14 November 2010. Itulah hari yang di sangka tak menyangka. Yang akan diceritakan bagi anak mereka, pun cucu mereka.

“teteh, saya butuh sarannya sekarang juga!”

“masalah yang kemaren? kamu masih bingung?”

“iya, telepon saya sekarang ya. Sekarang!”

itulah sedikit kronologis percakapan yang cukup, heeeem tak biasa.😀

Ragu untuk bersama seseorang yang oleh ayahmu pilih. Ingin bersama dia, orang yang dianggap pantas.

Menangis, tak tahan.

Bingung, tak karuan.

tak biasa, yang menggebu.

itulah gambaran seseorang saat harus memilih hal yang tak ingin terjadi untuk dipilih.

Banyak hal yang saya pelajari dari sedikit kisah itu. Terlebih saat membaca sebuah note ini di FB.

Memilih dia untuk menjadi pendamping, bukan berarti Tuhan memilih dia pula. Sebuah keputusan yang membutuhkan mental kuat untuk memastikan itulah jalan yang saya pilih.

Memilih dia, telah mengenalnya jauh hari. Terpikatlah, dan muncul sebuah keputusan “Insya Allah kita serius dan dalam waktu sekian saya akan melamarmu.”

Entah siapa yang salah, apa yang salah, dan kapan tepatnya sebuah kesalahan muncul. Atau bahkan tak ada yang salah. Sebuah ucapan akan melamarmu menjadi sebuah perkataan sakit bagi keduanya. Orang tua sang gadis telah menerima lamaran dari pria lain. Pun sang anak istikharah dan memberikan keputusan “ya”. Menerima keputusan bersama dia, orang yang belum ia tau siapa.

Sebuah pertemuan pertama, sangat pertama di saat sehari sebelum pernikahannya. Sebelumnya, berhubungan sebatas tau di Facebook dan sekedar jarang menelepon. Dia di sana jauh. Bukan berarti mereka tak kenal sama sekali. Hanya sebatas mengenal dari orang tua yang saling mengenal. Belum sempat bertemu, bukan ganjalan.

Namun, ada rasa haru terlihat. Saat akad selesai terucap, keduanya bertemu kembali, menciumnya, dan bersandinglah mereka.

Itu sebagian kecil-kecil-kecil kisahnya.

Memilih,  memuja,  menyenanginya.Namun tetap, saya, kamu, mereka, dia harus menjaga hati ini, hati kita. Saat berpacaran, saat memutuskan untuk mengikat. Itu masih bukan jodoh.

Hingga teringat sebuah note tadi. Jangan khawatir tulang rusuk takkan tertukar. Walau “dipepereket” jika bukan jodohnya, ya kaburrr😀😀

Kisah pernikahan ini, sepertinya akan menjadi kisah menarik kelak. Dan berkata pada anak-anak mereka:

nak, kisah ibu dan ayahmu tak biasa lho!”😀

Sungguh tulisan yang sedikit gimana juga nulisnya. ceritanya mau diromantis-romantisin, tapi tak tau lah. Si aku cuma nulis se yang di otak si aku.