Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Siapa yang merasa menjadi pendidik itu merupakan hal yang mudah biasa-biasa saja? Sungguh bukanlah hal yang mudah yang hanya ditempuh oleh sekolah kependidikan selama 4 tahun untuk mempelajari pendidikan atau kependidikan. Pendidik yang mantap bukanlah  dia yang dulu selalu mendapatkan nilai mantap di mata kuliah pendidikan. Pendidik yang hebat bukanlah dia yang hebat mengerjakan skripsi tentang pendidikan dan berakhir cumlaude.

Akhirnya saya mulai merasakan, bahwa pendidik yang keren adalah pendidik yang mampu menjelaskan materi sesederhana mungkin namun maknanya tak kalah dengan gaya bahasa buku profesional. Itu saja? Tidak saudara-saudara. Pendidik mantap adalah dia yang mampu mengajarkan anaknya “kejujuran itu nilai paling atas mamen  nak”. Satu lagi, pedidik yang mantap adalah ia yang kreatif.

Itulah yang sekarang saya sangat sangat berusaha terapkan di tempat istimewa dan murid yang tak kalah istimewanya pula. Sebuah sekolah terpencil yang untuk masuknya pun seakan-akan harus melewati hutan yang dibelah dua kemudian dijadikan jalan aspal berlubang. Tak lupa murid-murid spesial yang ketika melihat saya di luar sekolah menganggap bahwa saya teman sebayanya hingga tak segan menggoda saya, GURUNYA SENDIRI.

saya adalah guru komputer (TIK) yang dikontrak selama setahun untuk mengajar di sekolah itu, di Aceh Timur. Saya pikir setidaknya ada 2-3 komputer yang dapat dijadikan media belajar. Masuk lab dan belajar, tapi….

Pertama, saya masuk ke kelas 3 SMP tepat semester 2. Secara notabene, mereka telah belajar TIK 2½ tahun. Pikiran saya setidaknya mereka pasti pernah memegang perangkat komputer, atau bahkan sekedar tahu nama dan tahu bentuk. Namun….

Anak-anak kalian kan sudah belajar TIK cukup lama, jadi tahun kan perangkat komputer apa saja? Nah kalo keyboard apa?

Tiba-tiba ada siswa yang nyeletuk, “keyboard adalah orang yang banyak terus nyanyi ke atas panggung yang biasanya ada pas kawinan buu”

Waw, jawaban yang buat kaget, lucu, sekaligus miris. Namun tak heranlah jawaban mereka seperti itu, karena mereka menjawab sesuai dengan apa yang mereka lihat dan rasakan. Istilah keyboard lebih populer untuk istilah organ tunggal kalau di sini. Sedangkan keyboard komputer sendiri… mereka tak pernah memegangnya.

Nak, itu betul kalau di pelajaran seni budaya mungkin ya, tapi kalau di pelajaran TIK keyboard itu bukan itu artinya

Jadi kibot¹ Keyboard itu apa bu?

Kemudian saya tunjukkan laptop dan menunjuk keyboardnya kepada mereka.

Oh jadi kibot itu buat ngetik ya buu“.

Akhirnya mereka tahu juga.

Tak sampai disitu, minggu esoknya saya ajak mereka mengetik. Perkiraan saya meleset, saya kira mereka akan sanggup mengetik satu kalimat dengan lumayan cepat. Ternyata untuk satu kata saja kita mampu jungkir balik dulu mungkin.

Mereka baris perkelompok dan mengetik kata yang telah saya siapkan. Dan masalah baru muncul, mereka menekan tombol seperti menekan mesin tik. “eh jangan kenceng-kenceng, biasa aja nekennya ini bukan mesin tik anak-anak“. dan merekapun berkata, “ya buuuu” dengan logat khas gayo²nya.

Kalian tahu ada rasa senang ketika melihat mereka sorak gembira karena telah berhasil mengetik walau satu kata. Senyuman mereka puas dan ingin mencoba lagi. Tapi sayang, satu laptop ini untuk dicoba oleh 32 siswa lainnya dalam waktu 2 jam pelajaran.

Tak sampai permasalahan keyboard, mouse pun begitu. pikiran saya meleset lagi ketika saya kira anak-anak mampu memegang mouse dengan santai dan biasa saja. Ternyata, jangan heran jika mouse menjadi basah karena tangan mereka berkeringat dingin dan gemetar. Mereka seperti memegang sesuatu dengan jijik saat memegang mouse. Memegangnya hanya dengan jari tengah dan ibu jari dan mengkliknya hanya dengan menyentuh mouse dengan telunjuk tanpa dipegang dengan jari lain mousenya. Akhirnya saya ajarkan cara memegang mouse dan melatih mereka dengan bermain games tembak-tembakan. Ada anak yang ketakutan tidak mau pegang karena takut rusak komputernya.

Sebetulnya masih sangat banyak lagi kisah belajar komputer tanpa komputer. Mulai dari memberikan gambaran imajinasi bagaimana cara kerja internet tanpa adanya internet di daerah itu, yang akhirnya saya gunakan simulasi saja. Jangankan internet, sinyal telepon dan sms saja susahnya seperti mencari anak ayam untuk masuk kandang😀. Dan juga mengajarkan apa itu sinyal alat komunikasi hanya dengan telepon kaleng beserta beberapa jenis utas tali. Yang akhirnya nanti mereka bandingkan tali mana yang menghasilkan suara paling keras.

Dan lagi saya berpikir, jadi tak ada gunanya selama ini membuat media secanggih dan semenarik apapun jika di sanapun tak ada komputer. Media pembelajaran berbasis internet lah, di sana? be tanyong³ jangan ditanya. Di perkuliahan pun saya diajarkan mengembangkan RPP, Silabus, harus sesuai dengan ketetapan yang telah ditentukan pemerintah pusatlah inilah itulah. Tapi di sana? Jangan kaget jika menemukan siswa yang membaca dan menulisnya pun masih tidak lancar.

Saya baru berpikir mengapa di perkuliahan tidak diajarkan mengembangkan media dan perangkat pembelajaran di tempat yang “istimewa”, tempat yang untuk pergi ke sekolahpun mungkin kita tidak bisa menggunakan sepatu untuk melewati jalannya. Muncul inovasi media yang canggih, berlomba-lomba menciptakannya. Tapi mereka di sana, hanya tahu mereka ketinggalan. Saya yakin pasti bukan hanya di daerah saya mengajar saja yang mengalami ketertinggalan teknologi dalam pendidikan.

“Jadi Kibot itu apa bu?” itulah satu kalimat bukti ketertinggalan mereka.


¹mereka menulis perangkat komputer itu adalah: kibot(ini adalah keyboard), mos (mouse) dan hampir semuanya menulis seperti itu.
²Gayo adalah nama suku yang berada di Aceh, namun Aceh dan Gayo merupakan suku dan bahasa yang sangat berbeda. Suku Gayo tak mau disebut orang Aceh
³be tanyong itu adalah bahasa Aceh, artinya jangan ditanya.