Beranda

Contoh Desain Kartun Islami Untuk Kaos Anak

Tinggalkan komentar

Sudah lama tidak posting, hehe. Tapi ini sekalinya posting mau promosi hehe.

Baik, kali ini saya ingin membuka jasa pembuatan desain kaos khususnya untuk anak-anak. Mungkin jika waktunya lebih luang bisa juga untuk desain baju dewasa.

Sekarang sedang booming dengan kaos bertemakan islami dengan berbagai macam karakter kartun.

berikut beberapa contoh gambar kartun yang sudah saya buat

21


Untuk pemesanan gambar atau tanya2 dapat melalui WA (082116549406) BBM: D9EAD064

Ayo mendesain seceria mungkin 😀

belajar seceria mungkin:D

Iklan

Bekerja Bukan Sarana Menyombongkan Diri

Tinggalkan komentar

http://impianclub.com

dapet artikel ini di grup WA, jadi saya posting saja di blog

From Allah to Allah: Rezeki Itu Milik Allah

by Leila Hana

“Saya nggak mau jadi ibu rumah tangga saja. Kalau suami meninggal atau kita bercerai, gimana? Siapa yang kasih makan saya dan anak-anak? Istri itu harus mandiri finansial supaya bisa punya uang untuk jaga-jaga kalau ada apa-apa dengan suami.”

Seketika, kalimat itu buyar kala saya berhadapan dengan seorang wanita berusia 47 tahun yang datang ke rumah saya untuk mengisi pengajian. Wanita bersahaja itu datang jauh-jauh, cukup jauh dari komplek perumahan tempat tinggal saya, untuk memberi pengajian secara gratis. Ingat, gratis lho…. Nggak ada bayaran sepeser pun kecuali sajian makan siang yang saya berikan. Dia datang untuk menggantikan guru ngaji saya yang berhalangan. Sambil menunggu teman-teman lain, kami ngobrol-ngobrol.

“Coba tebak, anak saya berapa, Bu?” tanyanya, ketika kami sedang ngobrol soal anak-anak. Saya sedikit mengeluhkan kondisi rumah yang berantakan karena anak-anak nggak bisa diam, lalu dia memaklumkan. Namanya juga anak-anak. Dia sudah berpengalaman karena anaknya lebih banyak dari saya.

“Ehm… empat?” (pikir saya, paling-paling cuma selisih satu).

“Masih jauh….”

“Tujuh….”

“Kurang… yang benar, delapan.”

Mata saya membelalak. Masya Allah! DELAPAN?!

“Itu masih kurang, Bu. Ustazah Yoyoh (almarhumah Yoyoh Yusroh, mantan anggota DPR) saja anaknya 13. Jadi, saya ini belum ada apa-apanya,” katanya, merendah.

Setelah itu, mengalirlah cerita-ceritanya mengenai anak-anaknya sampai teman-teman saya datang dan acara mengaji pun dimulai. Di sela pengajian, wanita itu bercerita mengenai keluarganya. Dari situ saya baru tahu kalau suaminya sudah meninggal dunia! Meninggal karena kecelakaan motor, meninggalkan istri dan delapan anak, yang terkecil berusia 2,5 tahun dan sang istri, ya… wanita itu… seorang IBU RUMAH TANGGA.

Ibu rumah tangga di sini maksudnya nggak kerja kantoran, tapi juga bukan pengangguran. Beliau aktif mengisi pengajian. Lalu, bagaimana kehidupannya setelah suaminya meninggal? Beliau nggak punya gaji, nggak kerja kantoran. Coba, gimana? Apa beliau lalu sengsara dan anak-anaknya putus sekolah? No. no, no….

Kalau saya mengingat kalimat pembuka di atas kok kayaknya mustahil ya seorang ibu yang nggak bekerja dan suaminya meninggal dunia, bisa bertahan hidup dengan delapan anak dan anak-anaknya bisa tetap kuliah. Mustahil itu… NGGAK MUNGKIN!

“Bagi Allah, nggak ada yang nggak mungkin, Bu. Asal kita percaya sama Allah. Allah yang kasih rezeki, kan? Percaya saja sama Allah. Saya cuma yakin bahwa semua yang saya dapatkan selama ini adalah karena kebaikan-kebaikan saya dan suami semasa hidup. Saya cuma berbagi pengalaman ya, Bu, bukan mau riya. Memang, suami saya dulu itu orangnya pemurah. Kalau ada yang minta bantuan, dia akan kasih walaupun dia uangnya pas-pasan. Alhamdulillah, Allah kasih ganti. Sewaktu suami masih hidup, kami hidup sederhana. Rezeki suami itu dibagi ke orang-orang juga, padahal anak kami ada delapan. Suami nggak takut kekurangan…..”

