Pengalaman di Aceh (SM-3T) sana memang sungguh fantastis! luar biasa! Spektakuler! Sebenarnya, saya bukanlah tipe orang yang suka melo-melo kalo berpisah dengan orang yang tak terlalu dikenal. Tapi ini, kali ini perpisahan yang sangaat membuat saya sedih. Terutama, sedih karena dia sedih.

Baik, alkisah ketika saya masuk ke kelas VIII satu. Ada satu siswa yang tidak terlalu saya suka, awalnya. Dia ituu, gimana ya? Suka agak berbicara sedikit “sok” menggunakan bahasa Gayonya atau dari gelagat mimik wajah yang membuat saya “ih ini anak gile bener sombongnya”. Saya berpikir, mungkin dia ada perasaan sedikit meremehkan saya. Toh saya baru masuk, dan jadilah guru baru bagi dia. Beberapa pertemuan, dia masih begitu. Tapi lama kelamaan, saya mulai melihat perubahannya. Mungkin sudah mulai merasa nyaman dengan saya, mungkin ya mungkin. Kan dia yang merasakan sebenernya.

Ya, dialah muridku. Sariana Julista namanya. Hingga saya menemukan sesuatu yang berbeda darinya. Sebuah keyakinan, “Saya Bisa Bu” dan dia berani. Saat akan mengikuti lomba pidato Bahasa Inggris, saya ditunjuk untuk melatih Sariana (dialah peserta lombanya) karena guru bahasa Inggris aslinya sedang tidak ada. Dari situ saya ajarkan cara membacanya, intonasinya, gerakan, dan mimik wajah. Dua kali latihan dia tidak ada masalah. Namun, ketika dipanggil untuk latihan lagi, dia..

“bu, saya gak sanggup bu”

“kenapa?”

“ya gak bisa aja bu, apalagi harus hapal ini semua”

“kamu bisa Sariana”

“enggak bu”, dengan wajah yang tidak PD dan tersenyum lesu.

“kamu bisa, gampang ko ini. ya?”

“emmm, gimana ya bu?”

“oke kalo kamu gak sanggup, siapa menurutmu yang sanggup?”

“Rasidin bu”  Pas di tes, Rasidinpun lebih tidak bisa lagi dibanding Sariana.

“tuh Sariana, dia gak bisa. Kamu bisa Sariana. Pasti bisa. Ya, mau kan ngelanjutin lomba ini?”

“emm, ya udah buu.”

Dan, akhirnya saya tahu dari ibunya bahwa dia belajar begitu sungguh-sungguh menghapal dan mempraktekkan pidato itu di rumah. Ibunya berkata “kamu gak akan bisa ngapalin bahasa Inggris itu”. Sariana menjawab, “gak mak, kata bu Ijah saya bisa ngapalin ini semua” .

Begitulah tutur ibunya Sariana. Beberapa hari sebelum pertandingan, dia datang ke kos-kosan saya dan berlatih setiap hari. Perkembangan yang cukup hebat, menurut saya.

Waktu Lomba Pidato bahasa Inggris

Pas perlombaan, dia begitu hebat, tidak grogi, brilian lah pokoknya. Saya pinjami dia jas, dan waw dia tampak lebih kereen! Ya walaupun tidak menang.😀

Saya akui dia memang pandai dalam berbicara, dalam intonasi, keberanian, rajin, dan berkarya.

Dan, saat acara perpisahan saya dengan sekolah. Dialah yang menjadi MC. Salah satu guru melihat dia mulai berkaca-kaca setiap melihat saya. Padahal acara belum dimulai. Selama menjadi MC, dia selalu menghapus airmatanya.

Nangis Saat jadi MC :’)

Puncaknya saat dia membacakan puisi indah untuk saya. Dari awal sampai terakhir, dia menangis! Terisak-isak! Sayapun tak sanggup dan pergi dari jajaran guru, menjauh dari menatap Sariana.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=0ZAvXxJA1IM&feature=youtu.be]

*makasih untuk Nanik yang telah mengambil video ini di saat saya sedang nangis gogoakan di dalam😀

Dalam benak saya, mengapa Sariana begitu terpukul dan menangis sebegitunya. Akhirnya, saya tahu dari Ibunya yang menangis datang ke kos-kosan. Ibunya memeluk saya dan mengucapkan banyak terimakasih telah mengajar Sariana. Ibunya pun bertutur…

“bu, makasih udah ngajarin sariana selama ini. dia dari kemarin nangis terus. Bahkan hampir ga mau makan. Karena gak tega saya jelek-jelekin ibu, maaf ya bu ini biar Sariana gak begitu sedih. Tapi di malah bilang ‘gak, bu Ijah tuh baik mak. Saya tahu banyak dari dia. Dia baik sama aku mak.’ . Saya pun heran, baru pertama kali ini dia sedih gara-gara ditinggal guru, dari SD. Padahal dia orangnya suka ngelawan, cuek, tapi ini dia bener-bener sedih. Katanya dia gak mau lagi deket-deket ama guru kaya gini, takut sedih lagi.”

Itulah ucapan yang takkan pernah Ibu lupakan darimu, Sariana. Ucapan itu udah nusuk nanclebke Ibu. Ibu awalnya tidak terlalu sedih pisah denganmu, Sariana. Tapi ternyata salah, kamulah salah satu yang membuat susah paheeut pindah dari SMP N 1 Lokop ini😀. Ibu tunggu kamu di sini, di Bandung. Atau di tempat lain yang lebih Indah dan wow hebat.

Semoga suatu saat kamu membaca tulisan ini. My Unpredictable, My Beloved, My Nice, My Smart Student. Sariana Julista.

Cheers Ana !

Jaga kerendahhatianmu ya Ana! Capai juga tuh cita-cita kamu yang ingin jadi Pengacara! Oya maap SMS pertama dari Ana waktu itu tidak dibalas, HP As nya gak Ibu bawa😀 Seceria Mungkin Anaa!