Beranda

Beranjak dari Aceh, Beralih Ke Padang

Tinggalkan komentar

Sudah basi memang, tapi daripada tidak sama sekali saya akan menceritakan PPG di Padang yang merupakan rangakaian SM-3T.

Selesai program SM-3T ini, DIKTI memberikan beasiswa PPG (Program Profesi Guru) bagi seluruh peserta SM-3T secara gratis mulai dari biaya kuliah sampai uang saku. Itulah yang reward yang didapat dari rangkaian dari program SM-3T.

Nah, saya kira setelah perjalanan dengan wow nya pengalaman di Aceh, saya akan PPG di Bandung (UPI) atau daerah Jawa. Namun ternyata SALAH. Untuk Jurusan TIK (Teknik Informasi dan Komputer) seluruh Indonesia dipusatkan di Padang (UNP). Hal tersebut karena dari 33 peserta PPG TIK, yang paling banyak berasa dari padang sebanyak 15 orang.

Perkuliahanya dimulai tanggal 4 Maret 2013, dan saya berangkat menuju Padang tanggal 25 Februari. Sungguh harus merantau lagi selama setahun untuk kuliah. Perjalanan yang tak pernah saya duga sebelumnya.

Waw, ini jurusan memang unik. seluruh Indonesia pesertanya hanya 33 orang. Kalian tahu, dalam satu kelas pun kita begitu berasal asal muasalnya. Waw, cukup antusias dengan ragam daerah dalam satu kelas tersebut. Ada yang dari Flores, Manado, Makasar, Padang, Bali, Surabaya, Malang, Yogyakarta, Jakarta, Bekasi, Magetan, Mojokerto, Semarang dan  saya dari Bandung. Beragam  bukan?

Dan memang cukup banyak pengalaman yang saya alami di sini, mulai dari perkuliahan, kegiatan asrama, sampai jalan-jalannya :D. Yah, kita nikmati saja kisahnya walaupun harus merantau lagi. Tapi ya positive thinking terhadap takdir saya yang melangkah di tanah minang ini, hehe.

Baik Inilah teman-teman seperjuangangan saya bergelut kembali dalam perkuliahan PPG di UNP (Universitas Negeri Padang)

Peserta PPG TIK Seluruh Indonesia

Peserta PPG TIK Seluruh Indonesia

Itu sedikit kisah awal PPG saya. Ayo temans, kita kuliah lagi seceria mungkin 😀

Ayo Nak Kita Main Games Biar Kalian Bisa Pegang Mouse

2 Komentar

 

Alkisah ketika saya mengajarkan mereka mematikan komputer dan menyalakan komputer menggunakan mouse. Saya pikir mereka mudahlah memegang mouse , toh hanya sekedar pegang, klik, dan geser. Eits, itu mungkin mudah bagi kita yang terbiasa memegang mouse “hanya sekedar”. Tapi susahnya minta ampun bagi mereka yang baru pertama kali memegang mouse.

Miris sebenarnya. Tidak sedikit dari mereka yang ketakutan untuk memegang mouse. Ada yang memegang sambil bergetar, memegang dengan hanya dua buar jari (jari manis dan ibu jari) seperti orang yang jijik. Ada yang digeserkannya bukan mousenya, tapi telunjuk yang menyentuk bagian kiri mouse nya yang dia gerakkan. Ada pula yang ketika akan mengklik, dia lepas semua jari yang menempel di mouse, terus dia klik menggunakan telunjuk tanpa memegang mouse.

 

SAM_3173

 

SAM_3179

SAM_3172

SAM_3171

SAM_3169

Nah untuk mengatasi kesusahan itu, saya berpikir untuk mengajak mereka bermain sambil belajar. Tidak tegang, menyenangkan, namun mereka bisa mahir menggerakkan mouse.  Akhirnya saya pilih untuk bermain games Alien Sky. Dengan bermain games, secara otomatis siswa mau tidak mau harus klik dan geser-geserin itu mouse. Tak apa, mereka baru membiasakan diri untuk memegang mouse. Walau masih “hanya sekedar”, dengan seringnya mereka menggunakan mouse melalui games akan membuat mereka mahir dalam menggunakan mouse.

