Beranda

Jangan Sekali-Kali Memberikan DOT Kepada Bayi Yang Baru Lahir

Tinggalkan komentar

Walaupun kurus tapi dia begitu aktif

Walaupun kurus tapi dia begitu aktif

Yoyoyo, baik. Saya mau sedikit berbagi pengalaman yang tak seberapa ini. Utamanya, pengalaman memberikan dot kepada anak bayi saya yang baru lahir. Begini lengkap ceritanya.

Saat anak saya baru lahir, seperti pada umumnya dokter selalu mendekapkan anak kita dekat dengan payudara kita selama beberapa menit. Hari pertama sekaligus pengalaman pertama saya menyusui anak saya. Masih kaku dan puting untuk meyusu pun masih kecil, sehingga anak kesulitan untuk menyusu. Saya pikir dia sudah mulai bisa menghisap dan ASI pun ia minum. Tapi ternyata pikiran saya salah. Saat di rumah sakit anak agak rewel, disusui mau tapi masih nangis. Sampai saat hari kedua dibawa ke rumah dia menangis terus menerus sampai akhirnya dia ketiduran. Seisi rumah berpikir, kenapa? Apakah dia belum bisa menyusu ke puting ibunya? Akhirnya kami pun sepakat membeli pompa ASI yang sepaket dengan dot. Saya peras dan dimasukkan ke dalam dot, akhirnya dia mau dan lumayan banyak habisnya. Dari situ dia mulai tidak rewel dan tidur nyenyak. Akhirnya, beberapa kali saya susui lewat dot. Eh, ketika saya kasih puting saya, dia langsung nolak bahkan nangis sejadi jadinya. Nolak sampai sekarang, di mana dia tepat 5 bulan. Sedih, karena tidak dihisap, maka ASI pun semakin lama semakin berkurang. Sampai menginjak usia 2 bulan akhirnya ditambahkan susu formula. Dan menginjak usia 4 bulan, ASI yang mampu diperas hanya 50ml an perhari. Padahal dulu bisa sampai 400ml perhari. Dan ya mau tidak mau susu formula jadi utama.

Semenjak pemberian susu formula, pertambahan berat bayi saya sangat lambat bahkan cenderung tidak bertambah. Ish, sedihlah. Sepertinya dia tidak suka susu formula karena susu yang diminum selalu sedikit. Padahal dalam kemasan ada kan takaran normal sebanyak apa biasanya bayi minum.

Sedih, liat sang anak kurus. Tak minum ASI. Gaa-gara pemberian dot di awal, rencara ASI eksklusif saya hancur lebur. Peralatan yang sa beli untuk ASI untuk sekarang sia-sia.

Saran bagi ibu-ibu yang lain, jika awal anak masih susah menempel pada puting ibu, jangan langsung diberikan dot. Mending disendok aja. Beneran bu, saya nyeseeeeeel banget dulu kasi dot. Hiks hiks. Saking pinternya bayi, ya dia sudah bisa membedakan makan yang gampang dan susah. Kalo puting payudarakan dia harus sedikit ekstra hisap, terutama saat awal-awal setelah lahiran.

Sekarang pun saya lagi galau tentang berat anak saya. Kalau tidak gemuk tapi berat normal sih saya tak masalah. Tapi ini kurus, bu. Kurus 😦

Kurus, tapi sehat ya bageur :)

Kurus, tapi sehat ya bageur 🙂

Bismillah aja, InshaAllah akan sehat normal.

Iklan

Ini Ya, Yang Namanya Hidup Mati Tipis Saat Persalinan

Tinggalkan komentar

20140926_222211

Intasya Zafira Danesh

Akhirnya, masa penantian yang terdapat dalam artikel sebelumnya terjawab juga. My Litle Danesh lahir! September, 26th 2014.

20 September 2014

Hari Perkiraan Lahir kehamilan saya adalah 20 September 2014, rasa cemas mulai berasa begitu kuat kuat kuat.

