“Begitu terdengar suara adzan
Kembali tersungkur hamba”

Tergerak ingin menulis artikel ini setelah barusan mendengarkan Bimbo mendendangkan lagu Sajadah Panjang.

Ingat ini lah salah satu lagu favorit mamah dan ayah. Yang waktu kecil sering diputar dengan menggunakan tape. (download lagu disini)

Ada sajadah panjang terbentang
Dari kaki buaian
Sampai ke tepi kuburan hamba
Kuburan hamba bila mati

Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan sujud
Di atas sajadah yang panjang ini
Di selingi sekedar interupsi


Mencari rezeki mencari ilmu
Mengukur jalanan seharian
Begitu terdengar suara adzan
Kembali tersungkur hamba

Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan rukuk
Hamba sujud dan lepas kening hamba
Mengingat Dikau sepenuhnya
Mengingat Dikau sepenuhnya

Hey mah, yah this your favorite song. Me too

Sajadah, dulu sajadah yang paling sering digunakan kita sholat jama’ah adalah sajadah warna merah yang lebarnya mungkin cukup untuk saya yang masih kecil dan mamah yang masih kurus. Selain itu sajadah berwarna hijau, yang hanya cukup untuk mamah yang sudah mulai menggemuk.😀

Ayah sebagai imam seringnya menggunakan sajadah merah. saya dan mamah menggunakan sajadah yang berwarna hijau dibuat horizontal. Serta adik dan kakak saya menggunakan sajadah sedikit berwarna pink yang mulai lusuh, pun dihorizontalkan.

Di atas sajadah itupun kami mencium tangan kalian,

Di atas sajadah itupun kami diam mendengarkan wejangan kalian,

Dan di atas sajadah itupun kami dibimbing membaca Alquran.

Sajadah itu sepertinya iri melihat kita mah, yah, mpi, jal, de.😀

Nanti kami bawain sajadah yang lebih indah buat kita, mah, yah, mpi, jal, trus dede. Insya Allah.

Insya Allah ntar sambil senyum bawa sajadah indah itu, sambut kami dengan senyum juga ya.

Kami Anak-anakmu.