Yap, inilah yang sekarang sering ditanyakan oleh saudara-saudaraku. Owh, indahnya pertanyaan itu sekaligus menyedihkan. *eits ke-ke-ke jangan anggap menyedihkannya segimana gitu (maksudnya?)*

Baik berawal dari pertemuan dengan seorang saudariku yang sedang kebingungan tentang masalah keputusan nikah. (seandainya diizinkan olehnya, ingin rasanya buat cerpen tentang nya.)

Wah, dari situ teringatlah tentang kisah beberapa tahun silam yang mungkin cerita berbeda namun kebingungan yang sangat pernah singgah bahkan menetap di pikiran saya (gaya pissan). ok, stop ini mah kisah beda episode artikel lagi.😀

Tak berhenti samapi situ. Ditambah, saat mengunjungi salah seorang saudara tetua, dia menceritakan saudara-saudara saya yang dari kecil seringlah bermain bersama.

SaudarakuTercinta (ST) :

Eh si ini mau nikah kayanya bentar lagi, ama seorang TNI

Eh si itu juga bentar lagi, udah dilamar ama anaknya ini

“TINGGAL KAMU YANG SISA NIH”

Saya:

😯😐 😎

ST:

Oya pas nih, kemaren si odoy (bukan nama sebenarnya). Alkisah yang dahulu sempat berkeinginan melamar, namun sekarang sudah menikah dengan yang lain karena.. haha, si uduy mw nikah tuh, bla bla bla bala bala.

Terus si odoy keingetan kamu, nawarin ke si uduy. Bentar lagi dia pegi lagi ke Jepang tapi.

Saya:

*loading mengingat si uduy yg mana* Si Uduy teh yang ini ini ini?

ST:

Iya yang itu, da kasep ih ayeuna mah, udah kerja kali ya jadi keurus.

kamu mau?

Saya:

Ah si teteh mah👿

ST:

baik sih, gini-gini-gini-gini *panjang*. tapi jangan nikah ama dia deng, da dia teh bla bla bala bala *panjang

Saya:

Tuk tuk tuk❓

Lho kenapa jadi ada dialog itu? Haruslah karena mau tak mau, harus siap mental ditanya yang begituan. Memang sudah zamannya kali ya. Bukan lagi ditanya udah kelas berapa sekolahnya? Rangking berapa?

Memang seharusnya ada keinginan untuk menikah, alamiah. Untuk menjaga hati, menjaga keturunan kita. Namun, memang tak mudah. Aduh, ilmunya sudah sampai tak ya? Tapi kapan ilmunya sampai kalau tak pernah mulai untuk mempelajari ilmunya?

Mungkin ada yang berpendapat

Buset dah udah mikirin nikah lagi,

artikelnya tentang nikah, ngebetnya?

Duh ah ngomonginnya nikah mulu

Plis deh, masih jauh kalee gua mah

Namun, teringat sebuah perkataan seorang teman

Walaupun nikah itu masih jauh ada di benak kita. Tetap saja harus dipikirkan. Jika suatu saat nikah itu menghampiri, kita siap menyambutnya.

Ya, bener tah. Kudu nyari ilmu dari sekarang. Supaya kapanpun nikah menyerang, saya siap berhadapan, haha.

apa yang harus dilakukan jika bertemu dengan seseorang yang sudah ada pembicaran menyinggung sedikit tapi, tentang nikah. Cool kan?

siap-siap silaturahim kemana-mana sekarang dengan pertanyaan itu. Apalagi besok mudik, bagaimana cara menghadapinya? deuh ah

Lembang, 9th Sept 2010

30 Ramadhan 1431 H

0:15 am