Siapa pun punya kegiatan. Pun itu hanya 1 atau 2 bahkan hanya tidur.

“Yuk kita pegi maen hari minggu teh.”

Hari minggu kapan?

“minggu sekarang”

Ga bisa,😦 harus kumpul bla bla bla.

“ya udah minggu depan aja teh ya”

Oke, saya aku sok sibuk, diri saya. Entah dengan dirimu, yang lainnya.

Oke, saya cape. Lelah dengan semua rutinitas ini. Hingga akhirnya membaca sebuah tulisan

Pertanyakan apakah perjuanganmu itu hanya untuk dirimu saja?

Saya Jawab, iya. Lalu mengapa harus mengeluh? Bukankah itu pilihanmu? Lelah untuk dirimu saja sudah banyak mengeluh, bagaimana jika harus berjuang untuk orang lain??

Bagaimana rasanya berjuang untuk orang lain? Entah terasa atau tidak. sepertinya tak terasa karena saking banyaknya semua perjuangan yang  “hanya untuk sendiri”. Mengikuti magang, lelah. mengikuti pelatihan, lelah. mengikuti kegiatan mengajar, lelah. Namun saya, entah dirimu merasa iya juga ya. Helloo, itu semua untuk saya. Mungkin HANYA saya.

Sok sibuk untuk diri sendiri, hingga banyak yang terlupa. Mereka, keluarga saya, adik saya, ternyata sedang menunggu. Menunggu ditawarkan bantuan. Toh ketika diminta bantuan, selalu menjawab “sedang mengerjakan tugas, jadi ga bisa bantu“. Menyedihkan bukan saya?

Memprioritaskan yang ini, yang benar saya kejar. Menunda bahkan mengabaikan yang lain. Namun sebenarnya inginlah semua seimbang. Namun..

Muncullah si egois. Menyandarkan diri. Hingga saya sadar banyak teman, keluarga, mungkin kamu di antaranya yang ditinggalkan sendiri.

Inilah tulisan yang sengeneh.