Beranda

-Promosi- Clodi Baby Land (Popok Cuci)

Tinggalkan komentar

Maaf mengganggu kenyamanan pembaca karena saya membuat postingan produk yang saya jual. Saya ingin menawarkan CLoth Diaper atau disingkat Clodi. Clodi adalah popok cuci yang dapat dipergunakan kembali untuk buah hati kita.

Kelebihan dari Clodi adalah kita dapat semakin irit dalam pembelian popok sekali pakai. Namun kekurangannya memang kita harus merogoh kocek lebih dalam untuk pembelian pertama.

Clodi terdiri dari cover pocket, insert, dan ada tambahan liner. Cover pocket berfungsi sebagai celana untuk menyimpan insertnya. Insert seperti handuk yang menyerap kencingnya. Liner untuk menampung BAB anak.

clodi

Cover tampak dalam dan 2 insert

 

liner

Liner yang berwarna biru untuk menampung BAB

Cara pemakaiannya cukup mudah. Pertama masukkan insert ke dalam pocket cover clodi, kemudian tempatkan liner di atas covernya.

Cara pemakaian clodi

Cara pemakaian clodi

Adanya kancing pada clodi diperuntukkan untuk mengatur size/ukuran clodi mulai dari S sampai XL sesuai dengan berat anak. Inilah yang membuat clodi lebih irit.

Salah satu merek dari clodi adalah BabyLand. Saya menjual Clodi merek Babyland dengan 2 insert microfiber. Berikut penampakannya:

1460011840778

-Update 7 April 14:16-

Stok kosong no.6, 7

Untuk pemesanan bisa menghubungi :

WA/SMS : 085720582969
line: enuazizah
BBM : 545B71E6

 

Ini Ya, Yang Namanya Hidup Mati Tipis Saat Persalinan

Tinggalkan komentar

20140926_222211

Intasya Zafira Danesh

Akhirnya, masa penantian yang terdapat dalam artikel sebelumnya terjawab juga. My Litle Danesh lahir! September, 26th 2014.

20 September 2014

Hari Perkiraan Lahir kehamilan saya adalah 20 September 2014, rasa cemas mulai berasa begitu kuat kuat kuat.

22 September 2014

Hingga, tepat 22 September 2014, saya periksakan ke bidan kemudian di USG dan hasilnya air ketuban sudah sangat sedikit. Bidan menyarankan, esok hari untuk pergi ke Dokter Obgyn di klinik terdekat.

23 September 2014 Pergi periksa ke dokter Obgyn dimulai dengan pemeriksaan NST (keadaan janin) dan sorenya konsultasi dengan dokternya. Kalian tahu dokter berkata apa? “Air ketuban sudah sedikit, ini harus segera dilahirkan hari ini juga atau besok pagi. Akan dilakukan terlebih dahulu melakukan tindakan induksi“. Rasa takut dan syok sudah campur aduk lah. Keinginan persalinan normal seakan-akan jauh dari bayangan. bayang-bayang induksi sudah begitu menyeramkan sakitnya. Apalagi tindakan terakhir, caesar. Pada malam yang sama saya konsultasikan kepada bidan Yayat, apa yang harus saya lakukan. Akhirnya saya dirujuk untuk diperiksa oleh dokter Obgyn lain di RS. Salamun. Kata bidannya, setiap dokter biasanya memiliki keputusan tersendiri. Well , finally keesokan harinya saya pergi ke dokter Obgyn di sana. Dan saya menelepon suami saya untuk  segera datang ke Bandung .

24 September 2014

Sampailah pada antrian saya untuk di periksa Dokter Totong. Dokternya enak, kocak, dan hasilnya pun membuat sedikit lega. Setelah pemeriksaan pembukaan serviks dan USG, dokternya langsung bilang, “ah, ini mah udah bagus dikit lagi nih, mau normal mau sesar?”. Tentu saya bilang mau normal, akhirnya si dokter memberikan obat perangsang terlebih dahulu. Cess, menuju sore sepertinya reaksi obat sudah mulai berasa, mulai agak sakit perut bagian bawah dan muncul bercak darah hitam. Perasaan sakit sudah mulai berasa namun masih dapat ditahan. Hingga pukul 11 malam-an lah rasa mules celekit-celekit mulai terasa.

25 September 2014

pukul 01.30 pagi saya bangunkan suami dan pergi ke bidan Yayat, diperiksa ternyata masih pembukaan 1. SubhanAllaah, sakitnya sudah luar biasa seperti itu masih pembukaan 1. Tapi tak apa setidaknya harapan persalinan normal masih bisa.

pukul 06.00 pagi, masih pembukaan 1. Pulang dulu.

Pukul 10.00 balik lagi masih pembukaan satu. Pulang dulu.

pukul 2 siang masih pembukaan 1. Ya Allaaah sakitnya sudah begitu meringis, mungkin gara-gara pakai perangsang mulesnya, makanya berbeda dengan pembukaan 1 yang alami.

pukul 6 malam, masih pembukaan 1. Akhirnya Bidan Yayat merujuk saya ke RS. Salamun.

pukul 7 malam, pergi ke RS. Salamun dan air ketuban pun pecah di jalan. Sesampainya di sana, ruangan penuh dan mau tidak mau saya harus dirujuk lagi ke rumah sakit lain, RSHS. Allahu Akbaar, rasa sakitnya sudah menggila.

pukul 9 malam saya diperiksa terlebih dahulu, dan akhirnya dirujuk ke ruangan bersalin. Dan di sana akhirnya sudah mulai masuk pembukaan 2. Semakin lama rasa sakit semakin membuat saya tak tahan, dan selalu mengatakan tak kuat. Hingga..

pukul 00.30 subuh, masuk pembukaan 6. Dari situ saya lebih semangat lagi menanti pembukaan selanjutnya. Walaupun teriak-teriak sudah tak saya hiraukan lagi. Rasa ingin ngeden begituu kuat. Oh Allah Sungguh, sakit yang berlipat-lipat ini yang membuat saya berpikir, begitu hebatnya setiap ibu. Mampu menahan sakit sehebat ini.

pukul 01.30 subuh, masuk pembukaan 9. Aaaah saya langsung makin optimis, satu pembukaan lagiii! pukul 2 kurang, tim persalinan dan dokternya sudah datang dan mempersiapkan semua. Owh, Akhirnya. Sampai jugaa. Ngeden ngeden dan ngeden. Gunting dan gunting.

pukul 02.15 subuh. Welcome, Danesh!

Saya tahu detil waktu saat persalinannya soalnya di depan saya ada jam yang selalu saya pantau 😀

Dari persalinan ini, pelajaran yang begitu berharga yang saya dapatkan adalah wajar jika Rasul meyuruh kita menghormati ibu, ibu, dan ibu. Akhirnya, lega walaupun rasa sakit jaitan masih ada. Namun semua rasa sakit hilang mendengar suara bayi, melihatnya, dan mendekapnya. 😀 Terimakasih kepada seluruh keluarga saya yang selalu dibuat riweuh dari awal sampai akhir persalinan. Juga my lovely husband. 🙂 Jazaakumullahu khairan katsiran, :’)

20140927_201315

Ketika Husnudzan Itu Harus, Sesulit Apapun

1 Komentar

18th Sept, 2014.

Tepat 18 hari saya telah mengambil cuti melahirkan dari sekolah. Yang dahulu dalam keadaan urgent harus pulang kampung karena berpikir akan segera melahirkan, dengan tanda-tanda bercak darah. Namun, 🙂 Allah belum mengizinkan si utun untuk lahir sampai saya menulis tulisan ini. Akhirnya waktu cuti yang hanya 2 bulan ini semakin berkurang. Juga, perkiraan bidan, 20 September 2014 adalah hari perkiraan lahir.

Itu sepenggal ceritanya, bagi saya pribadi ini merupakan sebuah fase kesabaran, sebuah fase yang menguji prasangka saya kepada Allah. Kita sering dituntut untuk ber-husnudzan, namun tanpa disadari terkadang kita membohongi keinginan kita sendiri. Itu yang sedang saya alami mungkin. Itu karena mungkin saya tidak mengerti hakikat husnudzan dan kurangnya kedekatan kepada Allah. Hanya menuntut husnudzan itu sejalan dengan keinginan pribadi.

Hingga saat membaca buku terjemah “Mukhatarul Ahadits” dan terpaut dengan beberapa hadits di dalamnya, salah satunya:

Hadits ke-53

Apabila Allah mengasihi hambaNya, Allah akan menguji dia untuk mendengar permohonannya“.