Yap, tak  apa Nak. Kalau kata orang Sunda “cik karacang tinggang batu, laun laun jadi legok”. Sekarang baru bisa pegang mouse, nanti bisa mengetik, menyalakan mematikan komputer, lama kelamaan (asal jangan lama-lama) kalian bisa semuaa.

Baiklah Nak, ayo pegang mouse seceria mungkin beybeh.

Hey Bandit Menggemaskan, Kalian Siap Dengan Kurikulum 2013?

1 Komentar

SAM_3297

Wahai bandit menggemaskan hingga mau saya remas saja kalian, tahu tidak? Seandainya ibu masih ada di sekolah kalian, Ibu sudah otomatis tidak akan mengajar kalian TIK lagi. Kata pemerintah, mau diintegrasikan dengan matpel lain. Jadi, kita tidak akan pernah belajar sejarah komputer yang ajegile lagi, tidak akan pernah belajar mengetik lagi, tidak akan pernah maen games lagi, tidak akan pernah menggambar di easy mouse pen lagi. Ah tidak akan lagi pokoknya.

Menanggapi masalah kurikulum 2013. Iya, banyak yang pro dan kontra(k). Saya termasuk yang kontra. Tak naif, ya saya merasa dirugikan sebagai seorang guru TIK.

 

Baik terlepas dari ke-kontra-an saya, saya ingin menyampaikan protes tertulis untuk Bapak dan Ibu “penyukses” kurikulum 2013. Entahlah ya, apakah mereka akan baca artikel ini atau tidak. Bermodalkan pengalaman yang minim mengajar di daerah terpencil, saya ingin menanggapi secara serius yo mameeeen masalah  kurikulum ini.

Wahai Si Kurikulum 2013. Kamu tahu, sekolah di Indonesia ini terlalu beragam serta “plural” fasilitas. Jangankan kurikulum 2013 ini yang berbasis TIK, kurikulum KTSP saja masih belum diterapkan sepenuhnya di setiap sekolah. Mereka hanya ber”title”  saja KTSP, tapi nyatanya prakteknya sama dengan kurikulum sewaktu saya SD.

Wahai Si Kur2013. Kamu yakin, bahwa setiap pelajaran akan berbasis TIK?Kamu tahu keadaan guru di daerah terpencil? Bahkan untuk memegang mouse saja mereka masih kebingungan, wahai aduhai.

Jangankan untuk menjalankan kurikulum berbasis TIK, masih banyak sekolah yang listriknya masih belum mumpuni.

Jangankan untuk menjalankan kurikulum berbasis TIK, siswanya saja masih susah untuk memegang mouse, mengetik, dan masih menganggap bermain komputer adalah hal yang megah  tur mewah. Boro-boro main komputer, lihat jua memegangnya pun jarangnya minta ampun (kepada  Allah).

Kurikulum itu memang cocok jika diterapkan di sekolah yang fasilitasnya amboi sekali. Namun apakah oh apakah yang akan terjadi jika diterapkan di SMP Negeri 1 Lokop tempat saya mengajar di Daerah Istimewa Aceh yang memang tempat dan siswanya pun “istimewa”?

Masih banyak guru yang gaptek, siswanya apalagi.

Wahai para pemuka Kur2013, tahu tidak? Idealnya setiap kurikulum terlaksana. Dan idealnya kurikulum yang dirancang di lembar kertas, terlaksana pula di lapangan. Tapi wahai oh wahai, acapkali sekolah keteteran untuk melaksanakannya. Akhirnya di kertas iya terlaksana, di lapangan? Oo meen. Tidak ideal jadinya.

Nah, karena saya guru TIK, beberapa hal yang ingin saya pertanyakan itu, kok materi di SMP dengan SMA hampir sama ya? Seharusnya ini yang diperbaiki.

Nah, karena saya pernah dan akan menjadi guru, sebenarnya yang harus ditonjolkan idealisme dan realismenya itu guru dulu, kalau kata aku. Jika guru kompeten, kurikulum sedemikian rupa aduh sulitnya pun masih bisa dihandle.

