20140926_222211

Intasya Zafira Danesh

Akhirnya, masa penantian yang terdapat dalam artikel sebelumnya terjawab juga. My Litle Danesh lahir! September, 26th 2014.

20 September 2014

Hari Perkiraan Lahir kehamilan saya adalah 20 September 2014, rasa cemas mulai berasa begitu kuat kuat kuat.

22 September 2014

Hingga, tepat 22 September 2014, saya periksakan ke bidan kemudian di USG dan hasilnya air ketuban sudah sangat sedikit. Bidan menyarankan, esok hari untuk pergi ke Dokter Obgyn di klinik terdekat.

23 September 2014 Pergi periksa ke dokter Obgyn dimulai dengan pemeriksaan NST (keadaan janin) dan sorenya konsultasi dengan dokternya. Kalian tahu dokter berkata apa? “Air ketuban sudah sedikit, ini harus segera dilahirkan hari ini juga atau besok pagi. Akan dilakukan terlebih dahulu melakukan tindakan induksi“. Rasa takut dan syok sudah campur aduk lah. Keinginan persalinan normal seakan-akan jauh dari bayangan. bayang-bayang induksi sudah begitu menyeramkan sakitnya. Apalagi tindakan terakhir, caesar. Pada malam yang sama saya konsultasikan kepada bidan Yayat, apa yang harus saya lakukan. Akhirnya saya dirujuk untuk diperiksa oleh dokter Obgyn lain di RS. Salamun. Kata bidannya, setiap dokter biasanya memiliki keputusan tersendiri. Well , finally keesokan harinya saya pergi ke dokter Obgyn di sana. Dan saya menelepon suami saya untuk  segera datang ke Bandung .

24 September 2014

Sampailah pada antrian saya untuk di periksa Dokter Totong. Dokternya enak, kocak, dan hasilnya pun membuat sedikit lega. Setelah pemeriksaan pembukaan serviks dan USG, dokternya langsung bilang, “ah, ini mah udah bagus dikit lagi nih, mau normal mau sesar?”. Tentu saya bilang mau normal, akhirnya si dokter memberikan obat perangsang terlebih dahulu. Cess, menuju sore sepertinya reaksi obat sudah mulai berasa, mulai agak sakit perut bagian bawah dan muncul bercak darah hitam. Perasaan sakit sudah mulai berasa namun masih dapat ditahan. Hingga pukul 11 malam-an lah rasa mules celekit-celekit mulai terasa.

25 September 2014

pukul 01.30 pagi saya bangunkan suami dan pergi ke bidan Yayat, diperiksa ternyata masih pembukaan 1. SubhanAllaah, sakitnya sudah luar biasa seperti itu masih pembukaan 1. Tapi tak apa setidaknya harapan persalinan normal masih bisa.

pukul 06.00 pagi, masih pembukaan 1. Pulang dulu.

Pukul 10.00 balik lagi masih pembukaan satu. Pulang dulu.

pukul 2 siang masih pembukaan 1. Ya Allaaah sakitnya sudah begitu meringis, mungkin gara-gara pakai perangsang mulesnya, makanya berbeda dengan pembukaan 1 yang alami.

pukul 6 malam, masih pembukaan 1. Akhirnya Bidan Yayat merujuk saya ke RS. Salamun.

pukul 7 malam, pergi ke RS. Salamun dan air ketuban pun pecah di jalan. Sesampainya di sana, ruangan penuh dan mau tidak mau saya harus dirujuk lagi ke rumah sakit lain, RSHS. Allahu Akbaar, rasa sakitnya sudah menggila.

pukul 9 malam saya diperiksa terlebih dahulu, dan akhirnya dirujuk ke ruangan bersalin. Dan di sana akhirnya sudah mulai masuk pembukaan 2. Semakin lama rasa sakit semakin membuat saya tak tahan, dan selalu mengatakan tak kuat. Hingga..

pukul 00.30 subuh, masuk pembukaan 6. Dari situ saya lebih semangat lagi menanti pembukaan selanjutnya. Walaupun teriak-teriak sudah tak saya hiraukan lagi. Rasa ingin ngeden begituu kuat. Oh Allah Sungguh, sakit yang berlipat-lipat ini yang membuat saya berpikir, begitu hebatnya setiap ibu. Mampu menahan sakit sehebat ini.

pukul 01.30 subuh, masuk pembukaan 9. Aaaah saya langsung makin optimis, satu pembukaan lagiii! pukul 2 kurang, tim persalinan dan dokternya sudah datang dan mempersiapkan semua. Owh, Akhirnya. Sampai jugaa. Ngeden ngeden dan ngeden. Gunting dan gunting.

pukul 02.15 subuh. Welcome, Danesh!

Saya tahu detil waktu saat persalinannya soalnya di depan saya ada jam yang selalu saya pantau😀

Dari persalinan ini, pelajaran yang begitu berharga yang saya dapatkan adalah wajar jika Rasul meyuruh kita menghormati ibu, ibu, dan ibu. Akhirnya, lega walaupun rasa sakit jaitan masih ada. Namun semua rasa sakit hilang mendengar suara bayi, melihatnya, dan mendekapnya.😀 Terimakasih kepada seluruh keluarga saya yang selalu dibuat riweuh dari awal sampai akhir persalinan. Juga my lovely husband.🙂 Jazaakumullahu khairan katsiran, :’)

20140927_201315