Kami menahan napas…..

“Hingga suami saya meninggal dunia… uang duka yang kami dapatkan itu… Masya Allah… jumlahnya 100 juta. Padahal, suami saya itu biasa-biasa saja, bukan orang penting. Uang itu langsung dibuat biaya pemakaman, tabungan pendidikan anak, dan sisanya renovasi rumah yang mau ambruk.”

Dengar uang 100 juta dari uang duka saja, saya sudah kagum.

“Saat renovasi rumah, saya serahkan saja ke tukangnya. Dia bilang, uangnya kurang. Saya lillahi ta’ala saja. Yang penting atap rumah nggak ambruk, karena memang kondisinya sudah memprihatinkan. Khawatirnya anak-anak ketimpa atap…..”

Saya membayangkan, keajaiban apa lagi yang didapatkan oleh wanita itu?

“Nggak disangka. Begitu orang-orang tau kalau saya sedang renovasi rumah, mereka menyumbang. Bukan ratusan ribu, tapi puluhan juta! Sampai terkumpul 100 juta lagi dan rumah saya seperti bisa dilihat sekarang…. Sampai hari ini, saya masih dapat transferan uang dari mana-mana, Bu-Ibu. Saya nggak tau dari siapa aja karena mereka nggak bilang. Saya juga udah nggak pernah beli beras lagi sejak suami meninggal. Selalu ada yang kasih beras.”

Duh, nggak bisa nahan airmata deh jadinya….

Apa rahasianya?

“Berbuat baik kepada siapa saja, sekecil apa pun. Insya Allah ada balasannya. Rezeki itu milik Allah. Kalau Allah berkehendak, Dia akan kasih dari mana pun asalnya….” tutupnya.

Rezeki itu milik Allah, siapa pun tidak boleh takabur. Bekerja bukanlah sarana menyombongkan diri bahwa hidup kita bakal terjamin karena bekerja. Yang menjamin hidup kita adalah Allah. Bekerja diniatkan untuk ibadah.

Pembuka rezeki bisa datang dari mana saja, salah satunya dari berbuat kebaikan sekecil apa pun.

Ucapan, “Kalau suami meninggal atau bercerai, siapa yang kasih makan saya dan anak-anak?” itu sama saja dengan syirik, atau menduakan Allah.

Menganggap diri kita super, dengan kita bekerja, maka rezeki terjamin. Padahal, Allah yang kasih rezeki. Jika dulu Allah kasih rezeki melalui suami, besok Allah kasih lewat jalan lain. From Allah to Allah

Ketika Husnudzan Itu Harus, Sesulit Apapun

1 Komentar

18th Sept, 2014.

Tepat 18 hari saya telah mengambil cuti melahirkan dari sekolah. Yang dahulu dalam keadaan urgent harus pulang kampung karena berpikir akan segera melahirkan, dengan tanda-tanda bercak darah. Namun, 🙂 Allah belum mengizinkan si utun untuk lahir sampai saya menulis tulisan ini. Akhirnya waktu cuti yang hanya 2 bulan ini semakin berkurang. Juga, perkiraan bidan, 20 September 2014 adalah hari perkiraan lahir.

Itu sepenggal ceritanya, bagi saya pribadi ini merupakan sebuah fase kesabaran, sebuah fase yang menguji prasangka saya kepada Allah. Kita sering dituntut untuk ber-husnudzan, namun tanpa disadari terkadang kita membohongi keinginan kita sendiri. Itu yang sedang saya alami mungkin. Itu karena mungkin saya tidak mengerti hakikat husnudzan dan kurangnya kedekatan kepada Allah. Hanya menuntut husnudzan itu sejalan dengan keinginan pribadi.

Hingga saat membaca buku terjemah “Mukhatarul Ahadits” dan terpaut dengan beberapa hadits di dalamnya, salah satunya:

Hadits ke-53

Apabila Allah mengasihi hambaNya, Allah akan menguji dia untuk mendengar permohonannya“.

Maksud:

Seseorang manusia apabila mendapat ujian dari Allah yang diterimanya dengan sabar serta penuh keimanan kepada Allah, maka apabila orang itu memohon kepada Allah agar cobaan yang ada  pada dirinya itu berubah menjadi anugerah dan rahmat Allah, doanya dikabulkan Allah. Oleh karena itu bersabarlah menerima cobaan Allah dan berserah diri kepadaNya. Niscaya Allah akan mengganti cobaan itu dengan anugerah dan rahmat.

Allah pasti datang. Tapi memang atas kehendak-Nya, bukan kehendak kita. Kita hanya bisa memohon, bukan memaksa. Kita hanya bisa meminta, bukan mengatur. -Ust.Yusuf Mansur

Aduh, malu rasanya seakan-akan saya memohon dan mengatur semuanya sesuai dengan keinginan saya. In shaa Allah semuanya akan baik-baik saja. berapapun waktu cuti yang “terbuang” menunggu lahiran semoga masih terdapat hikmah dan pahala di dalamnya. Berapa minggu pun umur kehamilan ini, In shaa Allah yang penting sehat dan dilancarkan semua urusannya.

Yuk Hapalkan Al Qur’an

2 Komentar

image

Sekarang saya lagi baca buku “Agar Orang Sibuk Bisa Menghafal Alqur’an” yang covernya seperti di atas. Dan baru beberapa bab membacanya semakin termotivasi untuk menghafal Alqur’an. Bagaimana tidak, dalam keadaan saya yang sedang hamil ini pasti menginginkan anaknya hafiz qur’an. Jadi ya harus ibunya terlebih dahulu yang harus berusaha untuk menjadi seorang hafiz juga 😀

Agar semangat dalam menghafalnya, saya akan menuliskan keutamaan Alqur’an dalam sabda Nabi SAW sesuai dengan yang ada di buku “Agar Orang Sibuk Bisa Menghafal Alqur’an“:

1. Menjadi hamba yang istimewa
Rasulullah bersabda,”sesungguhnya Allah memiliki keluarga dari golongan manusia.” para sahabat bertanya “wahai rasulullah, siapakah mereka?” beliau bersabda, mereka adalah orang yang dekat dengan Alqur’an. Mereka adalah keluarga Allahdan hamba istimewa” (HR. Ibnu Majah)

2. Mendatangkan ketentraman dan rahmatNya
Nah ini sudah pasti yang membaca dan mempelajari Alqur’an  akan diberi ketentraman dan rahmat dari Allah.

3. Memberikan syafa’at di hari kiamat
Nah, ini bisa jadi motivasi yang hebat untuk kita menghafal Alqur’an. Bagaimana tidak, siapa yang tak ingin ditolong Alqur’an dan menjadi pembela kita untuk masuk syurga.

4. Perbandingan keutamaan orang yang mahir dan terbata-bata
Tak perlu malu membaca Alqur’an karena masih belum lancar, karena sesuai sabda Rasulullah SAW: “orang yang membaca Alqur’an dengan terbata-bata karena susah, akan mendapat dua pahala”

5. Kebaikan yang berlipat ganda
Setiap huruf yang dibaca mendapat 1 kebaikan, dimana 1 kebaikan mengandung 10 kebaikan. Alif lam mim ada 3 huruf jadi ada 30 kebaikan.

6. Keistimewaan para orangtua yang mendidik anaknya untuk belajar Alqur’an
Ini salah satu keinginan saya sebagai anak dan juga orangtua, memberikan mahkota yang bersinar  melebihi sinar matahari di dunia pada hari kiamat kelak kepada orangtua saya, juga nanti anak saya pun memberikannya kepada orangtuanya.

7. Mendapat mahkota kehormatan
di antara penghormatan kepada Allah, yaitu menghomati orang yang telah beruban dan menghormati orang yang hafal alqur’an, (dengan catatan orang yang hafal alqur’an itu) tidak terlalu (hingga berlebihan) dan tidak pula kurang (hingga semberono). Dan juga menghormati penguasa yang adil” (HR. Abu Dawud)

8. Lebih istimewa dari seluruh perhiasan dunia
bila salah seorang di antara kalian stiap hari pergi ke masjid untuk mempelajari 2 ayat Alqur’an, itu lebih baik baginya daripada 2 unta. Bila 3 ayat maka lebih baik dari 3 unta. Demikian seterusnya.. ” (HR. Ahmad)

9. Paling berhak menjadi imam sholat
“orang yang paling berhak menjadi imam adalah orang yang paling banyak hafalan Alqur’an nya” (HR. Muslim)

10. Jenazah penghafal Alqur’an dimuliakan
Saat penguburan satu lahad para syuhada di perang uhud, Rasulullah SAW bersabda:
siapakah di antara keduanya yang lebih banyak menghafal Alqur’an? Bila para sahabat menunjukkan salah seorang di antara keduanya, maka Rasulullah SAW mendahulukannya untuk dimasukkan ke liang lahad” (HR. Bukhari)

Nah itu, semoga dengan semakin tahu hal tersebut membuat kita konsisten untuk menghafal Alqur’an, Aamiin.
Yu menghafal seceria mungkin 😀

O Ya Rabb, Begitu Singkatnya Melihat Dunia Ini

Tinggalkan komentar

Saya langsung tertarik ketika searching sebuah buku berjudul Dari Hati Ke Hati karya Buya Hamka. Namun, yang saya dapatkan buku yang berjudul Nasehat Dari Hati Ke Hati karya Ustadz Abdullah Haidar. Ketika membaca sekilas, SubhanAllah. Keren juga.