 Ibarat, traktor yang canggih wedan. Dijalankan oleh pengguna “blank” sama sekali tentang itu traktor. Akhirnya, oh traktor itu didiamkan berkarat. Si pengguna menggunakan kerbau lagi. Besoknya, dikira tidak efisien untuk digunakan itu traktor. Dibuat lebih canggihlah sebuah traktor. Eh, si pengguna makin bingung dan kembali ke kerbau.  Jadi yang salah pengguna, traktor, yang buat traktor,atau kerbau? :D. Eh, pengusung untuk buat traktor serta penilai berjalannya traktor kok tidak terlihat? Ups!

Etseuh dah ah. Berkomentar seceria mungkin saja 😀

Dialah Muridku, Sariana Julista Namanya

4 Komentar

Pengalaman di Aceh (SM-3T) sana memang sungguh fantastis! luar biasa! Spektakuler! Sebenarnya, saya bukanlah tipe orang yang suka melo-melo kalo berpisah dengan orang yang tak terlalu dikenal. Tapi ini, kali ini perpisahan yang sangaat membuat saya sedih. Terutama, sedih karena dia sedih.

Baik, alkisah ketika saya masuk ke kelas VIII satu. Ada satu siswa yang tidak terlalu saya suka, awalnya. Dia ituu, gimana ya? Suka agak berbicara sedikit “sok” menggunakan bahasa Gayonya atau dari gelagat mimik wajah yang membuat saya “ih ini anak gile bener sombongnya”. Saya berpikir, mungkin dia ada perasaan sedikit meremehkan saya. Toh saya baru masuk, dan jadilah guru baru bagi dia. Beberapa pertemuan, dia masih begitu. Tapi lama kelamaan, saya mulai melihat perubahannya. Mungkin sudah mulai merasa nyaman dengan saya, mungkin ya mungkin. Kan dia yang merasakan sebenernya.

Ya, dialah muridku. Sariana Julista namanya. Hingga saya menemukan sesuatu yang berbeda darinya. Sebuah keyakinan, “Saya Bisa Bu” dan dia berani. Saat akan mengikuti lomba pidato Bahasa Inggris, saya ditunjuk untuk melatih Sariana (dialah peserta lombanya) karena guru bahasa Inggris aslinya sedang tidak ada. Dari situ saya ajarkan cara membacanya, intonasinya, gerakan, dan mimik wajah. Dua kali latihan dia tidak ada masalah. Namun, ketika dipanggil untuk latihan lagi, dia..

“bu, saya gak sanggup bu”

“kenapa?”

“ya gak bisa aja bu, apalagi harus hapal ini semua”

“kamu bisa Sariana”

“enggak bu”, dengan wajah yang tidak PD dan tersenyum lesu.

“kamu bisa, gampang ko ini. ya?”

“emmm, gimana ya bu?”

“oke kalo kamu gak sanggup, siapa menurutmu yang sanggup?”

“Rasidin bu”  Pas di tes, Rasidinpun lebih tidak bisa lagi dibanding Sariana.

“tuh Sariana, dia gak bisa. Kamu bisa Sariana. Pasti bisa. Ya, mau kan ngelanjutin lomba ini?”

“emm, ya udah buu.”

Dan, akhirnya saya tahu dari ibunya bahwa dia belajar begitu sungguh-sungguh menghapal dan mempraktekkan pidato itu di rumah. Ibunya berkata “kamu gak akan bisa ngapalin bahasa Inggris itu”. Sariana menjawab, “gak mak, kata bu Ijah saya bisa ngapalin ini semua” .

Begitulah tutur ibunya Sariana. Beberapa hari sebelum pertandingan, dia datang ke kos-kosan saya dan berlatih setiap hari. Perkembangan yang cukup hebat, menurut saya.

Waktu Lomba Pidato bahasa Inggris

Pas perlombaan, dia begitu hebat, tidak grogi, brilian lah pokoknya. Saya pinjami dia jas, dan waw dia tampak lebih kereen! Ya walaupun tidak menang. 😀

Saya akui dia memang pandai dalam berbicara, dalam intonasi, keberanian, rajin, dan berkarya.

Dan, saat acara perpisahan saya dengan sekolah. Dialah yang menjadi MC. Salah satu guru melihat dia mulai berkaca-kaca setiap melihat saya. Padahal acara belum dimulai. Selama menjadi MC, dia selalu menghapus airmatanya.

Nangis Saat jadi MC :’)

Puncaknya saat dia membacakan puisi indah untuk saya. Dari awal sampai terakhir, dia menangis! Terisak-isak! Sayapun tak sanggup dan pergi dari jajaran guru, menjauh dari menatap Sariana.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=0ZAvXxJA1IM&feature=youtu.be]

*makasih untuk Nanik yang telah mengambil video ini di saat saya sedang nangis gogoakan di dalam 😀

Dalam benak saya, mengapa Sariana begitu terpukul dan menangis sebegitunya. Akhirnya, saya tahu dari Ibunya yang menangis datang ke kos-kosan. Ibunya memeluk saya dan mengucapkan banyak terimakasih telah mengajar Sariana. Ibunya pun bertutur…

“bu, makasih udah ngajarin sariana selama ini. dia dari kemarin nangis terus. Bahkan hampir ga mau makan. Karena gak tega saya jelek-jelekin ibu, maaf ya bu ini biar Sariana gak begitu sedih. Tapi di malah bilang ‘gak, bu Ijah tuh baik mak. Saya tahu banyak dari dia. Dia baik sama aku mak.’ . Saya pun heran, baru pertama kali ini dia sedih gara-gara ditinggal guru, dari SD. Padahal dia orangnya suka ngelawan, cuek, tapi ini dia bener-bener sedih. Katanya dia gak mau lagi deket-deket ama guru kaya gini, takut sedih lagi.”

Itulah ucapan yang takkan pernah Ibu lupakan darimu, Sariana. Ucapan itu udah nusuk nanclebke Ibu. Ibu awalnya tidak terlalu sedih pisah denganmu, Sariana. Tapi ternyata salah, kamulah salah satu yang membuat susah paheeut pindah dari SMP N 1 Lokop ini :D. Ibu tunggu kamu di sini, di Bandung. Atau di tempat lain yang lebih Indah dan wow hebat.

Semoga suatu saat kamu membaca tulisan ini. My Unpredictable, My Beloved, My Nice, My Smart Student. Sariana Julista.

Cheers Ana !

Jaga kerendahhatianmu ya Ana! Capai juga tuh cita-cita kamu yang ingin jadi Pengacara! Oya maap SMS pertama dari Ana waktu itu tidak dibalas, HP As nya gak Ibu bawa 😀 Seceria Mungkin Anaa!

Yang Ketahuan Berduaan Langsung Dinikahkan!

Tinggalkan komentar

Sama halnya di Jawa Barat, tidak semuanya suku Sunda. Begitupun di Aceh, tidak semua suku Aceh. Ada suku namanya suku Gayo.

Hey, bagi kalian yang suka ngobrol laki perempuan di tempat yang gelap, jangan heran jika tiba-tiba kalian disuruh untuk menikah. Itulah adat suku Gayo, istilah namanya adalah geurleu.

Beberapa hari lalu ketika saya sampai di kampung ini, ada siswa SMP yang menikah karena ketahuan janjian di tempat gelap dengan lawan jenisnya. Di sini tidak aneh karena memang begitulah adat istiadat di sini. Walaupun toh mereka tidak melakukan apa-apa saat berdua-duaan, tetap mereka harus melaksanakan hukuman itu. Atau jika hendak tak mau menikah, dia harus bayar denda.

Ada juga selang beberapa hari dari kedatangan saya, siswa SMP yang tunangan dengan siswa SMA. Asalnya harus menikah, akan tetapi laki-laki yang siswa SMA belum siap jika memang harus menikah.

Waw, ada sisi baiknya juga sih. Jadi setiap orang harus menjaga jarak dengan yang bukan muhrimnya.

Nah kalo yang ini mungkin bukan  hanya adat suku gayo aja mungkin ya. Jadi begini, setiap musim panen kayu tiba, jangan heran jika sekolah kosong dengan siswa laki-laki dan saat panen “lupa lagi panen apa” siswinya yang tidak masuk sekolah.

Des, 29th 2011

Lokop, Aceh Timur

 

Kisah terbarunya, saya menghadiri pernikahan siswi kelas 2 saya yang ketahuan surat-suratan sama pacarnya, posisi dia sudah tunangan dengan yang lain. Jadilah harus segera dinikahkan dengan tunangannya itu.