Maksud:

Seseorang manusia apabila mendapat ujian dari Allah yang diterimanya dengan sabar serta penuh keimanan kepada Allah, maka apabila orang itu memohon kepada Allah agar cobaan yang ada  pada dirinya itu berubah menjadi anugerah dan rahmat Allah, doanya dikabulkan Allah. Oleh karena itu bersabarlah menerima cobaan Allah dan berserah diri kepadaNya. Niscaya Allah akan mengganti cobaan itu dengan anugerah dan rahmat.

Allah pasti datang. Tapi memang atas kehendak-Nya, bukan kehendak kita. Kita hanya bisa memohon, bukan memaksa. Kita hanya bisa meminta, bukan mengatur. -Ust.Yusuf Mansur

Aduh, malu rasanya seakan-akan saya memohon dan mengatur semuanya sesuai dengan keinginan saya. In shaa Allah semuanya akan baik-baik saja. berapapun waktu cuti yang “terbuang” menunggu lahiran semoga masih terdapat hikmah dan pahala di dalamnya. Berapa minggu pun umur kehamilan ini, In shaa Allah yang penting sehat dan dilancarkan semua urusannya.

Jadi Nikmat Yang Mana Lagi Yang Saya Dustakan?

1 Komentar

Wah sudah sangat lama tidak menulis artikel, lebih tepatnya cerita hehe. Sang Rabb memang tahu bahwa sosok seperti saya harus selalu diberi kegiatan untuk mengisi waktu. Selepas pulang dari kuliah PPG di Padang Februari 2014 kemarin, Alhamdulillah saya tidak menganggur terlalu lama. Mengapa? Karena saya lolos CPNS Kota Tangerang Selatan. Alhamdulillaaah. Dan yang lebih membuat saya bahagia adalah bertepatan dengan pengumuman kelulusan CPNS, saya dinyatakan positif hamil :D. Allahuallaah, Ini memang rizkinya si little chubby.

Telah menikah, lulus PPG, lulus CPNS, punya calon baby rasanya “Fabiayyi aalaairabbikumaa tukadzibaan“. Saat menulis artikel ini kehamilan saya sudah memasuki minggu ke-24, sekitar 6 bulan. Dari semua yang telah DIA berikan membuat saya terinspirasi membuat sebuah gambar, ini dia:

Jalan jalan bareng bareng keluarga kecil

Jalan jalan bareng bareng keluarga kecil

Sketsa impian selanjutnya. Semoga tak terkesan duniawi hehehe. Udah sih intinya hanya ingin menampilkan gambar yang telah dibuat

Komunikasi Yang Baik, Ya Dari Orangtuanya Dulu

Tinggalkan komentar

Memiliki pengalaman buruk mengenai komunikasi membuat saya ketakutan saat berada dalam sebuah hubungan. Baik itu hubungan dengan teman, rekan kerja, dan utamanya dalam rumah tangga.

Komunikasi yang sangat buruk dalam sebuah keluarga. Itu yang saya rasakan terutama saat masa-masa kanak-kanak sampai remaja. Sebuah komunikasi yang seharusnya tidak layak itu terjadi antara ayah dan anak (salah satu contohnya). Bayangkan, saya lebih baik memilih untuk tidak berpapasan dengan ayah di jalan. Mengapa? Karena saya tak tahu harus berkata apa jika bertemu.

Rumah Tangga. Ya, itu salah satu tempat yang sensitif dengan masalah komunasi. Banyak masalah (katanya) yang muncul karena komunikasi yang tidak “baik”. Ini salah satu yang harus saya pelajari dan perhatikan. Komunikasi dalam sebuah rumah tangga. Tidak dipungkiri, setiap orang  pasti pernah mengalami miss communication yang berujung pertengkaran atau “riak-riak kecil” dalam sebuah rumah tangga.

Berkaca dari pengalaman saya sendiri, komunikasi antara anak dan orangtua. Saya jadi berpikir, jika tidak ingin anak saya mengalami hal  yang sama seperti saya, komunikasi yang pertama kali harus terjalin dengan baik adalah komunikasi antara kedua orangtuanya. Ya, saya dan suami saya.

Dalam banyak kasus, komunikasi lebih didominasi dalam betuk verbal, kata-kata. Konon berdasar penelitian di Amerika, mengutip M Fauzil Adhim,  waktu manusia di luar waktu tidur 70% digunakan untuk berkata-kata. Artinya bila dia mampu membangun kata-kata yang baik, dia telah menggunakan 70% waktunya untuk membangun kebaikan. Sebaliknya bila 70% itu digunakan untuk hal-hal yang jelek jelas dia sedang membuat kubangan untuk kegagalannya sendiri.

Kompas, 13 July 2013

Jika dari penelitian tersebut dikatakan bahwa komunikasi itu didominasi oleh verbal/kata-kata, berarti komunikasi memang seharusnya dibangun lebih banyak dengan verbal. Non sense jadinya jika komunikasi yang ada hanya dibangun oleh saling percaya saja, atau “tak apa saya tak mengatakan bahwa saya peduli, yang penting hati dan pikiran saya peduli, jadi tak perlu menanyakan kabar ataupun berkomunikasi“. Nah, memang orang yang dipedulikan tahu hati dan pikiran kita? Malah bukannya nantinya akan menimbulkan prasangka buruk. Niat kita seperti itu, tapi orang yang nangkap  maksudnya malah mengatakan “dia tidak peduli”

Masih bersangkutan dengan penelitian di atas. 70% digunakan untuk berkata-kata. Jika dimanfaatkan dengan baik, berarti membangun  kebaikan. Jika sebaliknya, ya hasilnya kegagalan komunikasi. Kalau ini kita ibaratkan misalnya, jika dalam kehidupan sehari-hari jarang berkomunikasi atau ngobrol atau bercakap-cakaplah dengan teman, rasanya kita sendiri tidak memiliki rasa akrab bukan? Merasa segan untuk dekat. Jika seperti ini, ya susah juga untuk curhat, misalnya. Namun bagaimana dalam kehidupan rumah tangga yang notabene hubungannya jauh lebih dari sekedar teman? Ya komunikasinya pun harus lebih dekat lagi dibandingkan teman, bukan?

Terkadang kita menganggap banyak cerita/hal sepele yang tak perlu dikomunikasikan/dibicarakan. Hal yang dikomunikasikannya mungkin sepele, tapi “komunikasi”nya itu sendiri bukan hal sepele. Jika kita lebih sreg/blak-blakan bercerita atau bercanda dengan teman daripada dengan suami/istri, apakah ada yang salah dengan relasi suami istri? Sepertinya iya.

Jadi inti dari tulisan ini apa? Hehe, sayapun tak tahu. Hanya mengungkapkan masalah-masalah komunikasi. Tapi semoga solusinya pun ada walaupun tersirat 😛 . Kalau saya sih untuk pelajaran sendiri mengenai komunikasi agar kelak ketika telah memiliki anak-anak, mereka melihat komunikasi orangtuanya yang harmonis dan merekapun mengikuti keharmonisan tersebut.

Laki-laki merasa ingin dihargai pasangannya, sedangkan wanita merasa ingin dibutuhkan pasangannya.

-Bu Rosa

Dari kalimat itu, saya sih beranggapan bahwa “merasa dihargai dan merasa dibutuhkan ” itu didapat dari komunikasi kedua belah pihak.

Yap, berkomunikasi itu penting berarti kan. Ayo komunikasi seceria mungkin, lho 😀

Wiw, Padang Ganas Juga!

Tinggalkan komentar

Yah, ini hanya sekedar artikel yang menceritakan kisah perantauan saya selama di daerah Padang. Tidak semuanya yang akan saya ceritakan. Tapi saya akan lebih fokus menceritakan tentang kisah pencopetan di angkot.

Saya adalah seorang angkoters selama tinggal di kampung saya, di Bandung. Selama sekolah sampai kuliah sampai selesai kuliah (kurang lebih 8 tahun) saya bertemu dengan pencopet di angkot hanya 2 kali lah, di sini kisahnya.

Tapi, sungguh selama  di Padang saya mendengar begitu banyak kisah pencopetan di dalam angkot. Dan ini semua adalah teman-teman yang satu sekolah PL dengan saya. Aduhai, sungguh beruntungnya saya tidak  mengalaminya langsung, bisa soak sambil gogoakan saya mungkin.

Kenapa disebut ganas? Dalam waktu yang cukup berdekatan satu demi satu teman saya mengalami hal yang tidak mengenakan sekali banget.

Satu, kehilangan dompet di pasar, untungnya uang dan atm tak ada.

Dua, saat di angkot ada sudah ada tangan copet di dalam tas nya, untung tak ada yang hilang.

Tiga, saat di angkot karena sudah curiga ada 2 orang pencopet di dalam angkot akhirnya dua teman saya waspada dengan tas nya dan tidak mau dekat si para pencopet. AKhirnya apa? Teman saya dicaci maki menggunakan bahasa Padang, “Anjiang.. bla bla bla” sambil nunjuk-nunjuk teman saya. Si para copet marah karena teman saya disuruh dekat dengan si copet tapi gak mau, marahlah si copet. Dan ternyata benar, pas teman saya dan para ibu-ibu turun dari angkot (karena terpaksa, takut), para ibu pun memang dari awal sudah ngeh kalau mereka para copet. “untung ade selamet, dia itu copet

Empat, teman saya yang kehilangan dompet di kasus pertama, eh kehilangan lagi. ini lebih parah ada uang dan ATM. semua uang di ATMnya ludes. Sama seperti di kasus pertama, dia gak ngeh ada yang ngambil tuh dompet. Bisa jadi dia dihipnotis? Hantahlah.

Lima, teman saya kehilangan HP galaxy. Dia masih ingat kalau itu HP ada saat dia naik angkot, pas mau turun dia cek saku, eh sudah tidak ada. Sudah di miscall saat masih di angkot pula, eh di silent. Padahal nyambung tuh. Dan dari awal naek sampai turun, di sebelah kiri (TKP HP hilang disimpan di saku celana sebelah kiri) ada seorang ibu-ibu. Mau cek, masa teman saya itu harus ngedeketin si ibu buat ngedengerin getaran? Ntah dikira ga sopan katanya. 😀 Dan, yah hantahlah apakah ibu-ibu itu atau?

Semua kasus itu terjadi saat pulang atau saat pergi sekolah (masa-masa PPL). Dan semua kasus itu adalah anak perantauan peserta PPG TIK yang berada di Padang. Dan yang lebih seremnya, itu jarak dari satu kasus ke kasus lain deketan. Astagfirullah!

Akhirnya, sekarang saya tak pernah lagi bawa ATM kemana-mana. Ish!

Wiw ternyata Padang ganas juga ya. Apa lebih serem Padang dari Bandung? Entahlah. Yang pasti Kalau Bandung itu kampung saya, *lho?

Mari kita waspadalah! Sekian.

Tapi Inilah Realitanya

Tinggalkan komentar

*joget joget*

*joget joget*

Mengutip sebuah artikel di Tumblr  Via Muslim Speakers. Kurang lebih seperti inilah terjemahan bahasa Indonesianya:

Ini Sungguh Lucu, Tapi Ini Kenyataan?

Ada kumpulan wanita yang menghadiri seminar tentang “bagaimana hidup  dalam hubungan kasing sayang bersama suami”

Wanita bertanya, “Berapa orang yang mencintai suami kalian?”

Semua wanita mengangkat tangannya

Kemudian mereka bertanya, “Kapan terakhir kalian mengatakan kepada suami kalian bahwa kalian mencintainya?”
Beberapa menjawab hari ini, beberapa hari yang lalu, dan sebagian tidak ingat.

Para wanita kemudian memegang HPnya dan mengirim SMS kepada masing-masing suami mereka “I Love You, Sweetheart”
Kemudian mereka menukar HP mereka dan membacakan respon dari setiap SMS

Berikut adalah beberapa jawaban suami-suami mereka:

1. Eh, Ibu anak-anakku, kamu sakit?

2. Apalagi sekarang? Kamu merusakkan  mobil lagi?

3. Saya ga ngerti apa maksud kamu?

4. Apa yang kamu lakukan sekarang? Saya tidak akan memaafkanmu sekarang!

5. ?!?

6. Jangan bertengkar karena semak, cukup katakan berapa yang kamu butuhkan?

7. Apakah saya sedang bermimpi?

8. Jika kamu tidak mengatakan untuk siapa SMS ini sebenarnya, kamu akan mati sekarang…!!!

Dan jawaban terbaik adalah: 

9. Siapa ini?

Waaah, bukankah lucu? Haha, tapi itulah yang terjadi sekarang mungkin. Ketika suami istri apalagi sudah lama mungkin, ketika ada kata-kata romantis sudah dikira pasangannya kenapa-kenapa. Padahal seharusnya itu hal biasa , bukan? Yah mungkin orientasinya sudah beda kali ya. Apalagi mungkin jika sudah punya anak. Mungkin lho ya, saya juga entah tak tahu :P. Saya mah gamau dianggap aneh yang beginian. hehe.

Mari, berSMS seceria mungkin ajalah hahaha.

Older Entries

%d blogger menyukai ini: