Siapa bagi kita seorang lelaki hebat?

Punya jawaban, punya pandangan. Pun dengan lelaki hebat yang saya kagumi.

Dia hebat, sangat hebat.

Dia sakit, namun tak tampak dirinya sakit.

Dia sakit parah, namun masih bersikap optimis.

“Kau tak pergi ke dokter untuk menghancurkan benjolan di hati mu itu?”

“tidak, dokternya tak ada” itu jawabnya.

Bukan, bukan karena tak ada dokter. Namun dia tau bahwa benjolan itu akan terus tumbuh. Tak mampu melihat orang yang sangat disayang khawatir, menangis. Karena tau orang yang dia sayang masih belum mampu.

“Saya sayang kamu” menangis terisak-isak. Itulah kali kedua melihatnya menangis seperti itu, setelah pernah ia menangis, karena istrinya.

Kembali menangis terisak-isak. Mengapa? Karena ia sudah tak sanggup menahan sakit yang ia derita. Tak bisa bernafas. Siapapun pasti akan menangis melihatnya.

Saat semakin lama melemah pertahanan fisiknya, tidak dengan hatinya. Menyuruh orang untuk berinfaq banyak saat orang-orang malas mengaji. Marah, mengapa tak banyak yang mengaji. Walaupun sekarang dia susah untuk datang ke majelis ilmu.

Mengeluh? Tak pernah terlontar sedikit pun kata aduh.

Hingga akhirnya, dia berkata “Mudahkan segala urusan saya Ya Allah” .

Semua orang bercerita tentangnya.

Kamu tau keadaannya saat hari Lebaran sendiri di rumah? Dia terlihat seperti mengusap air mata. Dia sendiri, merelakan anak-anaknya untuk mudik bersama saudara yang lain

Kamu tau di saat orang berkumpul dengan yang lain dan semua sejenak berhenti bekerja, dia bekerja untuk mengusir kesendirian

kamu tau saat dia sakit, dia meminta terus untuk pergi menemui  anak-anaknya yang sendiri di rumah. Dia meminta untuk segera pulang

Kamu tau dokter bilang apa tentang penyakitnya? Sebenarnya penyakit ini dirasa 4 tahun yang lalu. Namun ia tak begitu merasakannya.

Kamu tau dokter bilang apa lagi? Dia seperti itu bisa jadi karena dia punya beban pikiran dan mental. Rasa sedih yang mendalam” Apa mungkin ia rasakan sejak istrinya meninggal?

Kamu tau dokter pernah marah-marah ke saya? Dia bilang seperti ini:

Heh kenapa kamu ga nemenin dia buat nemuin saya? Apa saya tega bilang kalo dia itu sakit parah. Kalo diibaratin, tubuhnya mungkin utuh, tapi di dalem tubuh dia udah kaya tubuh orang yang ke tabrak kereta!!”

“Dan kamu tau apa yang dia rasakan selama ini? Dia pendiam. Kalian pun diam. Padahal dia butuh kalian!”

Begitu hebatkan dia? Seorang menahan nangis. Seakan hidup sendiri. Anakpun seperti orang lain. Mengeluh tak pernah dilakukan kepada orang. Terlalu pendiam, iya. Itu mungkin karakter orang pendiam. Misteri, tapi dia begitu hanya. Hanya sulit berkata apa yang hangat untuk dikatakan, karena canggung terlanjur tertanam.