Maju Bersama, Bukan Sendiri

Jika ada yang belum tahu apa itu program SM-3T, bisa dilihat di sini (blog saya) dan di sini (web dikti)

Waw sebelum keberangkatan ternyata mulai banyak statement yang kontra dengan program SM-3T ini. Statement itu ada di sini dan di sini. Saya sendiri ditempatkan di Aceh Timur yang mungkin tidak termasuk dalam statement yang disebutkan di atas.

Di sini saya ingin menyampaikan opini saya saja mengenai program SM-3T, titik. (In My Humble Opinion)

ini merupakan diskriminasi, masa guru kontrak dari jawa gajinya lebih besar sedangkan guru yang sudah mengabdi bertahun-tahun upahnya sikit kali.

Itu mungkin sekilas pernyataan dari beberapa pihak, namun sejujurnya saya tidak terpikir bahwa nanti ketika ditempatkan di sekolah-sekolah  saya akan menggeser banyak guru honorer di sana. Karena setahu saya yang dijelaskan pihak pejabat daerah mereka mengatakan kurang guru.

Kenapa harus dari putra putri jawa, di sini pun ada universitas pendidikan yang mencetak guru-guru. Kenapa harus dari Univ.Medan dan Univ.Semarang? Kenapa tidak memberdayakan putra daerah?

Sepertinya harus diluruskan terlebih dahulu, bahwa semua universitas dapat mengikuti program ini asal dari kependidikan. Contoh Unsyiah Aceh dapat ikut program ini dengan mendaftar ke LPTK penyelenggara seperti di Univ.Medan. Namun belum tentu juga ditempatkan di daerah asal, bisa saja ditempatkan di daerah lainnya.

Di sini kami tidak kekurangan guru, justru dengan datangnya kalian membuat kesenjangan sosial

Yang perlu ditekankan lagi bahwa dalam program ini, memang harus pas antara plotting guru yang akan ditempatkan dengan kekurangan sekolah. Karena saya pribadi yang nanti akan mengajar TIK, menurut pejabat daerah Aceh Timur “kami masih kekurangan”, tapi bukan hanya TIK. Bahkan ada guru SMA yang memang tamatan SMA. Itu terjadi karena hanya dia yang mau jadi guru di sana dan tak ada lagi orang.

Gaji mereka besar, honorer di sini Cuma 300-400rb, jauh amat antara yang dikontrak dan yang telah mengabdi

Saya pribadi tidak munafik jika gaji itu besar, namun sejujurnya saya sangat ingin mengetahui bagaimana cara mengajar TIK tanpa komputer dengan pengalaman yang nanti saya alami.

Bagaimana mungkin, seorang sarjana yang baru saja menyelesaikan kuliah langsung bisa mengajar secara baik. Pasti butuh waktu untuk adaptasi dan penyesuaian kultur kerja.

Lagi, tidak semua yang baru lulus yang mengikuti program ini. Bahkan hampir semua teman saya saja *contohnya, sudah mengajar sekitar 5 tahun. Jadi jangan pula mendiskreditkan sarjana muda baru lulus😀.

Jika butuh waktu adaptasi itu sudah tentu, namun saya pribadi berpikir bahwawaktu satu tahun sangat singkat, jadi bagaimanapun caranya harus usaha keras setidaknya meninggalkan jejak berkesan di daerah mengajar nanti. Sehingga tak berlama-lama mengatasnamakan “adaptasi” saat bekerja.

kehadiran guru dari pusat yang dikontrak selama satu tahun itu dipastkan tidak akan berbuat banyak. 

Ada perbedaan pesimis dan optimis bukan? Saya pribadi sangat ingin memberikan dampak baik yang terus berkelanjutan. Walaupun toh hanya setahun, bantulah saya untuk dapat berbuat banyak yang terbaik bagi daerah mengajar nanti.

Terlepas dari pembelaan atau apapun itu, tetap saya tekankan bahwa setiap rencana pasti ada resiko dan tak mungkin nyaris sempurna. Begitupun Program SM-3T ini, saya akui masih ada kekurangannya, toh ini adalah program angkatan 1. Semoga semua kritik merupakan kritik membangun.

Karena toh, Pendidikan bukanlah lahan untuk mencari “duit”. Terkesan idealis? Jika ya, berarti upahlah yang kita cari dari pendidikan.