Bismillah, semoga semua yang saya tulis sekarang berdasarkan fakta. Etdah, soalnya di media-media TV juga sudah sulit membedakan mana yang salah dan bener.

Saya sedang menghadiri sebuah acara mirip motivasi gitu di daerah Padang. Dan saya sangat tertarik dengan fakta yang diungkapkan oleh Narasumbernya. Saya lupa siapa namanya, pokoknya Sarjana Hukum, pake kacamata, badan agak berisi.

Ketika dia sedang ada acara di Jakarta, kemudian beliau bertemu dengan pimpinan FPI (Habib Rizieq), beliau menanyakan beberapa hal:

1. Ustadz, kenapa kok anggota FPI itu masih aja banyak yang ngerokok?

Mereka itu semua mantan narapidana semua yang udah pada tobat. 

Yang tentu tidak semudah itu mengharuskan mereka tiba-tiba berhenti merokok kan? Setiap orang pasti bertahap dalam perubahan.

2. Terus kenapa kok FPI itu brutal bermain kasar?

Itu semua media yang salah. Media selalu menyorot tanpa disebutkan alasan kami menyerang. Sebelum kami menghancurkan tempat judi yang akan dituju, kami menelepon dulu ke polisi “pak disana ada tempat judi” kemudian tidak direspon. Kami menelepon lagi, kemudian tidak direspon lagi. Berkali-kali tidak direspon ya sudah kami langsung hancurkan.

Jika kita pikir dengan logika, sebagai umat muslim bukankah ketika ada maksiat harus kita lawan dengan tangan kita? Jika tidak mampu dengan ucapan? dan selemah-lemahnya iman dalah dengan hanya menolak melalui hati saja? Jadi apakah salah yang dilakukan FPI? Padahal mereka sudah sesuai dengan prosedurnya, menelepon yang berwajib terlebih  dahulu. Namun? begitulah.

Ustadz Habib Rizieq: mereka dahulu ditangkap karena berbuat maksiat. Dan mereka akan lebih berani ditangkap jika karena menghancurkan maksiat itu sendiri.

Waw, ternyata seperti itulah FPI. Terkesan brutal namun sebenarnya itulah sepenggal kisah dibaliknya. Dibalik kisah media yang melulu dan melulu menyoroti saat brutalnya. Hingga tak heran saya adalah salah satu korban menjadi antipati kepada FPI. Setelah mendengarkan percakapan singkat tadi betul-betul memutarbalikkan mindset saya tah. Ini diriku, bagaimana denganmu?😀

Sipo, intinya berhati-hati dalam nemerima informasi/berita. Begitupun mungkin dari saya, yatta!😀