Begitu lama tak menulis di blog, hingga sungguh. Sungguh serasa ingin segera “diborojolkan”.

Kalimat yang layak untuk membuka artikel ini memang “O, Ya Rabb terimakasih. Terimakasih atas kesederhanaan kisah hidup ini yang justru mengandung  keagungan makna dengan keluhuran sahaja

Menikah adalah satu keinginan yang sungguh ingin saya capai setelah kuliah selesai. Sebatas keinginan namun tak mampu untuk segera mengatakan, “ya saya siap”. Tahukah? Dulu saya berkeinginan untuk memiliki sesosok pria berkacamata dengan senyum yang teduh. Ah tapi itu hanya saat kuliah saja.

Dan, keinginan itu tercapai. Setelah satu tahun saya menikmati kisah lain di Aceh sana. Menikah dengan sosok yang tak ku kenal seutuhnya bagaimana dia, bagaimana wajahnya, bagaimana keadaannya, dan bagaimana perasaannya  terhadap saya. Hanya sepintas wajah dan segudang cerita tentangnya dari kerabatnya.

Entah, apa alasan saya tiba-tiba mengatakan iya untuknya. Semua murni atas kemantapan hati dari sholat Istikharah. Secara terus menerus, hingga kebulatan tekad tiba-tiba muncul. Bagaimana dengannya? Sungguh juga saya tak tahu tentang kisah awalnya. Apakah jawaban “iya” saya membuatnya senang, biasa saja, atau bahkan menyiksanya.

Inilah awal kisah kami, dari sinilah saya belajar begitu banyak tentang cinta karenaMu. Engkau yang menumbuhkan cinta, tak sulit bagimu untuk membolak-balikkan hati hambamu. Saya belajar bahwa romantis itu tak melulu menuntut atau dituntut. Romatis itu dibangun dan membangun. Romantis itu tak melulu perkataan namun juga perilaku. Rumah tangga itu dibangun dan membangun. Bukan mengalir begitu saja.

Rasa syukur dan terimakasih terkadang sering muncul karena saya membandingkan keadaan yang sebelumnya buruk hingga membaik. Ya, memang. Tidak munafik rasa sakit sempat singgah, menetap, bertahap, hingga klimaks (bagi saya). Tak pelak, rasa  sakit ini membuat sosok yang katanya baik-baik saja menangis tanpa sadar. Bertanya-tanya “mengapa begini? ko begitu”. Ya, kenyataan yang sulit sebenarnya untuk saya terima dengan hati yang baik-baik saja. Semakin tahu, semakin sakit, bertumpuk, sakit lagi. Dan inilah ego saya, menyalahkan diri sendiri atas semua.

Allah  takkan menjerumuskan hambaNya, itu janjiNya. Perlahan, rasa sayang yang dibangun mengalahkan ego saya. Perlahan, rasa nyaman serta tenang mulai terasa. Kemudian terus bertambah, hingga yang terucap “O Allah, keren banget ya! Allah Keren”. Allah ngasih dulu rasa sakit biar rasa bahagia ini makin terasa kali ya.😀

Rasa nyaman itu bertambah ketika pergi bersama muhrim kita. Rasa nyaman itu bertambah ketika saling menasehati dalam kebaikan. Rasa nyaman itu bertambah ketika saling menenangkan saat suasana hati tak karuan.

Bahagia itu bertambah ketika salat berjamaah dan mengaji bersama. Bahagia itu bertambah ketika membicarakan masa depan kami. Bahagia itu bertambah ketika membicarakan dede bayi. Bahagia itu bertambah ketika bersenda gurau entah dalam hal apapun itu.😀

Baru saja kisah dimulai, harus sejenak terpisah. Ya, saya harap ini hanya sejenak. Dan tahu, dialah laki-laki ketiga yang saya tangisi begitu sesak dan sangat berat karena perpisahan. Pertama ayah, kedua adik kecil, dan ketiga “dia”.

Tak sabar rasanya untuk kembali bercengkrama, memasak entah apa-apa, dan ketika terbangun wajahnya yang terlihat.

Sedikit, kisah instan saya yang belum seutuhnya menggambarkan indahnya menikah, ibadah cinta karena Allah. Karena kisah ini terlampau indah, hanya kalimat “fabiayyi aalaairabbikumaa tukadzziban” yang mampu mensketsakannya😀

Kami, memiliki kekurangan satu sama lain dan tidak sempurna. Justru karena adanya kekurangan itu mampu saling melengkapi, hingga membuatnya sempurna. Satu hal yang pasti, hati yang terjaga hanya bagi mereka yang menjaga dirinya.

Dia memang tidak berkacamata. Yasudah yang pasti, dialah sosok laki-laki pertama yang saya peluk dengan rasa.😀

first one