Tertantang membuat sebuah artikel tentang rok setelah saya baca dalam blog ini.

Sebuah pandangan akan rok dari segi sang pemakai.

*weits tentunya rok yang panjang, bukan rok mini.😀

Yah, ribet ah pake rok.

Wew feminim amat pake rok.

Berasa ga enak ah pake rok.

Mending pake celana daripada rok mah.

Ya itulah yang sering orang katakan ketika tak terbiasa memakai rok, begitupun  saya ketika kadang masih suka pake celana. Gak suka pokonya, hehe.

Terbiasa pake rok sebenarnya sejak kecil. Jika lihat foto-fotonya, hampir sebagian besar foto waktu kecil pake kerudung dan pakaian gamis. Dan mulai tergugah saat kelas 3 SMP. Di mana saat itu mulai diperkenalkan yang namanya pengajian remaja. Dari situlah mulai giat membeli dan membuat rok dari berbagai motif.

Bahkan saat SMA seorang teman ketika saya memakai celana kemudian mengatakan, baru kali ni liat kamu pake celana. Padahal wah lumayan seirng juga😀

Memakai rok pun mendapat dukungan yang sangat besar dari keluarga ayah. Di mana justru merekalah yang terkadang sedih melihat saya memakai celana. Bener, sempat diomongin gara-gara ga pake rok😦

Dan mulai awal kuliah mungkin yang paling sering pake celana (menyedihkan😦 ). Entah apa alasan saya seperti itu, mungkin mengikuti trend.

Namun akhir-akhir ini rasa malu memakai celana pun sering terasa ketika akan bepergian. Seakan celana itu mengatakan, “saya tak pantas dipakai kamu”. Celana jins yang dulu sering dipakaipun sekarang bersembunyi tak menampakkan dirinya.

Pake rok mulu sih, saya mah ogah ah ribet amat!

Terimakasih atas pendapatnya, masalah ribet itu relatif. Tak biasa maka ribetlah yang ada bukan. Membiasakan diri.

Rok bukan hanya menunjukkan sebuah sifat feminim seorang wanita. Toh banyak juga yang memakai celana namun ‘terlihat’ feminim. Saya memang belum sempurna memakai rok, apalagi jilbab. Rok yang terkadang masih tak sengaja terlihat bagian atas mata kaki. Bahkan jilbab yang masih “amburadul”.

Namun rok membuat saya lebih pede, rok membuat saya tak harus tersiksa dengan celana ketat yang mengepung perut dan kaki. Rok membuat saya lebih merasa feminim😛. Serta rok  membuat saya ingin menjadi seorang muslimah yang baik. Amin.

Tak jarang yang mengatakan ribet, dan tak jarang juga yang mengatakan anggun😛 (tapi terlepas dari perkataan orang2, niat ikhlas)

Terserah pendapat mereka tentang ini, karena ini adalah tentang rok saya,bukan tentang pakaiannya, mu, mereka, ataupun dia.

-sebuah artikel yang terkesan apaan sih.. tapi berusaha menulis artikel yang mengandung pelajaran😛, maaf jika curcol, hehe-

belajar seceria mungkin😀