“Kisah cinta Ali pada Fatimah. Tentang keikhlasan Ali saat mengetahui Abu Bakar melamar Fatimah, serta tentang kelapangdadaan Ali saat harus mengetahui lamaran Umar kepada Fatimah. Namun toh kedua lamaran itu berakhir penolakan. Hingga majulah sang Ali, pemuda miskin namun sosok pemberani melamar Fatimah dan berakhir dengan “Ahlan wa sahlan”, gumam Rasulullah.”

Siapa yang tak pernah merasakan cinta. Mengagumi sesosok yang sering membuat pikiran tertuju padanya. Saat dia ada, mungkin hati berdecak kagum, namun ekspresi berdecak biasa. Di situlah bentuk pengendalian hingga memang terungkap jika kau siap untuk menjadi halal.

Galau. Sebuah kata yang muncul menjadi sebuah tren, dan tak disangka itulah kata yang mewakili saat hati dan pikiran sedang “kacau”. Pun dengan cinta. Tak sedikit seorang insan galau dengan cinta. Tak sedikit pula seseorang yang galau akan menunggu cinta itu sendiri.

Seseorang yang jatuh cinta karena dia ingin mengisi kehampaan yang ada dalam dirinya“, yang seperti itulah kira-kira kutipan dari Mario Teguh. Begitupun seseorang yang sedang menunggu, menunggu akan cinta sang pangeran datang.

Wanita mana yang tak luluh saat sosok yang dikaguminya menyatakan “menikahlah denganku” ? Namun, mana sosok pemberani itu? Sosok seorang Ali yang berani melamar Fatimah. Fatimah yang sejujurnya menginginkan Ali, apakah ia meminta Rasul untuk menyatukan mereka? Fatimah hanya diam, hingga bersatulah mereka tanpa adanya cacat pada cinta mereka. Namun masihkah ada sosok Fatimah, yang senantiasa menjaga perasaannya?

Saat mata jelalatan pada yang sesosok “yang disukai”, bagaimana dengan seseorang yang akan menjadi pasangan kita kelak? Apakah dia melakukan hal yang sama dengan kita?

Saat bermalas-malasan dalam penantian, bagaimana dengan dia? Apakah dia pun begitu?

Saat hati ini telah diisi oleh cinta serta kekaguman pada makhluk, apakah di hatinya pun ada orang lain?

Saat hampir sebagian perasaan telah tercurah pada yang lain, apakah dia pun begitu?

Oh, sungguh Rabbi, tak sanggup.

Jangan, janganlah biarkan hati ini terlunta-lunta. Penantian, biarlah hanya sekedar nama kondisi saja. Bukan sebagai aktifitas, apalagi pengacau pikiran. Penantian, semua bisa terjadi. Bahkan saat setelah dicap sebagai calon pasangan, belum tentu dialah jodohmu.

Rabbi, dalam penantian ini, biarkan hati selalu terpaut padaMu.

Rabbi, dalam penantian ini, jagalah diri ini.

Penantian, uji kekuatanmu dalam menjaga.

Penantian, uji kesabaranmu dalam berharap.

Penantian, uji keikhlasanmu dalam menerima.

Dalam penantian, semua bisa terjadi. Dalam penantian, tak ada yang pasti. Yang ada, sebait doa “Jagalah Hamba

Hati yang terjaga hanya bagi mereka yang menjaga dirinya.