Artikel ini terinspirasi dari reality show Uya Emang Kuya yang kemarin saya tonton. Owh  Edisi Uya Emang Kuya kali cukup spesial dan menggugah hal yang sebelumnya mungkin tak kita duga (menurut saya). Pada edisi ini, Uya menghipnotis  4 anak jalanan. Ya seperti  yang diketahui, Uya mampu menghipnotis orang sehingga tak ada kebohongan yang tertutur. Dan tahukan apa yang mereka ungkapkan? Celoteh yang bercerita tentang mimpi, kekerasan, kesedihan, dan keluarga. Dari kisah ini banyak hal yang bisa diambil, apalagi saya yang notabene akan jadi pengajar (sesuai dari latar belakang pendidikan saya. hehe)

Anak 1 (lupa namanya)

Ga terlalu memperhatikan kisahnya. Ibunya bekerja sebagai penjual pakaian keliling dan ayahnya nganggur. Dulu ayahnya seorang hansip namun dipecat karena korupsi. Dia putus sekolah karena masalah dengan temannya di sekolah. Dia suka dikerjain sama temen-temen sekolahnya. Sang anak itu pun ga berani mengadu ke gurunya karena takut.

Anak 2 (Bela)

Mungkin ini kisah yang paling membuat penonton nangis. Dia putus sekolah karena temen-temen disekolahnya sering mengganggunya. Bela ditinggal mati oleh ibu sejak dia lahir. Ayahnya menikah lagi, dan akhirnya dia tinggal bersama ibu tirinya. Bela berkata bahwa ia sering dipukuli oleh ibu tirinya. Namun selama ini dia kuat karena ada ayah yang selalu membelanya. Namun udah sekitar 7 hari ayahnya meninggal. Akhirnya dia tak ingin pergi ke rumahnya lagi karena takut dipukuli terus oleh ibunya. Di akhir hipnotisnya bela menangis dan berkata bahwa dia sangat ingin membahagiakan ayahnya, bela sangat rindu pada ayahnya.

Anak 3 (Ahmad)

Kisah ini pun tak kalah menariknya. Ahmad putus sekolah karena gurunya sering memukulnya dan sering menyalahkannya. Sejak kecil, ahmad tidak pernah diurus oleh ibunya. Sudah lama ayah dan ibunya bercerai. Sekarang ibunya tinggal di Padang dan ayahnya di Tanah Abang.  Ternyata salah satu harapan ahmad adalah tinggal bersama ayahnya. Ahmad pernah berkata kepada ayahnya bahwa dia ingin tinggal bersama. Namun ayahnya malah memarahinya. Akhirnya dia pun tinggal bersama kakanya. Harapan lain yang ingin ahmad capai adalah ingin bertemu dengan ibunya, ingin membuat ayah dan ibunya bangga. Harapan tulus yang dilontarkan dengan penuh tangisan.

Anak 4 (lupa namanya)

Anak ini merupakan anak paling muda di antaranya. Anak berkata bahwa ia sangat sayang ibunya, namun sering kesal kepada ayahnya. Dia berkata bahwa ayahnya sering judi dan meminum miras. Ternyata kebiasaan ayahnya  itu pernah dicontoh oleh anak itu. Dia pun terkadang mencoba miras tersebut.

Itu beberapa kisah yang terselip di antara kucel, ceplas-ceplos, dan kuatnya jiwa mereka menjadi anak jalanan. Terdapat banyak irisan dari kisah mereka.  Yaitu rapuhnya keluarga dan lingkungan sekolah yang tidak mendukung.

Lagi dan lagi kekerasan jadi masalah, baik di keluarga maupun di sekolah. Terkadang orangtua sering memarahi anaknya jika melakukan kesalahan, tanpa disadari amarah yang sering terlontar akan membuat psikologis anak tertekan dan malu takut untuk berkarya. Terkadang pula guru hanya memikirkan anak dalam segi kognitifnya saja, dengan melihat muridnya pintar berarti dia berhasil. Namun ternyata tidak segampang itu. Guru harus mampu mendidik di luar sisi kognisi dan harus mampu menahan emosinya, dan yang pasti harus mampu membuat muridnya tak segan untuk berinovasi.

Pernahkah merasakan memiliki hidup yang beruntung? Ataukah selalu merasa kurang ini itu? Melihat mereka sepertinya tak ada perasaan itu. Kita pasti akan merasa beruntung masih bisa sekolah, memiliki keluarga yang hangat, memiliki kehidupan yang kondusif, dan tidak perlu ke jalanan untuk mencari uang.

Hem, patut disyukuri bukan kehidupan kita? Tenang saja setiap kehidupan itu pasti ada yang namanya sedih dan tentunya senang. Tak ada yang abadi, begitupun kesedihan. Jadi tunggu hal-hal yang kita tunggu indah pada waktunya.

Ayo jadikan hidup kita lebih lebih dan lebih bersemangat.

Banyak jalan untuk belajar, tak hanya bersifat formal. Jadi yuk terus belajar

Belajar seceria mungkin.

hehe