Kalian dapat mendownloadnya di sini (semoga diizinkan ya untuk menyebarkan).

Ada bagian ebook tersebut yang membuat saya langsung tertohok. berikut isinya:

Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW yang mengabarkan kepada kita bahwa nanti di hari kiamat akan didatankan seorang yang di dunia hidupnya paling senang, namun dia termasuk penghuni neraka. Maka setelah dirinya dicelupkan sekali saja ke dalamnya, lalu ditanya kepadanya: “pernahkah kamu merasakan kenikmatan sebelum ini?” Dia menjawab: “saya sama sekali belum pernah merasakan kenikmatan sebelumnya!”

Sebaliknya, didatangkan orang yang di dunia paling menderita, namun dia menjadi penghuni syurga. Kemudian ketika dirinya dicelupkan sekali saja ke dalamnya, lalu ditanya kepadanya :”Pernahkan kamu merasakan kesengsaraan sebelum ini?” Dia menjawab:”saya sama sekali belum pernah sengsara sebelum ini!”

Tentu ini sejalan dengan yang difirmankan oleh Allah,

“Pada hari  mereka tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari” (QS. AnNaziat:46)

Kita tahu itu semua, tanpa saya tulis di sini pun kita tahu bahwa dunia itu sebentar. Namun terkadang, kita harus “ditampar” lagi dengan mengulang dan diingatkan kembali akan hal tersebut. Ya, Dunia sungguh sebentar, sangat sebentar.

Saya berusia 24 tahun, tapi ketika mengingat masa SMP , SMA  seakan-akan itu baru saja terjadi. “Tidak terasa, ya?” Itulah bahasa kita yang sebenarnya sudah membuktikan perkataan Allah dan Rasulullah, Dunia sebentar uy.

Life must go on. Sebuah kalimat yang sering kita dengar. Ya, ketika dihadapkan dengan kesulitan hidup sering saya berkata terhadap diri sendiri “Hidup cuma bentar, hadepin aja tuh masalah. Ga kerasa lah mungkin“. Ketika saya iri dengan kehidupan orang yang terlihat “lebih baik“, ya bilang lagi “Hidup cuma bentar, ga usah dipikirin yang kita iriin. Ntar juga tu materi ga dibawa. Irilah saya orang yang lebih baik akhlaknya“. Ya, tak dipungkiri sulit saat memotivasi sendiri kala memang dalam kesulit an. Tapi ya daripada cuma menggerutu, kan?

Makanya cepet download ebooknya, InshaAllah barakah. Hehehe

Tiga Orang Penting Masuk Neraka Karena Salah Niat

Tinggalkan komentar

Cover Buku

Cover Buku

Ketika membaca buku Zero to Hero, ada sebuah kisah menarik mengenai niat. Kisah tiga orang penting yang diseret ke neraka karena salah niat. Padahal mereka adalah tokoh-tokoh terkemuka yang penuh prestasi di tengah masyarakat. Mereka adalah yang memiliki peran penting untuk mengubah kondisi masyarakat. SIAPA? Mereka adalah:

1. Orang Alim, yang banyak ilmunya.

2. Dermawan, orang yang banyak dermanya.

3. Mujahid, orang yang gemar berjihad.

Mengapa mereka? dalam buku tersebut (Zero to Hero) ada sebuah Sabda Rasulullah SAW yang berbunyi

“yang pertama kali dibakar api  neraka pada hari Kiamat adalah tiga golongan: orang alim, mujahid, dan dermawan.

Adapun orang alim maka Allah mendatangkan dan menanyainya: ‘Apa yang dahului engkau perbuat di dunia?’Dia menjawab ‘Aku menuntut ilmu di jalanMu, lalu aku sebarkan ilmu itu karena mencari keridhaanMu’. maka dikatakan  kepadanya: ‘engkau dusta! sebenarnya engkau mencari ilmu supaya dikatakan sebagai orang alim’. Kemudian diperintahkan malaikat penjaga neraka untuk menyeretnya, maka dilemparkan dia ke dalam neraka.

Kemudian didatangkan seorang dermawan, maka dia ditanya:’Apa yang dahulu engkau oerbuat di dunia? ‘. Dia menjawab  ‘Aku mencari harta halal , kemudian aku infaqkan harta itu di jalanMu’. Maka dikatakan kepadanya: ‘Engkau dusta! Engkau infaqkan hartamu supaya manusia menyebutmu dermawan”. Kemudian diperintahkan malaikat penjaga neraka untuk menyeretnya,  maka dilemparkanlah dia ke dalam neraka.

kemudian yang ketiga, ‘Apa yang dahulu engkau perbuat di dunia?’ Dia menjawab: ‘ Aku berperang di jalan Allah, sehingga aku mati terbunuh.’ Maka dikatakan kepadanya: ‘ Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan orang pemberani’ Maka diperintahkanlah malaikat penjaga neraka untuk menyeretnya, maka dilemparkanlah dia ke dalam neraka.’ (Hadits Riwayat Muslim)

Ternyata amalan yang besar bisa tidak dianggap karena niat. Benar seperti yang dikatakan Abdullah bin Mubarak

Berapa banyak amal yang remeh menjadi besar gara-gara niat. Dan berapa banyak amal yang besar menjadi remeh gara-gara niat

Ternyata seperti itulah gambaran kedudukan niat dalam perbuatan. Salah niat, perbuatan bisa menjadi bumerang. Tak salah jika niat memang ditempatkan urutan pertama pada kitab-kitab hadits mungkin ya 😀

Oke itu sekilas dari buku yang telah/sedang saya baca. Semoga tulisan ini bisa mengingatkan kita lebih meluruskan niat dalam setiap perbuatan, khususnya saya nih. Saya sebagai guru semoga lebih diluruskan lagi niatnya untuk menyebarkan ilmu ke murid-murid 😀

Ayo berbagi ilmu dengan niat ikhlas dan seceria mungkin 😀

FPI Brutal, Benarkah?

Tinggalkan komentar

Bismillah, semoga semua yang saya tulis sekarang berdasarkan fakta. Etdah, soalnya di media-media TV juga sudah sulit membedakan mana yang salah dan bener.

Saya sedang menghadiri sebuah acara mirip motivasi gitu di daerah Padang. Dan saya sangat tertarik dengan fakta yang diungkapkan oleh Narasumbernya. Saya lupa siapa namanya, pokoknya Sarjana Hukum, pake kacamata, badan agak berisi.

Ketika dia sedang ada acara di Jakarta, kemudian beliau bertemu dengan pimpinan FPI (Habib Rizieq), beliau menanyakan beberapa hal:

1. Ustadz, kenapa kok anggota FPI itu masih aja banyak yang ngerokok?

Mereka itu semua mantan narapidana semua yang udah pada tobat. 

Yang tentu tidak semudah itu mengharuskan mereka tiba-tiba berhenti merokok kan? Setiap orang pasti bertahap dalam perubahan.

2. Terus kenapa kok FPI itu brutal bermain kasar?

Itu semua media yang salah. Media selalu menyorot tanpa disebutkan alasan kami menyerang. Sebelum kami menghancurkan tempat judi yang akan dituju, kami menelepon dulu ke polisi “pak disana ada tempat judi” kemudian tidak direspon. Kami menelepon lagi, kemudian tidak direspon lagi. Berkali-kali tidak direspon ya sudah kami langsung hancurkan.

Jika kita pikir dengan logika, sebagai umat muslim bukankah ketika ada maksiat harus kita lawan dengan tangan kita? Jika tidak mampu dengan ucapan? dan selemah-lemahnya iman dalah dengan hanya menolak melalui hati saja? Jadi apakah salah yang dilakukan FPI? Padahal mereka sudah sesuai dengan prosedurnya, menelepon yang berwajib terlebih  dahulu. Namun? begitulah.

Ustadz Habib Rizieq: mereka dahulu ditangkap karena berbuat maksiat. Dan mereka akan lebih berani ditangkap jika karena menghancurkan maksiat itu sendiri.

Waw, ternyata seperti itulah FPI. Terkesan brutal namun sebenarnya itulah sepenggal kisah dibaliknya. Dibalik kisah media yang melulu dan melulu menyoroti saat brutalnya. Hingga tak heran saya adalah salah satu korban menjadi antipati kepada FPI. Setelah mendengarkan percakapan singkat tadi betul-betul memutarbalikkan mindset saya tah. Ini diriku, bagaimana denganmu? 😀

Sipo, intinya berhati-hati dalam nemerima informasi/berita. Begitupun mungkin dari saya, yatta! 😀

Older Entries

%d blogger menyukai ini: