya. Rezeki itu milik Allah. Kalau Allah berkehendak, Dia akan kasih dari mana pun asalnya….” tutupnya.

Rezeki itu milik Allah, siapa pun tidak boleh takabur. Bekerja bukanlah sarana menyombongkan diri bahwa hidup kita bakal terjamin karena bekerja. Yang menjamin hidup kita adalah Allah. Bekerja diniatkan untuk ibadah.

Pembuka rezeki bisa datang dari mana saja, salah satunya dari berbuat kebaikan sekecil apa pun.

Ucapan, “Kalau suami meninggal atau bercerai, siapa yang kasih makan saya dan anak-anak?” itu sama saja dengan syirik, atau menduakan Allah.

Menganggap diri kita super, dengan kita bekerja, maka rezeki terjamin. Padahal, Allah yang kasih rezeki. Jika dulu Allah kasih rezeki melalui suami, besok Allah kasih lewat jalan lain. From Allah to Allah

Modul Tutorial Adobe Illustrator untuk Pemula

Tinggalkan komentar

Baik, kali ini saya akan mempostingkan modul tutorial adobe illustrator.

Setidaknya dengan mengikuti beberapa praktek dalam modul ini, Anda dapat membuat cover seperti di bawah ini bahkan lebih hebat :D

cover modul tutorial

cover modul tutorial

silakan download modulnya di sini.

Jangan Sekali-Kali Memberikan DOT Kepada Bayi Yang Baru Lahir

Tinggalkan komentar

Walaupun kurus tapi dia begitu aktif

Walaupun kurus tapi dia begitu aktif

Yoyoyo, baik. Saya mau sedikit berbagi pengalaman yang tak seberapa ini. Utamanya, pengalaman memberikan dot kepada anak bayi saya yang baru lahir. Begini lengkap ceritanya.

Saat anak saya baru lahir, seperti pada umumnya dokter selalu mendekapkan anak kita dekat dengan payudara kita selama beberapa menit. Hari pertama sekaligus pengalaman pertama saya menyusui anak saya. Masih kaku dan puting untuk meyusu pun masih kecil, sehingga anak kesulitan untuk menyusu. Saya pikir dia sudah mulai bisa menghisap dan ASI pun ia minum. Tapi ternyata pikiran saya salah. Saat di rumah sakit anak agak rewel, disusui mau tapi masih nangis. Sampai saat hari kedua dibawa ke rumah dia menangis terus menerus sampai akhirnya dia ketiduran. Seisi rumah berpikir, kenapa? Apakah dia belum bisa menyusu ke puting ibunya? Akhirnya kami pun sepakat membeli pompa ASI yang sepaket dengan dot. Saya peras dan dimasukkan ke dalam dot, akhirnya dia mau dan lumayan banyak habisnya. Dari situ dia mulai tidak rewel dan tidur nyenyak. Akhirnya, beberapa kali saya susui lewat dot. Eh, ketika saya kasih puting saya, dia langsung nolak bahkan nangis sejadi jadinya. Nolak sampai sekarang, di mana dia tepat 5 bulan. Sedih, karena tidak dihisap, maka ASI pun semakin lama semakin berkurang. Sampai menginjak usia 2 bulan akhirnya ditambahkan susu formula. Dan menginjak usia 4 bulan, ASI yang mampu diperas hanya 50ml an perhari. Padahal dulu bisa sampai 400ml perhari. Dan ya mau tidak mau susu formula jadi utama.

Semenjak pemberian susu formula, pertambahan berat bayi saya sangat lambat bahkan cenderung tidak bertambah. Ish, sedihlah. Sepertinya dia tidak suka susu formula karena susu yang diminum selalu sedikit. Padahal dalam kemasan ada kan takaran normal sebanyak apa biasanya bayi minum.

Sedih, liat sang anak kurus. Tak minum ASI. Gaa-gara pemberian dot di awal, rencara ASI eksklusif saya hancur lebur. Peralatan yang sa beli untuk ASI untuk sekarang sia-sia.

Saran bagi ibu-ibu yang lain, jika awal anak masih susah menempel pada puting ibu, jangan langsung diberikan dot. Mending disendok aja. Beneran bu, saya nyeseeeeeel banget dulu kasi dot. Hiks hiks. Saking pinternya bayi, ya dia sudah bisa membedakan makan yang gampang dan susah. Kalo puting payudarakan dia harus sedikit ekstra hisap, terutama saat awal-awal setelah lahiran.

Sekarang pun saya lagi galau tentang berat anak saya. Kalau tidak gemuk tapi berat normal sih saya tak masalah. Tapi ini kurus, bu. Kurus :(

Kurus, tapi sehat ya bageur :)

Kurus, tapi sehat ya bageur :)

Bismillah aja, InshaAllah akan sehat normal.

ITP, Penyakit Apaan Itu?

Tinggalkan komentar

Saat Di IGD RSHS

Saat Di IGD RSHS

Hari ketika melihat anak merintih kesakitan. Ya Rabb, bener-bener ga tega, melihat anak tergeletak di IGD.

Sang anak masuk rumah sakit tanggal 15 Desember 2014 hari Senin, dengan keadaan yang sudah sangat parah. Saat dites darah, danesh hanya memiliki trombosit 1000, padahal normalnya adalah 150.000-500.000. Seluruh badan sudah penuh dengan lebam biru dan bintik biru keungu-unguan. Sengaja saya sharing pengalaman ini agar ibu-ibu yang memiliki anak dapat waspada, hehe.

 

Baik, begini lengkap ceritanya.

Awalnya, saya mulai ngeh ada bintik merah di sekitar wajah yang cukup menyala. berbeda dengan bintik biang keringat ataupun digigit nyamuk (note:setelah di rawat saya baru tau bahwa perbedaan iritasi kulit dengan pendarahan kulit adalah, jika pendarahan ketika bintik diregangkan kulitnya atau di tekan lama kemudian dilepas, maka bintik tetap ada. Namun jika iritasi kulit, ketika diregangkan atau di tekan lepas, bintiknya hilang kemudian timbul lagi). Saya ceritakan ini kepada suami saya, namun katanya, “mungkin kena nyamuk”. Ciri ini muncul sekitar 4-7 hari sebelum masuk rumah sakit.

sekitar dua hari berikutnya, muncul bintik merah menyala kecil seperti ditusuk jarum di bagian persendian tangan. bintiknya bergerombol cukup banyak. Saya masih berpikir “ah nyamuk lagi banyak-banyaknya sekarang”. Keesokan harinya lagi di tangan sebelahnya lagi dan beberapa di bagian telinga. keesokannya di leher.

Semakin lama semakin banyak tapi anaknya keliatan ga kenapa-kenapa lho, anteng, masih bisa diajak main, dan tidak demam. Hari Sabtu sore saya melihat bintik merah yang lebih besar di bagian kaki dan bergerombol. Saya pikir kena nyamuk karena saya ketiduran dan tidak memperhatikan danesh. Danesh pun masih terlihat anteng, tidak ada masalah.

Bercak merah di langit mulut

Bercak merah di langit mulut

Niat memeriksakan danesh mulai muncul saat minggu pagi dia menangis dan suami saya melihat ada bercak merah di langit-langit mulutnya. Akhirnya minggu pagi saya cari dokter anak tapi tak ada, yang ada hanya bidan. Eh, asisten bidan tepatnya. Saya ceritakan apakah karena alergi susu, soalnya saya baru ganti susu formula. Eh tu asisten bidan bilangnya iya katanya ini bisa jadi alergi susu. Asbid bilang,”Nih bu, ada bintik item. Dari mana? berarti yang merah-merah tadi udah berubah jadi item. “Kalo udah mulai item berarti dah sembuh, bu. Ibu mau kasi obat racik bla-bla-bla?”. Dalam pikiran saya lho kok nanya mau atau engga, saya kan ga tau apa-apa. Saya Jawab, “emang ini obatnya bukan?”. asbid bilang, “iya.”. Saya bilang lagi, “yaudah kasi berarti, kan?”.

Gara-gara asbid ragu memberikan obat, saya pun ragu memberikannya ke si danesh. Ketika diperika asbid saya melihat ada lembab sedikit di bagian kaki. Sya heran kok ada lebam. Tapi saya abaikan hal tersebut.

Hal yang cukup menakutkan pun terjadi saat minggu malam hingga senin pagi. Danesh batuk pilek rewel, maunya digendong sambil berdiri. walhasil, semalaman baik saya maupun danesh tidak tidur. Hal yang lebih menakutkan lagi, danesh muntah dan mengeluarkan bercak hitam. Bentuknya mirip warna haid wanita ketika awal atau akhir masa menstruasi. Saya bener-bener nangis, ya Rabb. Siapa yang tega melihat anak tidak tidur semalaman dan sakit seperti itu.

Pagi sekitar jam 6, tetangga (panggilan nenek) datang dan membawa anak keluar rumah. Dan terlihat wajah danesh begitu pucat. Nenek menyarankan untuk segera pergi ke UGD salah satu RSIA dekat rumah. Di sana dokter anak datang pukul 9. Dokter melihat keadaan danesh dan menyarankan untuk tes darah. Walhasil, trombosit cuma 1000. Saya tidak mengerti awalnya, yang saya mengerti katanya DANESH HARUS SEGERA DIRAWAT! Dokter Anak tiba, dan katanya indikasi utama, dia sakit ITP. Syok saya denger itu, syok karena gak tau apa itu. Dirujuklah ke salah satu RS besar di Jakarta. DI UGD gak ada dokter anak, akhirnya antri ke polianak yang pastinya lama antri periksa. Hasilnya sama, ITP dan RAWAT INAP.

Wajah pucat lemes saat di salah satu rumah sakit

Wajah pucat lemes saat di salah satu rumah sakit

Karena tak ada saudara satupun di sana, saya pun begitu down banget, akhirnya memutuskan pergi ke Bandung walaupun dokter sudah mengatakan “saya gak tanggungjawab kalau terjadi pendarahan di jalan”. Bismillah pergilah saya, danesh, dan suami ke Bandung. Sepanjang perjalanan, yang biasanya nangis danesh kenceng banget, saat itu dia lemes banget, dehidrasi, dan hanya merintih. Yaa Rabb, saya hanya bisa menangis, berdoa semoga tidak terjadi apa. Pikiran sudah kemana-mana. Akhirnya sampai Bandung,.Di leuwipanjang sudah dijemput oleh keluarga untuk ke RSHS. ke IGD nya. Sampai di sana lebam semakin parah terutama di bagian kaki. Dan sempat BAB dengan warna pupnya hitam. Tusuk sana sini, akhirnya di transfusi darah merah, trombosit, dan infusan. Selain itu obat prednison. Danesh dirawat selama 6hari 5 malam.

Begitu dehidrasinya dia :(

Begitu dehidrasinya dia :(

 

Bintik dan lebam tanpa terbentur di bagian kaki

Bintik dan lebam tanpa terbentur di bagian kaki

Setelah ditransfusi alhamdulillah mulai membaik walaupun bintik masih banyak.

Keadaan mulut yang sudah tidak ada bercak merah

Keadaan mulut yang sudah tidak ada bercak merah

2 hari dirawat di sana, akhirnya ketawa dia mulai muncul walaupun masih lemes dan pipi tembem gara-gara transfusi. Alhamdulillah.

Tertawa perdana pasca sakit :D

Tertawa perdana pasca sakit :D

Lemes, nangis merintih, infusan, dan oksigen. O Allah, maaf atas segala dosa saya. Mungkin ini teguran, melalui danesh Allah tegur saya dan suami saya akan dosa-dosa selama ini.

Satu hal yang buat saya agak gemes. Ke Asisten Bidan awal periksa. Apakah dia tidak bisa membedakan mana bintik pendarahan dan bintik iritasi pada kulit? Padahal jika tau kan harusnya langsung suruh tes darah, mungkin. Ah, yasudah. Pelajaran bagi kita semua.

Cukup, cukup danesh merasakan rawat dan rumah sakit seumur hidupnya. Sehat terus, danesh.

Ini Ya, Yang Namanya Hidup Mati Tipis Saat Persalinan

Tinggalkan komentar

20140926_222211

Intasya Zafira Danesh

Akhirnya, masa penantian yang terdapat dalam artikel sebelumnya terjawab juga. My Litle Danesh lahir! September, 26th 2014.

20 September 2014

Hari Perkiraan Lahir kehamilan saya adalah 20 September 2014, rasa cemas mulai berasa begitu kuat kuat kuat.

22 September 2014

Hingga, tepat 22 September 2014, saya periksakan ke bidan kemudian di USG dan hasilnya air ketuban sudah sangat sedikit. Bidan menyarankan, esok hari untuk pergi ke Dokter Obgyn di klinik terdekat.

23 September 2014 Pergi periksa ke dokter Obgyn dimulai dengan pemeriksaan NST (keadaan janin) dan sorenya konsultasi dengan dokternya. Kalian tahu dokter berkata apa? “Air ketuban sudah sedikit, ini harus segera dilahirkan hari ini juga atau besok pagi. Akan dilakukan terlebih dahulu melakukan tindakan induksi“. Rasa takut dan syok sudah campur aduk lah. Keinginan persalinan normal seakan-akan jauh dari bayangan. bayang-bayang induksi sudah begitu menyeramkan sakitnya. Apalagi tindakan terakhir, caesar. Pada malam yang sama saya konsultasikan kepada bidan Yayat, apa yang harus saya lakukan. Akhirnya saya dirujuk untuk diperiksa oleh dokter Obgyn lain di RS. Salamun. Kata bidannya, setiap dokter biasanya memiliki keputusan tersendiri. Well , finally keesokan harinya saya pergi ke dokter Obgyn di sana. Dan saya menelepon suami saya untuk  segera datang ke Bandung .

24 September 2014

Sampailah pada antrian saya untuk di periksa Dokter Totong. Dokternya enak, kocak, dan hasilnya pun membuat sedikit lega. Setelah pemeriksaan pembukaan serviks dan USG, dokternya langsung bilang, “ah, ini mah udah bagus dikit lagi nih, mau normal mau sesar?”. Tentu saya bilang mau normal, akhirnya si dokter memberikan obat perangsang terlebih dahulu. Cess, menuju sore sepertinya reaksi obat sudah mulai berasa, mulai agak sakit perut bagian bawah dan muncul bercak darah hitam. Perasaan sakit sudah mulai berasa namun masih dapat ditahan. Hingga pukul 11 malam-an lah rasa mules celekit-celekit mulai terasa.

25 September 2014

pukul 01.30 pagi saya bangunkan suami dan pergi ke bidan Yayat, diperiksa ternyata masih pembukaan 1. SubhanAllaah, sakitnya sudah luar biasa seperti itu masih pembukaan 1. Tapi tak apa setidaknya harapan persalinan normal masih bisa.

pukul 06.00 pagi, masih pembukaan 1. Pulang dulu.

Pukul 10.00 balik lagi masih pembukaan satu. Pulang dulu.

pukul 2 siang masih pembukaan 1. Ya Allaaah sakitnya sudah begitu meringis, mungkin gara-gara pakai perangsang mulesnya, makanya berbeda dengan pembukaan 1 yang alami.

pukul 6 malam, masih pembukaan 1. Akhirnya Bidan Yayat merujuk saya ke RS. Salamun.

pukul 7 malam, pergi ke RS. Salamun dan air ketuban pun pecah di jalan. Sesampainya di sana, ruangan penuh dan mau tidak mau saya harus dirujuk lagi ke rumah sakit lain, RSHS. Allahu Akbaar, rasa sakitnya sudah menggila.

pukul 9 malam saya diperiksa terlebih dahulu, dan akhirnya dirujuk ke ruangan bersalin. Dan di sana akhirnya sudah mulai masuk pembukaan 2. Semakin lama rasa sakit semakin membuat saya tak tahan, dan selalu mengatakan tak kuat. Hingga..

pukul 00.30 subuh, masuk pembukaan 6. Dari situ saya lebih semangat lagi menanti pembukaan selanjutnya. Walaupun teriak-teriak sudah tak saya hiraukan lagi. Rasa ingin ngeden begituu kuat. Oh Allah Sungguh, sakit yang berlipat-lipat ini yang membuat saya berpikir, begitu hebatnya setiap ibu. Mampu menahan sakit sehebat ini.

pukul 01.30 subuh, masuk pembukaan 9. Aaaah saya langsung makin optimis, satu pembukaan lagiii! pukul 2 kurang, tim persalinan dan dokternya sudah datang dan mempersiapkan semua. Owh, Akhirnya. Sampai jugaa. Ngeden ngeden dan ngeden. Gunting dan gunting.

pukul 02.15 subuh. Welcome, Danesh!

Saya tahu detil waktu saat persalinannya soalnya di depan saya ada jam yang selalu saya pantau :D

Dari persalinan ini, pelajaran yang begitu berharga yang saya dapatkan adalah wajar jika Rasul meyuruh kita menghormati ibu, ibu, dan ibu. Akhirnya, lega walaupun rasa sakit jaitan masih ada. Namun semua rasa sakit hilang mendengar suara bayi, melihatnya, dan mendekapnya. :D Terimakasih kepada seluruh keluarga saya yang selalu dibuat riweuh dari awal sampai akhir persalinan. Juga my lovely husband. :) Jazaakumullahu khairan katsiran, :’)

20140927_201315

Ketika Husnudzan Itu Harus, Sesulit Apapun

1 Komentar

18th Sept, 2014.

Tepat 18 hari saya telah mengambil cuti melahirkan dari sekolah. Yang dahulu dalam keadaan urgent harus pulang kampung karena berpikir akan segera melahirkan, dengan tanda-tanda bercak darah. Namun, :) Allah belum mengizinkan si utun untuk lahir sampai saya menulis tulisan ini. Akhirnya waktu cuti yang hanya 2 bulan ini semakin berkurang. Juga, perkiraan bidan, 20 September 2014 adalah hari perkiraan lahir.

Itu sepenggal ceritanya, bagi saya pribadi ini merupakan sebuah fase kesabaran, sebuah fase yang menguji prasangka saya kepada Allah. Kita sering dituntut untuk ber-husnudzan, namun tanpa disadari terkadang kita membohongi keinginan kita sendiri. Itu yang sedang saya alami mungkin. Itu karena mungkin saya tidak mengerti hakikat husnudzan dan kurangnya kedekatan kepada Allah. Hanya menuntut husnudzan itu sejalan dengan keinginan pribadi.

Hingga saat membaca buku terjemah “Mukhatarul Ahadits” dan terpaut dengan beberapa hadits di dalamnya, salah satunya:

Hadits ke-53

Apabila Allah mengasihi hambaNya, Allah akan menguji dia untuk mendengar permohonannya“.

Maksud:

Seseorang manusia apabila mendapat ujian dari Allah yang diterimanya dengan sabar serta penuh keimanan kepada Allah, maka apabila orang itu memohon kepada Allah agar cobaan yang ada  pada dirinya itu berubah menjadi anugerah dan rahmat Allah, doanya dikabulkan Allah. Oleh karena itu bersabarlah menerima cobaan Allah dan berserah diri kepadaNya. Niscaya Allah akan mengganti cobaan itu dengan anugerah dan rahmat.

Allah pasti datang. Tapi memang atas kehendak-Nya, bukan kehendak kita. Kita hanya bisa memohon, bukan memaksa. Kita hanya bisa meminta, bukan mengatur. -Ust.Yusuf Mansur

Aduh, malu rasanya seakan-akan saya memohon dan mengatur semuanya sesuai dengan keinginan saya. In shaa Allah semuanya akan baik-baik saja. berapapun waktu cuti yang “terbuang” menunggu lahiran semoga masih terdapat hikmah dan pahala di dalamnya. Berapa minggu pun umur kehamilan ini, In shaa Allah yang penting sehat dan dilancarkan semua urusannya.

Older Entries

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 38 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: