Oke, alkisah suatu ketika saat murid-murid duduk perkelompok. Saya amati mereka, mana yang tak ikut bekerja. Ketika saya menunjuk satu kelompok, dan memilih si Romu *bukan nama sebenarnya* untuk membacakan hasil diskusinya. Dia terkesan marah kalau dilihat dari gelagat gerakannya. Saya heran mengapa dia marah, padahal dari tadi dia kalem-kalem aja.

Seluruh anak pun mengatakan “mongot ke mongot”nangis kamu nangis. Saya heran, dan terjawablah semua ketika dia mulai membaca. DIA TIDAK LANCAR MEMBACA. Layaknya anak kelas 2 SD yang sedang mendikte huruf demi huruf. Waw, pemandangan langka yang saya temukan di sebuah SMP tepatnya kelas 1. Hasil diskusi belum selesai, dia berkata “bu, saya tidak bisa”. “Tidak bisa apa?”. Serentak anak-anak berkata “baca buu,”. AKhirnya sayapun nyerah, dan teman sekelompoknya berkata “bu biar saya aja yang baca, dia gak lancar bu bacanya.” Sayapun tertunduk mengiyakan.

Sejak Saat itu saya memperhatikan Romu. Dia anak baik, namun sayang mengapa tak bisa membaca. Hingga suatu ketika, saya bertemu dengan guru Romus saat SD. Hal yang mencengangkan gurunya berkata “Kita sudah bingung mengajari dia, sebenernya dia baik tapi gak bisa apa-apa ya sudah akhirnya kami luluskan saja dia”.

Masih adakah itu di sekolah perkotaan? Entahlah, saya baru kali ini menemukan kasus seperti ini. Sayapun tidak pernah menyuruh dia menjawab pertanyaan, karena kebingungan yang mendera saya weits.

Hingga tibalah saat UKK (Ujian Kenaikan Kelas). Saya masuk mengawasi kelas di mana si Romu berada. Dia terlihat seperti telaten membaca dan menulis jawaban di kertasnya. Namun, setelah saya liat kertas jawaban dan soalnya:

pertanyaan nomor 1 : tuliskan hal apa saja yang diperlukan untuk berkemah?

jawaban si Romu         : menggambarkan sebuah sketsa lapangan seperti lapangan sebak bola.

mungkin dia melihat teman-teman yang lain menggambar, makanya di jawaban nomor 1 dia langsung menggambar. Padahal pertanyaan yang  jawabannya gambar lapangan adalah nomor.2 sayapun lupa lagi nomor berapa.

Kisah lain yang tak kalah mirisnya, ketika saya memeriksa seluruh hasil ulangan TIK, saya membaca jawabannya dan dengan aneh serta sedih campur kaget walaupun sebenarnya saya sudah tidak terlalu heran , lembar jawabannya semua adalah pertanyaan TIK yang ditulis ulang dengan sembarangan.

Dan kisah teman sebangkunya, dia tidak terlalu parah seperti si Romu. Keparahan itu saya dapati ketika memeriksa hasil ulangan dia. Pertama dia tidak mengisi lembar jawabannya. Ya saya pikir karena dia jarang masuk makanya dia tidak tahu jawabannya. Namun saya kaget ketika memeriksa hasil UKK TIK nya. Ilustrasinya seperti ini:

pertanyaan TIK ada 10, tapi dia menyatukan semua kalimat jawabannya menjadi satu kesatuan tanpa titik tanpa koma. Jawabannya kalian tahu seperti apa? Tak ada arti, hanya sebatas kata asal yang disatukan. Misal, pertanyaan nomor.1 “sebutkan peranan alat TIK dalam bidang tenaga kerja” jawabannya adalah: peralatan alat TIK tenagakerja adalah nafkah saya bekerja ayah kayu dicari sehingga ketika tak ada tenaga oleh karena mencari gula.

Waw, sebenarnya ini adalah tugas saya. Walaupun toh saya guru TIK, tapi saya guru kan?

Miris bukan? Tapi walaupun toh mereka seperti itu, mereka sangat sopan terhadap siapapun. Akhirnya diputuskan si Romu akan mendapatkan les tambahan untuk membaca dan menulis.

Apa pendapatmu? Saya hanya bisa tertegun dan hanya bisa ikut membimbing dia sebisa saya. Semoga suatu saat dia mampu membaca dan menulis dengan lancar.