Pengalaman pertama mengajar sebagai profesi. Whaw, cukup menyenangkan. Dengan siswa yang welcome pun juga recet namun sejauh ini masih bisa dikendalikan.

Pendidikan. Tertarik dengan kalimat “Hidup,hidupkanlah pendidikan. Bukan hidup dari pendidikan”. Mengajar disebuah sekolah kejuruan. Kejuruan TKJ yang notabene baru dibuka di sekolah itu. Mengajar murid yang bisa dikatakan ga jenius jenius amat. Mengajar murid yang dari sekian puluh hanya 2-3 orang yang memiliki komputer. Mengajar di sebuah sekolah yang masih terlalu minim fasilitasnya. Anggaplah untuk masuk lab pun harus berebut dengan kelas-kelas lain. Mengajar berharap ada proyektor pun tak ada. Mengajar murid yang jangankan bisa menyebutkan pengertian database, membedakan Windows XP dan Windows 7 pun masih kecimpungan apa itu.

Bertanya satu-satu alasan mereka masuk SMK TKJ ini, menarik ada yang sepakat bahwa karena untuk masuk sekolah ini biayanya murah. Murah, itulah yang sebagian kalangan beralasan masuk salah satu sekolah. Berbanding tentunya dengan fasilitas yang ada. Miris, ada tentunya. Mahal ya sekolah itu. Mahal yang untuk menikmati sekolah yang layak dengan segala fasilitasnya ada.

Melihat itu, tentu rasa cemas, takut, dan semangat muncul dalam diri saya. Bagaimana tanggung jawab saya membimbing mereka saat pembelajaran, apakah mengerti? Takut. Bagaimana nasib mereka setelah lulus, tentu adakan andil saya terutama mengenai ilmu yang mereka dapat selama sekolah? Cemas. Akhirnya, dari awal pertemuan saya katakan untuk

tolong jaga semangat kalian”. “tak peduli kalian tak punya komputer di rumah, tak peduli kalian memiliki fasilitas yang masih kurang di sekolah, tak peduli kalian tak tahu bagaimana cara kirim email, yang penting kalian mau belajar. Tolong

Siap bu

Jadi cukup menarik dengan semua tingkah laku mereka, semangat mereka, ah senang saya mendengarnya.

Eh, ingat lagi “hidupkanlah pendidikan. Bukan hidup dari pendidikan”. Hayu murid-murid hidupkan pendidikan. *weits gaya

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Mengajar seceriaa mungkin😀