Beranda

Tugas WPAP SMK Negeri 2 Tangsel

Tinggalkan komentar

Halo, kali ini saya akan membagikan beberapa gambar WPAP karya siswa siswi SMK Negeri 2 Tangerang Selatan Tahun Ajaran 2017/2018. Karya ini dikerjakan oleh siswa siswi kelas XI Multimedia dalam mata pelajaran Desain Grafis Percetakan. Aplikasi yang digunakan adalah Adobe Illustrator

Berikut WPAP ter-rapi dan terapik versi gurunya 😀

Akmal

 

Indah

Tiara

Fikka

Yusman

Yusman

Iklan

Media Pembelajaran Flash Sederhana

Tinggalkan komentar

Assalamualaikim

Halo kali ini saya akan membagikan media pembelajaran sederhana  menggunakan Flash. Media ini dibuat saat saya pelatihan keahlian ganda. Ini termasuk ke dalam project work untuk modul J dalam matpel MultiMedia. Pembelajaran Interaktif ini menyajikan materi powerpoint untuk anak SD, jadi wajar semua materinya masih materi dasar microsoft powerpoint.

Berikut Screenshoot dari media pembelajarannya:

Bagi yang ingin file *.fla dan kawan-kawannya bisa didownload disini

Oke semoga bermanfaat ya 😀

berbagi seceria mungkin.

Nirmana Dwimatra

Tinggalkan komentar

Kali ini saya akan menampilkan beberapa karya nirmana dwimatra. Nirmana dapat disebut juga karya dua dimensi.

Materi nirmana ada di pelajaran SMK multimedia. Dan sekarang saya sedang mengikuti pelatihan keahlian ganda, di mana modul A mempelajari tentang nirmana dwimatra. Oke langsung saja.

Nirmana Dwimatra dengan Keseimbangan Tersembunyi

Nirmana dengan Keseimbangan Asimetris

Nirmana dengan Keseimbangan Simetris

pengulangan repetisi

pengulangan oposisi

Selain mempelajari prinsip keseimbangan dan pengulangan, di modul A ini pun dipelajari susunan warna. Berikut contoh susunan warna

Warna Harmoni

Warna Kontras

warna simetris

warna simetris

warna Asimetris

Objek Tidak Dapat Diubah Ukuran Atau Skala Menggunakan Selection Tool

3 Komentar

Pernah mengalami sebuah objek tidak dapat diatur skalanya menggunakan selection tool (V)? Akhinya harus mengisi ukuran sendiri. Tentu dengan mengisi ukuran sendiri  membuat pekerjaan semakin ribet bukan?

Nah begini contoh penampakan “error” nya.

gambar1

Sebenarnya tidak error, berikut caranya:

1. Pilih menu View

2. pilih Show Bounding Box

gambar2

3. taraa hasilnya kembali seperti semula

gambar 1.1

inilah yang diharapkan, kembali seperti semula 😀

Nah, mengapa tidak bisa skala objek menggunakan selection tool karena mungkin tanpa sengaja menyembunyikan bounding box untuk mengedit ukuran.

Atau shortcut nya Shift+Ctrl+B

Selesai, semoga bermanfaat. Berbagi dan belajar seceria mungkin 😀

Nak, Janjimu Itulah Yang Sangat Ibu Hargai

4 Komentar

Saya pernah menjadi seorang siswa, dan Alhamdulillah sekarang  menjadi seorang Guru. Ketika duduk di bangku kelas 2 SMA, saya memiliki seorang guru yang acapkali memulai ujian dengan menyuruh para muridnya untuk menulis sumpah di atas kertas ujiannnya. “Demi Allah Saya tidak akan menyontek“. Itulah kalimat yang bagi saya sangat menohok. Janji dengan Rabb kita.

Begitupun ketika saya duduk di bangku universitas. Seorang dosen menyuruh  untuk menulis siapa nama-nama yang duduk di samping kanan, kiri, depan, dan belakang, menulis janji “Saya berjanji tidak akan menyontek” kemudian tanda tangan. Dan janji tersebut masuk ke dalam penilaian oleh Dosen. Jika yang melanggar, tidak akan lulus matakuliahnya.

Itulah, sebuah janji antara kita dengan Rabb. Hanya sebagian kecil pertanggungjawaban kepada Guru atau Dosen. Sepenuhnya pertanggungjawaban hanya kepada Rabb.

Sekolah lulus dengan nilai besar namun diperoleh dari menyontek. Menyontek dari seseorang yang menjaga jawabannya, bukankah itu termasuk mengambil hak orang lain? Lulus dengan hasil bagus namun menyontek. Dari nilai lulus tersebut kita melanjutkan ke   sekolah lebih tinggi, kemudian melamar pekerjaan dengan hasil kelulusan sekolah tersebut. Bukankah itu menjadi sebuah keburukan yang terus menerus menurun?

Ya, bisa jadi itulah awal korupsi. Membiarkan berlarut-larut. Mengambil nilai dengan mencuri-curi waktu dari guru yang lengah. Menginginkan yang bagus dengan cara instan. Apa bedanya dengan korupsi, bukan? Wajar saja korupsi itu hal yang biasa, banyak dicaci, namun banyak pula yang melakukan.

Sekolah itu tempat peradaban sikap, bukan sekedar ilmu. Ketika mental-mental korupsi muncul dalam diri seseorang bukankah sekolah pun acapkali dikaitkan dengan perilakunya? Terlebih mengaitkan dengan tugas guru sebagai “pendidik”. Lalu apa yang saya lakukan sekarang sebagai seorang guru? Berbekal pengalaman yang minim. Mengajar 5 bulan di sekolah swasta sebagai guru honorer, dan pengalaman 1 tahun mengajar di pelosok Aceh sebagai guru kontrak mengajarkan saya secara langsung di lapangan. Saya kembali menerapkan apa yang pernah diterapkan oleh Guru dan Dosen saya. Setiap kali ujian tulis, saya menyuruh para murid untuk menulis “Demi Allah Saya Tidak Akan Menyontek“. Apa konsekuensinya bagi yang ketahuan? Langsung NOL, dan otomatis diakhir semester mereka-merekalah yang memiliki nilai di bawah ketuntasan. Murid yang tergolong pintar pun jika ketahuan menyontek, ya tidak lulus. Banyak yang protes, namun saya balik bertanya “Apakah kamu pernah menyontek saat ujian dengan ibu?“. Dia pun tersenyum malu.

Sering saya berkata, “Nak, ibu senang banget kalo kalian jujur. Lebih senang dibandingkan nilai kalian besar tapi nyontek. Lebih senang lagi  jujur dan  nilainya bagus, hehe. Tapi Janji kalian, sumpah kalian itu yang sangat ibu hargai.” Inilah salah satu cara saya sebagai pendidik untuk melawan korupsi agar tak berakar dan menjalar. Sebuah langkah sederhana yang semoga dapat berdampak besar pada mental para murid.

Jua, ketika berbicara pendidikan, kejujuran, dan agama saya teringat dengan tiga serangkai tokoh besar NU yang memiliki keteladanan khususnya dalam bidang pendidikan, salah satu bidang yang sangat penting dalam menempa mental, ilmu, dan tingkah laku. Yaitu,  KH. Hasyim Asy‘ari, K.H. Abdul Wahab Hasbullah, dan K.H. Bisri Syansuri. Tokoh-tokoh yang begitu semangatnya menerapkan pendidikan modern namun tetap memegang syari’at Islam bagi para umat muslim di  Indonesia. Itulah yang seharusnya terjadi sekarang. Mendirikan sekolah-sekolah yang dapat melahirkan jiwa santun, kuat, cerdas, jujur, dan amanah. Hingga lahirlah para cendikiawan yang anti korupsi.

Terakhir, bukan hanya dengan tindakan langsung dan ucapan untuk melawan korupsi. Kritikan tajam melalui media tulis seperti buku dan blog pun dapat dijadikan alat melawan korupsi, karena terkadang tulisan lebih tajam dari ucapan. Mungkin ini salah satu tujuan diadakannya lomba Blog oleh PPM Aswaja, mengupas tajam korupsi yang mengakar dan mengukuhkan kembali bahwa Muslim itu Anti Korupsi!

Website resmi Nahdlatul Ulama 

Info & belajar Islam terkini 

Diproteksi: Beginikah Nasib Guru PPL Di Mana pun Berada?

Masukkan password Anda untuk melihat komentar.

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Materi Simulasi Digital Relevankah Dengan Dunia Kerja?

15 Komentar

Aduh hantahlah ya, sekarang saya semakin bingung dengan Kurikulum 2013, terutama kurikulum di SMK. Saat penerapan Kurikulum 2013 tepat sekali saya melakukan praktek PPL PPG ini di sebuah SMK yang menjadi sekolah uji coba kurikulum 2013 di Kota Padang.

Simulasi Digital. Ini adalah mata pelajaran yang menjadi pengganti pelajaran KKPI di SMK. Hal yang dipelajari di matpel ini adalah sebagai berikut:

Nah tapi, karena keterbatasan alat tentu kurikulum ini belum bisa diterapkan. Karena sungguh komputernya tak mumpuni untuk menjalankan aplikasi multimedia yang cukup berat di matpel SimDig (Simulasi Digital). Akhirnya hanya sekedar ganti aman saja, dari KKPI  menjadi SimDig. Hal tersebut terjadi karena materi yang diajarkan sama saja.

Nah adalagi masalah, menurut saya. Di kurikulum SimDig mengajarkan membuat materi dalam bentuk digital, simulasi visual, audio visual. Jika dilihat apakah ada hubungannya dengan SMK yang jurusan akuntansi, pemasaran, perbankan, dan mungkin jurusan lain selain TIK?

Kita ambil contoh akuntansi. Yang mereka butuhkan adalah keahlian pengolah angka. Berarti mereka setidaknya harus menguasai aplikasi pengolah angka (contoh Excel). Jika ditelisik, mungkin materi membuat simulasi materi digital tidak terlalu mereka pakai untuk dunia kerja. Kecuali memang mereka akan menjadi animator khusus bidang akuntansi :D. Tapi materi aplikasi pengolah angkanya entah juga tuh apakah ada atau tidak di kurikulum.

Kita ambil contoh perkantoran. Mereka akan bekerja di kantor, misalnya. Di mana mereka harus membuat laporan kantor dengan rapi, misalnya. Nah keahlian itu kan butuh kemampuan untuk menjalankan aplikasi pengolah huruf (misal Open Office/ MS. Word). Tapi entah juga tuh materi itu ada atau tidak.

Mungkin terkesan, materinya terlalu mudah bagi siswa SMK. Justru hal kecil seperti itu harus ada dulu sebelum berlanjut ke tingkat lebih waw. Pengalaman mengajar di SMK selain TIK, memberikan gambaran  bahwa untuk menggunakan aplikasi-aplikasi (pengolah kata/angka) itu saja mereka masih kaku.

Nah itu opini saya, bagaimana opinimu?

Beropini seceria mungkin 😀

Older Entries

%d blogger menyukai ini: