Mungkin ini hanya sebuah cerita diri yang tak berguna bagi yang lain. Biarlah, tapi rasanya mengikat apa yang dirasa dengan tulisan pun akan menjadi suatu cerita yang mampu dikenang.

Kamu tahu, bagaimana rasanya ingin bercerita bukan?

Pada makhluk pun pada Pencipta makhluk

Kini, tak mampu lagi saya bercerita pada makhluk, hidup.

Kebingungan, menilik sanubari, melihat kenyataan, merasakan desakan yang tak mendesak

Siapa yang tak pernah merasakan kebingungan?

Rasanya wajar, toh jika itu membuat kita kembali bahwa kekekalan dan keputusan terhebat biarlah menjadi hak perogratif Sang Maha Hebat

Wahai Sang Maha Pemilik Kebenaran, bukankah Kau takkan membiarkan hambaMu masuk kedalam pelita yang mati? Selama ia mencari mana sebuah yang benar itu.

Degup kencang kembali terasa. Sungguh terasa sangat.

Apa itu masuk dalam dorongan untuk mencari? Cari jawaban atas kebingungan.

Apa kebingungan ini termasuk cara agar saya berpikir keras, dalam?

Sungguh, ini termasuk dalam fase apa, Allah?

Saya takut, apa yang saya bingungkan itu.

Bermain nalar, pun hati ini menolak untuk mengiyakan apa yang diucapkan. Bingunglah yang ada.

Bermain perbandingan, pun hati ini juga tetap tak ingin melihat dua sisi kelemahannya. Bingunglah yang muncul

Hingga tertautlah doa, harap, penghambaan “”Tunjukkanlah jalan yang memang Kau anggap itu terbaik jua benar bagi hamba”

Biar Kebingungan ini menghantarkan saya pada keceriaan.😀