Memiliki pengalaman buruk mengenai komunikasi membuat saya ketakutan saat berada dalam sebuah hubungan. Baik itu hubungan dengan teman, rekan kerja, dan utamanya dalam rumah tangga.

Komunikasi yang sangat buruk dalam sebuah keluarga. Itu yang saya rasakan terutama saat masa-masa kanak-kanak sampai remaja. Sebuah komunikasi yang seharusnya tidak layak itu terjadi antara ayah dan anak (salah satu contohnya). Bayangkan, saya lebih baik memilih untuk tidak berpapasan dengan ayah di jalan. Mengapa? Karena saya tak tahu harus berkata apa jika bertemu.

Rumah Tangga. Ya, itu salah satu tempat yang sensitif dengan masalah komunasi. Banyak masalah (katanya) yang muncul karena komunikasi yang tidak “baik”. Ini salah satu yang harus saya pelajari dan perhatikan. Komunikasi dalam sebuah rumah tangga. Tidak dipungkiri, setiap orang  pasti pernah mengalami miss communication yang berujung pertengkaran atau “riak-riak kecil” dalam sebuah rumah tangga.

Berkaca dari pengalaman saya sendiri, komunikasi antara anak dan orangtua. Saya jadi berpikir, jika tidak ingin anak saya mengalami hal  yang sama seperti saya, komunikasi yang pertama kali harus terjalin dengan baik adalah komunikasi antara kedua orangtuanya. Ya, saya dan suami saya.

Dalam banyak kasus, komunikasi lebih didominasi dalam betuk verbal, kata-kata. Konon berdasar penelitian di Amerika, mengutip M Fauzil Adhim,  waktu manusia di luar waktu tidur 70% digunakan untuk berkata-kata. Artinya bila dia mampu membangun kata-kata yang baik, dia telah menggunakan 70% waktunya untuk membangun kebaikan. Sebaliknya bila 70% itu digunakan untuk hal-hal yang jelek jelas dia sedang membuat kubangan untuk kegagalannya sendiri.

Kompas, 13 July 2013

Jika dari penelitian tersebut dikatakan bahwa komunikasi itu didominasi oleh verbal/kata-kata, berarti komunikasi memang seharusnya dibangun lebih banyak dengan verbal. Non sense jadinya jika komunikasi yang ada hanya dibangun oleh saling percaya saja, atau “tak apa saya tak mengatakan bahwa saya peduli, yang penting hati dan pikiran saya peduli, jadi tak perlu menanyakan kabar ataupun berkomunikasi“. Nah, memang orang yang dipedulikan tahu hati dan pikiran kita? Malah bukannya nantinya akan menimbulkan prasangka buruk. Niat kita seperti itu, tapi orang yang nangkap  maksudnya malah mengatakan “dia tidak peduli”

Masih bersangkutan dengan penelitian di atas. 70% digunakan untuk berkata-kata. Jika dimanfaatkan dengan baik, berarti membangun  kebaikan. Jika sebaliknya, ya hasilnya kegagalan komunikasi. Kalau ini kita ibaratkan misalnya, jika dalam kehidupan sehari-hari jarang berkomunikasi atau ngobrol atau bercakap-cakaplah dengan teman, rasanya kita sendiri tidak memiliki rasa akrab bukan? Merasa segan untuk dekat. Jika seperti ini, ya susah juga untuk curhat, misalnya. Namun bagaimana dalam kehidupan rumah tangga yang notabene hubungannya jauh lebih dari sekedar teman? Ya komunikasinya pun harus lebih dekat lagi dibandingkan teman, bukan?

Terkadang kita menganggap banyak cerita/hal sepele yang tak perlu dikomunikasikan/dibicarakan. Hal yang dikomunikasikannya mungkin sepele, tapi “komunikasi”nya itu sendiri bukan hal sepele. Jika kita lebih sreg/blak-blakan bercerita atau bercanda dengan teman daripada dengan suami/istri, apakah ada yang salah dengan relasi suami istri? Sepertinya iya.

Jadi inti dari tulisan ini apa? Hehe, sayapun tak tahu. Hanya mengungkapkan masalah-masalah komunikasi. Tapi semoga solusinya pun ada walaupun tersirat😛 . Kalau saya sih untuk pelajaran sendiri mengenai komunikasi agar kelak ketika telah memiliki anak-anak, mereka melihat komunikasi orangtuanya yang harmonis dan merekapun mengikuti keharmonisan tersebut.

Laki-laki merasa ingin dihargai pasangannya, sedangkan wanita merasa ingin dibutuhkan pasangannya.

-Bu Rosa

Dari kalimat itu, saya sih beranggapan bahwa “merasa dihargai dan merasa dibutuhkan ” itu didapat dari komunikasi kedua belah pihak.

Yap, berkomunikasi itu penting berarti kan. Ayo komunikasi seceria mungkin, lho😀