22 September 2014

Hingga, tepat 22 September 2014, saya periksakan ke bidan kemudian di USG dan hasilnya air ketuban sudah sangat sedikit. Bidan menyarankan, esok hari untuk pergi ke Dokter Obgyn di klinik terdekat.

23 September 2014 Pergi periksa ke dokter Obgyn dimulai dengan pemeriksaan NST (keadaan janin) dan sorenya konsultasi dengan dokternya. Kalian tahu dokter berkata apa? “Air ketuban sudah sedikit, ini harus segera dilahirkan hari ini juga atau besok pagi. Akan dilakukan terlebih dahulu melakukan tindakan induksi“. Rasa takut dan syok sudah campur aduk lah. Keinginan persalinan normal seakan-akan jauh dari bayangan. bayang-bayang induksi sudah begitu menyeramkan sakitnya. Apalagi tindakan terakhir, caesar. Pada malam yang sama saya konsultasikan kepada bidan Yayat, apa yang harus saya lakukan. Akhirnya saya dirujuk untuk diperiksa oleh dokter Obgyn lain di RS. Salamun. Kata bidannya, setiap dokter biasanya memiliki keputusan tersendiri. Well , finally keesokan harinya saya pergi ke dokter Obgyn di sana. Dan saya menelepon suami saya untuk  segera datang ke Bandung .

24 September 2014

Sampailah pada antrian saya untuk di periksa Dokter Totong. Dokternya enak, kocak, dan hasilnya pun membuat sedikit lega. Setelah pemeriksaan pembukaan serviks dan USG, dokternya langsung bilang, “ah, ini mah udah bagus dikit lagi nih, mau normal mau sesar?”. Tentu saya bilang mau normal, akhirnya si dokter memberikan obat perangsang terlebih dahulu. Cess, menuju sore sepertinya reaksi obat sudah mulai berasa, mulai agak sakit perut bagian bawah dan muncul bercak darah hitam. Perasaan sakit sudah mulai berasa namun masih dapat ditahan. Hingga pukul 11 malam-an lah rasa mules celekit-celekit mulai terasa.

25 September 2014

pukul 01.30 pagi saya bangunkan suami dan pergi ke bidan Yayat, diperiksa ternyata masih pembukaan 1. SubhanAllaah, sakitnya sudah luar biasa seperti itu masih pembukaan 1. Tapi tak apa setidaknya harapan persalinan normal masih bisa.

pukul 06.00 pagi, masih pembukaan 1. Pulang dulu.

Pukul 10.00 balik lagi masih pembukaan satu. Pulang dulu.

pukul 2 siang masih pembukaan 1. Ya Allaaah sakitnya sudah begitu meringis, mungkin gara-gara pakai perangsang mulesnya, makanya berbeda dengan pembukaan 1 yang alami.

pukul 6 malam, masih pembukaan 1. Akhirnya Bidan Yayat merujuk saya ke RS. Salamun.

pukul 7 malam, pergi ke RS. Salamun dan air ketuban pun pecah di jalan. Sesampainya di sana, ruangan penuh dan mau tidak mau saya harus dirujuk lagi ke rumah sakit lain, RSHS. Allahu Akbaar, rasa sakitnya sudah menggila.

pukul 9 malam saya diperiksa terlebih dahulu, dan akhirnya dirujuk ke ruangan bersalin. Dan di sana akhirnya sudah mulai masuk pembukaan 2. Semakin lama rasa sakit semakin membuat saya tak tahan, dan selalu mengatakan tak kuat. Hingga..

pukul 00.30 subuh, masuk pembukaan 6. Dari situ saya lebih semangat lagi menanti pembukaan selanjutnya. Walaupun teriak-teriak sudah tak saya hiraukan lagi. Rasa ingin ngeden begituu kuat. Oh Allah Sungguh, sakit yang berlipat-lipat ini yang membuat saya berpikir, begitu hebatnya setiap ibu. Mampu menahan sakit sehebat ini.

pukul 01.30 subuh, masuk pembukaan 9. Aaaah saya langsung makin optimis, satu pembukaan lagiii! pukul 2 kurang, tim persalinan dan dokternya sudah datang dan mempersiapkan semua. Owh, Akhirnya. Sampai jugaa. Ngeden ngeden dan ngeden. Gunting dan gunting.

pukul 02.15 subuh. Welcome, Danesh!

Saya tahu detil waktu saat persalinannya soalnya di depan saya ada jam yang selalu saya pantau 😀

Dari persalinan ini, pelajaran yang begitu berharga yang saya dapatkan adalah wajar jika Rasul meyuruh kita menghormati ibu, ibu, dan ibu. Akhirnya, lega walaupun rasa sakit jaitan masih ada. Namun semua rasa sakit hilang mendengar suara bayi, melihatnya, dan mendekapnya. 😀 Terimakasih kepada seluruh keluarga saya yang selalu dibuat riweuh dari awal sampai akhir persalinan. Juga my lovely husband. 🙂 Jazaakumullahu khairan katsiran, :’)

20140927_201315

Jadi Nikmat Yang Mana Lagi Yang Saya Dustakan?

1 Komentar

Wah sudah sangat lama tidak menulis artikel, lebih tepatnya cerita hehe. Sang Rabb memang tahu bahwa sosok seperti saya harus selalu diberi kegiatan untuk mengisi waktu. Selepas pulang dari kuliah PPG di Padang Februari 2014 kemarin, Alhamdulillah saya tidak menganggur terlalu lama. Mengapa? Karena saya lolos CPNS Kota Tangerang Selatan. Alhamdulillaaah. Dan yang lebih membuat saya bahagia adalah bertepatan dengan pengumuman kelulusan CPNS, saya dinyatakan positif hamil :D. Allahuallaah, Ini memang rizkinya si little chubby.

Telah menikah, lulus PPG, lulus CPNS, punya calon baby rasanya “Fabiayyi aalaairabbikumaa tukadzibaan“. Saat menulis artikel ini kehamilan saya sudah memasuki minggu ke-24, sekitar 6 bulan. Dari semua yang telah DIA berikan membuat saya terinspirasi membuat sebuah gambar, ini dia:

Jalan jalan bareng bareng keluarga kecil

Jalan jalan bareng bareng keluarga kecil

Sketsa impian selanjutnya. Semoga tak terkesan duniawi hehehe. Udah sih intinya hanya ingin menampilkan gambar yang telah dibuat

Komunikasi Yang Baik, Ya Dari Orangtuanya Dulu

Tinggalkan komentar

Memiliki pengalaman buruk mengenai komunikasi membuat saya ketakutan saat berada dalam sebuah hubungan. Baik itu hubungan dengan teman, rekan kerja, dan utamanya dalam rumah tangga.

Komunikasi yang sangat buruk dalam sebuah keluarga. Itu yang saya rasakan terutama saat masa-masa kanak-kanak sampai remaja. Sebuah komunikasi yang seharusnya tidak layak itu terjadi antara ayah dan anak (salah satu contohnya). Bayangkan, saya lebih baik memilih untuk tidak berpapasan dengan ayah di jalan. Mengapa? Karena saya tak tahu harus berkata apa jika bertemu.

Rumah Tangga. Ya, itu salah satu tempat yang sensitif dengan masalah komunasi. Banyak masalah (katanya) yang muncul karena komunikasi yang tidak “baik”. Ini salah satu yang harus saya pelajari dan perhatikan. Komunikasi dalam sebuah rumah tangga. Tidak dipungkiri, setiap orang  pasti pernah mengalami miss communication yang berujung pertengkaran atau “riak-riak kecil” dalam sebuah rumah tangga.

Berkaca dari pengalaman saya sendiri, komunikasi antara anak dan orangtua. Saya jadi berpikir, jika tidak ingin anak saya mengalami hal  yang sama seperti saya, komunikasi yang pertama kali harus terjalin dengan baik adalah komunikasi antara kedua orangtuanya. Ya, saya dan suami saya.

Dalam banyak kasus, komunikasi lebih didominasi dalam betuk verbal, kata-kata. Konon berdasar penelitian di Amerika, mengutip M Fauzil Adhim,  waktu manusia di luar waktu tidur 70% digunakan untuk berkata-kata. Artinya bila dia mampu membangun kata-kata yang baik, dia telah menggunakan 70% waktunya untuk membangun kebaikan. Sebaliknya bila 70% itu digunakan untuk hal-hal yang jelek jelas dia sedang membuat kubangan untuk kegagalannya sendiri.

Kompas, 13 July 2013

Jika dari penelitian tersebut dikatakan bahwa komunikasi itu didominasi oleh verbal/kata-kata, berarti komunikasi memang seharusnya dibangun lebih banyak dengan verbal. Non sense jadinya jika komunikasi yang ada hanya dibangun oleh saling percaya saja, atau “tak apa saya tak mengatakan bahwa saya peduli, yang penting hati dan pikiran saya peduli, jadi tak perlu menanyakan kabar ataupun berkomunikasi“. Nah, memang orang yang dipedulikan tahu hati dan pikiran kita? Malah bukannya nantinya akan menimbulkan prasangka buruk. Niat kita seperti itu, tapi orang yang nangkap  maksudnya malah mengatakan “dia tidak peduli”

Masih bersangkutan dengan penelitian di atas. 70% digunakan untuk berkata-kata. Jika dimanfaatkan dengan baik, berarti membangun  kebaikan. Jika sebaliknya, ya hasilnya kegagalan komunikasi. Kalau ini kita ibaratkan misalnya, jika dalam kehidupan sehari-hari jarang berkomunikasi atau ngobrol atau bercakap-cakaplah dengan teman, rasanya kita sendiri tidak memiliki rasa akrab bukan? Merasa segan untuk dekat. Jika seperti ini, ya susah juga untuk curhat, misalnya. Namun bagaimana dalam kehidupan rumah tangga yang notabene hubungannya jauh lebih dari sekedar teman? Ya komunikasinya pun harus lebih dekat lagi dibandingkan teman, bukan?

Terkadang kita menganggap banyak cerita/hal sepele yang tak perlu dikomunikasikan/dibicarakan. Hal yang dikomunikasikannya mungkin sepele, tapi “komunikasi”nya itu sendiri bukan hal sepele. Jika kita lebih sreg/blak-blakan bercerita atau bercanda dengan teman daripada dengan suami/istri, apakah ada yang salah dengan relasi suami istri? Sepertinya iya.

Jadi inti dari tulisan ini apa? Hehe, sayapun tak tahu. Hanya mengungkapkan masalah-masalah komunikasi. Tapi semoga solusinya pun ada walaupun tersirat 😛 . Kalau saya sih untuk pelajaran sendiri mengenai komunikasi agar kelak ketika telah memiliki anak-anak, mereka melihat komunikasi orangtuanya yang harmonis dan merekapun mengikuti keharmonisan tersebut.

Laki-laki merasa ingin dihargai pasangannya, sedangkan wanita merasa ingin dibutuhkan pasangannya.

-Bu Rosa

Dari kalimat itu, saya sih beranggapan bahwa “merasa dihargai dan merasa dibutuhkan ” itu didapat dari komunikasi kedua belah pihak.

Yap, berkomunikasi itu penting berarti kan. Ayo komunikasi seceria mungkin, lho 😀

Kisah Ini Terlampau Indah, Terimakasih

9 Komentar

Begitu lama tak menulis di blog, hingga sungguh. Sungguh serasa ingin segera “diborojolkan”.

Kalimat yang layak untuk membuka artikel ini memang “O, Ya Rabb terimakasih. Terimakasih atas kesederhanaan kisah hidup ini yang justru mengandung  keagungan makna dengan keluhuran sahaja

Menikah adalah satu keinginan yang sungguh ingin saya capai setelah kuliah selesai. Sebatas keinginan namun tak mampu untuk segera mengatakan, “ya saya siap”. Tahukah? Dulu saya berkeinginan untuk memiliki sesosok pria berkacamata dengan senyum yang teduh. Ah tapi itu hanya saat kuliah saja.

Dan, keinginan itu tercapai. Setelah satu tahun saya menikmati kisah lain di Aceh sana. Menikah dengan sosok yang tak ku kenal seutuhnya bagaimana dia, bagaimana wajahnya, bagaimana keadaannya, dan bagaimana perasaannya  terhadap saya. Hanya sepintas wajah dan segudang cerita tentangnya dari kerabatnya.

Entah, apa alasan saya tiba-tiba mengatakan iya untuknya. Semua murni atas kemantapan hati dari sholat Istikharah. Secara terus menerus, hingga kebulatan tekad tiba-tiba muncul. Bagaimana dengannya? Sungguh juga saya tak tahu tentang kisah awalnya. Apakah jawaban “iya” saya membuatnya senang, biasa saja, atau bahkan menyiksanya.

Inilah awal kisah kami, dari sinilah saya belajar begitu banyak tentang cinta karenaMu. Engkau yang menumbuhkan cinta, tak sulit bagimu untuk membolak-balikkan hati hambamu. Saya belajar bahwa romantis itu tak melulu menuntut atau dituntut. Romatis itu dibangun dan membangun. Romantis itu tak melulu perkataan namun juga perilaku. Rumah tangga itu dibangun dan membangun. Bukan mengalir begitu saja.

Rasa syukur dan terimakasih terkadang sering muncul karena saya membandingkan keadaan yang sebelumnya buruk hingga membaik. Ya, memang. Tidak munafik rasa sakit sempat singgah, menetap, bertahap, hingga klimaks (bagi saya). Tak pelak, rasa  sakit ini membuat sosok yang katanya baik-baik saja menangis tanpa sadar. Bertanya-tanya “mengapa begini? ko begitu”. Ya, kenyataan yang sulit sebenarnya untuk saya terima dengan hati yang baik-baik saja. Semakin tahu, semakin sakit, bertumpuk, sakit lagi. Dan inilah ego saya, menyalahkan diri sendiri atas semua.

Allah  takkan menjerumuskan hambaNya, itu janjiNya. Perlahan, rasa sayang yang dibangun mengalahkan ego saya. Perlahan, rasa nyaman serta tenang mulai terasa. Kemudian terus bertambah, hingga yang terucap “O Allah, keren banget ya! Allah Keren”. Allah ngasih dulu rasa sakit biar rasa bahagia ini makin terasa kali ya. 😀

Rasa nyaman itu bertambah ketika pergi bersama muhrim kita. Rasa nyaman itu bertambah ketika saling menasehati dalam kebaikan. Rasa nyaman itu bertambah ketika saling menenangkan saat suasana hati tak karuan.

Bahagia itu bertambah ketika salat berjamaah dan mengaji bersama. Bahagia itu bertambah ketika membicarakan masa depan kami. Bahagia itu bertambah ketika membicarakan dede bayi. Bahagia itu bertambah ketika bersenda gurau entah dalam hal apapun itu. 😀

Baru saja kisah dimulai, harus sejenak terpisah. Ya, saya harap ini hanya sejenak. Dan tahu, dialah laki-laki ketiga yang saya tangisi begitu sesak dan sangat berat karena perpisahan. Pertama ayah, kedua adik kecil, dan ketiga “dia”.

Tak sabar rasanya untuk kembali bercengkrama, memasak entah apa-apa, dan ketika terbangun wajahnya yang terlihat.

Sedikit, kisah instan saya yang belum seutuhnya menggambarkan indahnya menikah, ibadah cinta karena Allah. Karena kisah ini terlampau indah, hanya kalimat “fabiayyi aalaairabbikumaa tukadzziban” yang mampu mensketsakannya 😀

Kami, memiliki kekurangan satu sama lain dan tidak sempurna. Justru karena adanya kekurangan itu mampu saling melengkapi, hingga membuatnya sempurna. Satu hal yang pasti, hati yang terjaga hanya bagi mereka yang menjaga dirinya.

Dia memang tidak berkacamata. Yasudah yang pasti, dialah sosok laki-laki pertama yang saya peluk dengan rasa. 😀

first one

Hey, Keluarga!

Tinggalkan komentar

Yap, ini tulisan yang telah mengisi ke”ramat”an blog ini.

Oke, saya memang orang yang tidak konsisten dalam menulis di blog. “Terutama setelah lulus” <- alibi ketidakkonsistenan sebelum lulus. Sungguh ingin menulis sebenarnya.

Berawal

Hey Keluarga! Itulah judul yang sengaja saya ambil dari esensi pengalaman saya kemarin.

Tak sengaja yang disengaja, setelah menghadiri suatu acara dan pulangnya kemalaman, maka  saya memutuskan untuk menginap di rumah teman. Cukup terkesan dengan kebiasaan dan kehangatan yang terasa di rumah itu. Walaupun cuma sehari, tapi saya yakin itu kebiasaan mereka.

Shalat berjamaah bersama keluarga. Itulah salah satu kebiasaan yang paling saya suka. Kebiasaan yang sering dilakukan terutama saat shalat maghib, isya, dan shubuh. Iri :’)

Lantunan mengaji ibu saat shubuh.  Oh inilah lagu merdu, terdengar begitu syahdu, dan buat hati merindu sendu :D. Sungguh lagu ini yang membuat rumah mereka barakah, terselimuti oleh perlindunganNya.

Masakan yang masih hangat sengaja dibuat untuk sarapan. Masakan siapa lagi kalau bukan ibu. Wah, enak banget masakannya. Sederhana tapi hangat :D. Terdengar begitu maknyos suara osang oseng memecahkan pagi hening *weits.Masakan penuh doa yang sengaja dipersiapkan untuk mengisi energi sang penghuni rumah.

“Mamaah, sini dulu”. Ya ini ucapan seorang anak yang sekedar diminta untuk memberikan saran pakaian yang dipakai, atau mereka-reka pakaian yang akan digunakan. Kemanjaan anak kepada ibunya yang indah menurut saya. Kebiasaan untuk melibatkan  ibunya dalam segala aktifitasnya. Itulah yang membuat rumah lebih berasa penuh dengan ucap syukur.

Menunggu penghuni rumah yang belum pulang. Menunggu di ruang depan sambil nonton TV atau apalah itu akan membuat sang penghuni yang baru pulang merasa begitu berharganya dan begitu ditunggu kehadirannya. Inilah yang membuat seseorang tak mampu jauh dari rumahnya. Tentu 🙂

Itu mungkin biasa saja bagi sebagian orang, namun sebagian lagi? Tentu itu sangat sangat sangat sangat sangat berharga 🙂

Semoga, kamu, saya, dia, mereka mendapatkan kebahagiaan kekal dariNya.

ending tulisan ini mau dong kutip lirik keluarga cemara:

“Harta yang paling berharga adalah keluarga
Istana yang paling indah adalah
keluarga
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga
Mutiara tiada tara adalah keluarga
Selamat pagi emak,
selamat pagi abah
Mentari ini berseri indah
Terima kasih emak,
terima kasih abah
Penuh hati berkata
dari kami putra putri
yang siap berbakti”

Happy Family Until We In (His) Jannah

1 Komentar

Happy Family

Oke, Happy Family For All Who have family. Family not only your mom, your dad, or your sister/brother. But people who loves you, you loves them,are family. Your comrade in Allah’s way is family. So a lot the meaning of family right?

By The Way, I Hope My, (Y)Our, Her/Him, Their Family will gather with the true smile in (His) Jannah. InsyaAllah.

So Cheers up with (y)our family you have. keuhahahahahahah :mrgreen:

Older Entries

%d blogger menyukai ini: