Banyak yang bilang kalau perguruan tinggi idaman adalah yang memiliki passing grade tinggi. Banyak yang bilang kalau perguruan tinggi idaman adalah yang memiliki mahasiswa hebat dan pintar. itu semua memang bukan hanya sebatas ucapan, namun itulah yang dirasakan oleh kita. Tapi apakah hanya sebatas itu?

Ketika masuk perguruan tinggi, saya langsung ditugaskan oleh dosen untuk membuat sebuah karya ilmiah. Dari sana saya disuruh untuk pergi ke perpustakaan untuk mencari referensi. Dan ternyata perpustakaan saya cukup luas bahkan sangat luas. Namun, semua buku yang tersedia sudah sangat out of date terutama buku-buku yang berhubungan dengan bidang keilmuan saya yaitu ilmu komputer. Mungkin memang sulit jika harus menyediakan buku yang selalu up to date, akan tetapi buku baru yang tersedia adalah terbitan sekitar 6-7 tahun yang lalu. Hem, saya pikir mungkin ini hanya sebatas di perguruan tinggi saya. Jadi akhirnya saya putuskan untuk pergi ke perpustakaan tanpa batas alias unlimited library atau sering disebut dengan internet, hehe.

Ternyata masalah saya dan perpustakaan tak hanya sampai di sini. Ketika ada buku yang harus dipinjam, ternyata birokrasi peminjaman begitu rumit sehingga mengurungkan niat saya untuk meminjam buku. Dan akhirnya saya putuskan untuk pergi ke unlimited library lagi, hoho.
Lagi dan lagi, kisah saya dan perpustakaan pun belum berakhir. Saya mencoba berpetualang ke sebuah perpustakaan perguruan tinggi favorit Indonesia, dan ternyata kunjungan itu tak seindah bunga mawar. Ketika memasuki ruang gudang buku ini membawa imajinasi saya tentang film lentera merah. Ya, menyeramkan dan terkesan tak terurus. Hem, ini perpustakaan atau ruang semedi berantakan?

Ternyata masalah perpustakaan ini telah menjadi masalah ‘mutlak’ di setiap instansi pendidikan. Sempat terpikir mengapa buku baru sangat jarang ditemukan? Mengapa birokrasi perpustakaan begitu rumit? Dan mengapa tata ruang perpustakaan terlihat berantakan. Sempat terpikir pula jawabannya adalah karena masalah uang. Tapi apakah uang adalah masalah utamanya?

Uang bukanlah masalah utama untuk mengatasi masalah perpustakaan. Bagaimana tidak, di saat perjalanan menuju perputakaan saya melihat gedung-gedung yang mewah, gedung-gedung yang sedang direnovasi begitu megah, dan taman-taman yang sedang dibuat. Jadi saya berpikir sebenarnya perguruan tinggi itu punya banyak uang, tapi yang menjadi masalah apakah uang itu hanya akan digunakan untuk renovasi bagian depan sebuah perguruan tinggi?

Buku baru. Walaupun sekarang mulai tumbuh budaya baru yaitu perpustakaan elektronik bahkan internet, namun bukupun memiliki peranan penting dalam perkembangan sebuah ilmu pengetahuan. Solusi yang saya tawarkan adalah bagaimana jika setiap alumni ikut menyumbangkan buku-buku baru. Sepertinya tak begitu sulit. Jika dihitung, misalnya ada 1000 alumni pertahun maka setidaknya ada 1000 buku baru yang disumbangkan.

Birokrasi yang menyulitkan. Mungkin itu salah satu masalah mengapa saya malas ke perpustakaan. Jika dilihat dari beberapa kasus, yang menyebabkan birokrasi seperti ini adalah karena ketakutan akan keamanan peminjaman buku yang takut tidak dikembalikan. Solusi yang dapat saya berikan adalah, bagaimana jika di setiap perpustakaan diadakan sebuah sistem informasi yang acukup memadai agar arus peminjaman dan pengembalian dapat dikontrol dengan baik? Semoga dengan adanya sistem informasi ini akan membuat birokrasi lebih mudah.

Kondisi Perpustakaan yang berantakan dan terkesan menyeramkan. Jika perguruan tinggi dapat menyewa orang untuk menata taman kampus, mengapa tidak perguruan tinggi pun menyewa orang untuk menata perpustakaan. Tata perpustakaan senyaman mungkin, itulah solusi yang paling ampuh.

Bukan hanya itu, perpustakaan online pun harus dibudidayakan. Bagaimana caranya? Salah satunya adalah dengan membudidayakan memposting tulisan-tulisan bermutu di blog maupun di web. Bentuk realisasi dari itu sendiri adalah dengan diadakannya lomba blog UII (Universitas Islam Indonesia). Sebuah bentuk usaha untuk menggalang kreatifitas para penulis blog. Dari sini terlihat kepedulian sebuah perguruan tinggi akan pentingnya berbagi konten dan artikel bermutu di internet sehingga menciptakan sebuah perpustakaan online tanpa batas.

Jadi, perpustakaan merupakan komponen penting yang tak dapat dilepas dari penilaian apakah perguruan tinggi itu layak disebut idaman ataupun tidak. Perpustakaan merupakan gudang buku, gudang buku adalah gudang ilmu, gudang ilmu adalah tempat orang-orang hebat, dan orang-orang hebat adalah yang akan membuat perguruan tinggi itu hebat.
Semangat untuk menciptakan perpustakaan “menyan” –menyenangkan dan nyaman- untuk mewujudkan perguruan tinggi terbaik dan menjadi perguruan tinggi idaman.

Belajar seceria mungkin😀