Itulah perjalanan yang saya tempuh setiap senin sampai jumat. Walaupun sekarang masih ada kuliah, namun haruslah terbiasa dengan jadwal sekolah. Tak bisa kompromi layaknya seorang mahasiswa kepada dosen. Di sini justru muridlah yang kompromi kepada kita.

OSPEK sebagai guru. Itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi saya sekarang. Mulai dari datang ke sekolah yang tak boleh telat, tak seperti mahasiswa yang masuk ke kelas dengan lempengnya datang terlambat (saya banget deh). Dari sinilah saya belajar datang tepat waktu dan sangat pagi.

Layaknya seorang mahasiswa baru atau siswa baru yang dikerjain oleh kakak kelasnya. Ini lebih tepatnya dihadapkan dengan murid yang secara tidak langsung memancing emosi dan kita yang harus meredamnya. Bukan berarti kita dikerjain oleh mereka.

Ibu”

“pergi dulu bu”

“ibu ini gimana?”

*sun tangan*

Itulah yang sedang dirasakan saat ini. Bukan lagi mahasiswa yang meraung-raung ke asdos saat praktikum. Bukan lagi mahasiswa yang bertanya kekanak-kanakan kepada dosen. Bukan lagi peserta didik yang dengan santainya menerima pelajaran.

MEMANG sudah waktunya. Memang sudah waktunya perasaan lelah datang. Perasaan khawatir datang. Perasaan merindukan banyak hal datang.

Merindukan teman-teman, suasana bersama mereka, merindukan banyak hal. Tapi, hem memang episode ini harus segera diakhiri untuk lanjut ke episode baru. Ya, mengorbankan semua kerinduan kampus untuk kembali kasih. Kepada mereka,mereka yang memberi.

Harus segera pergi dari dunia kampus dan beranjak ke dunia kerja. Siap? Ya itu yang harus dipersiapkan. Menyadari bukan lagi seorang yang bersikap layaknya ABG. Hari gini? Oh tak pantas pasti.

Merasa berat berada di tempat yang tak saya inginkan. Namun ya ini yang harus dinikmati beberapa bulan ke depan. Demi membereskan semuanya.

Ketika perasaan lelah, keluh, tak ingat ikhlas berbunyi sms dari isil😀

Beban setiap orang sudah ada takarannya masing-masing. Segala permasalahan dan lika-liku kehidupan sudah sesuai dengan proporsinya. Allah tiada pernah lalai pada hambaNya, hanya saja terkadang manusia kurang sabar menunggu saat pertolongan itu tiba

Namun, kebiasaan ini membuat saya lebih menghargai apa itu nikmat berkumpul dengan mereka, sahabat dan keluarga. Menghargai apa itu waktu. Menghargai orang yang saya hadapi.

semoga sekarang merupakan tahap akhir di lingkungan kampus bertitle S1

amin.

kehidupan yang berubah dan berbalik. Seperti mendaki lembah, lewati gunung (lebay)