SAM_3297

Wahai bandit menggemaskan hingga mau saya remas saja kalian, tahu tidak? Seandainya ibu masih ada di sekolah kalian, Ibu sudah otomatis tidak akan mengajar kalian TIK lagi. Kata pemerintah, mau diintegrasikan dengan matpel lain. Jadi, kita tidak akan pernah belajar sejarah komputer yang ajegile lagi, tidak akan pernah belajar mengetik lagi, tidak akan pernah maen games lagi, tidak akan pernah menggambar di easy mouse pen lagi. Ah tidak akan lagi pokoknya.

Menanggapi masalah kurikulum 2013. Iya, banyak yang pro dan kontra(k). Saya termasuk yang kontra. Tak naif, ya saya merasa dirugikan sebagai seorang guru TIK.

 

Baik terlepas dari ke-kontra-an saya, saya ingin menyampaikan protes tertulis untuk Bapak dan Ibu “penyukses” kurikulum 2013. Entahlah ya, apakah mereka akan baca artikel ini atau tidak. Bermodalkan pengalaman yang minim mengajar di daerah terpencil, saya ingin menanggapi secara serius yo mameeeen masalah  kurikulum ini.

Wahai Si Kurikulum 2013. Kamu tahu, sekolah di Indonesia ini terlalu beragam serta “plural” fasilitas. Jangankan kurikulum 2013 ini yang berbasis TIK, kurikulum KTSP saja masih belum diterapkan sepenuhnya di setiap sekolah. Mereka hanya ber”title”  saja KTSP, tapi nyatanya prakteknya sama dengan kurikulum sewaktu saya SD.

Wahai Si Kur2013. Kamu yakin, bahwa setiap pelajaran akan berbasis TIK?Kamu tahu keadaan guru di daerah terpencil? Bahkan untuk memegang mouse saja mereka masih kebingungan, wahai aduhai.

Jangankan untuk menjalankan kurikulum berbasis TIK, masih banyak sekolah yang listriknya masih belum mumpuni.

Jangankan untuk menjalankan kurikulum berbasis TIK, siswanya saja masih susah untuk memegang mouse, mengetik, dan masih menganggap bermain komputer adalah hal yang megah  tur mewah. Boro-boro main komputer, lihat jua memegangnya pun jarangnya minta ampun (kepada  Allah).

Kurikulum itu memang cocok jika diterapkan di sekolah yang fasilitasnya amboi sekali. Namun apakah oh apakah yang akan terjadi jika diterapkan di SMP Negeri 1 Lokop tempat saya mengajar di Daerah Istimewa Aceh yang memang tempat dan siswanya pun “istimewa”?

Masih banyak guru yang gaptek, siswanya apalagi.

Wahai para pemuka Kur2013, tahu tidak? Idealnya setiap kurikulum terlaksana. Dan idealnya kurikulum yang dirancang di lembar kertas, terlaksana pula di lapangan. Tapi wahai oh wahai, acapkali sekolah keteteran untuk melaksanakannya. Akhirnya di kertas iya terlaksana, di lapangan? Oo meen. Tidak ideal jadinya.

Nah, karena saya guru TIK, beberapa hal yang ingin saya pertanyakan itu, kok materi di SMP dengan SMA hampir sama ya? Seharusnya ini yang diperbaiki.

Nah, karena saya pernah dan akan menjadi guru, sebenarnya yang harus ditonjolkan idealisme dan realismenya itu guru dulu, kalau kata aku. Jika guru kompeten, kurikulum sedemikian rupa aduh sulitnya pun masih bisa dihandle.

 Ibarat, traktor yang canggih wedan. Dijalankan oleh pengguna “blank” sama sekali tentang itu traktor. Akhirnya, oh traktor itu didiamkan berkarat. Si pengguna menggunakan kerbau lagi. Besoknya, dikira tidak efisien untuk digunakan itu traktor. Dibuat lebih canggihlah sebuah traktor. Eh, si pengguna makin bingung dan kembali ke kerbau.  Jadi yang salah pengguna, traktor, yang buat traktor,atau kerbau?😀. Eh, pengusung untuk buat traktor serta penilai berjalannya traktor kok tidak terlihat? Ups!

Etseuh dah ah. Berkomentar seceria mungkin saja😀