 

Kisah lainnya, ketika memasuki tahun ajaran baru ada seorang siswi kelas 2 yang dinikahkan karena ketahuan berduaan. Wew.

Kalo di Bandung adatnya langsung dinikahkan kaya gitu, pasti udah jarang tuh wanita dan lelaki lajang. Haha!

Eitsah Jadi Pemateri Pelatihan Guru SD Terpencil

2 Komentar

Entahlah ya. Biarinlah ya kalau  orang anggap saya norak atau ih baru segitu aja udah sombeng somseu. Tapi jujur ini bukan pengen sombong atau gimana, tapi ada kepuasan batin tersendiri.

pelatihan guru SD terpencil se Aceh Timur


Jadi pada tanggal 8-9 Oktober, SM-3T Aceh Timur mengadakan pelatihan ICT (Microsoft Word, Power Point, Excel) bagi guru-guru SD terpencil se Kabupaten Aceh Timur. Nah, saya menjadi salah satu pemateri dan tutor yang secara langsung memberikan pengarah di depan sekitar 60-an guru-guru.

Eitsah, Pemateri

Dan waw, suatu hal yang menggembirakan harus mengajar guru-guru dengan berbagai macam keahlian. Ada yag masih mahir dan ada pula yang masih  sangat minim pengetahuan tentang mengetik.

Tahukah kalian, bahwa ternyata masih ada bahkan mungkin banyak guru yang untuk mengoperasikan komputer saja masih begitu kaku. inilah salah satu guru tersebut.

Saya ajarkan mereka dasar-dasar mengetik, dan begitu terharunya ketika melihat mereka yang terbilang sudah cukup tua namun masih antusias mengikuti materi yang saya ajarkan. Walaupun toh mereka tidak bisa, mereka terus bertanya kepada tutor pendamping.

Ini  merupakan salah satu bapak yang walaupun tidak bisa, terus terus bertanya ketika saya jadi tutor.

Guru yang agak kesusahan mengikuti materi namun tetap bertanya

guru yang untuk mengetik dan klik saya masih kaku tapi tetap bertanya tidak malu

Eitsahlah pokonya, jadi pemateri untuk pertama kalinya di depan guru-guru. Inilah salah satu alasan saya begitu bersyukur pernah pergi ke Aceh ini. Pengalaman yang sungguuuh bermakna whahahaha.

Satu poin tambahan lagi, saya jadi pemateri/tutor terbaik pilihan guru-guru tersebut 😀

Jadi Pemateri/Tutor terbaik 😀

Hal yang cukup terharu adalah mendengar salah satu perwakilan guru yang berkata “saya mengucapkan terimakasih atas pelatihan ini. Harap maklum, beginilah kami. Kami memang kurang pendidikan dan pengetahuan kami.” Dan saya cukup terkesan karena di umur mereka yang sudah tua masih ingin untuk belajar. 😀

Semenjak menjadi pemateri di pelatihan ini, saya menjadi lebih bersemangat untuk berbagi ilmu baik sebagai guru, pemateri, pun yang lain. Di Aceh inilah saya mendapatkan se-ngena-ngenanya menjadi seorang guru. Menjadi guru kreatif yang pada awalnya karena dituntut, dan menjadi pemateri yang sabar yang pada awalnya  karena sayang kepada guru-guru tersebut.

Ayo Bapak Ibu, kita belajar seceria mungkin 😀

Ku Ajarkan Kalian Menggambar Walau Hanya Dengan 1 Laptop

2 Komentar

Sama halnya kisah mengetik murid-murid pada kisah sebelumnya, menggambarpun saya gunakan 1 laptop. Pada pelajaran ini saya mengajarkan siswa menggambar di laptop menggunakan mouse pen. Ada di silabus? Tidak sama sekali. Tapi saya ingin agar siswa tersebut terlatih secara kreatifitasnya. Pertama menggunakan mousepen tersebut memang terkesan kaku. Ada yang tidak mau mencoba karena saking takutnya memegang pen yang digunakan. Inilag mouse pen yang saya gunakan untuk mengajarkan murid-murid menggambar di laptop.

Mouse Pen

Teknis belajarnya, perkelompok maju ke depan untuk menggambar. Awalnya, saya memberikan bentuk awal, kemudian kelompok itu memikirkan jadi apa gambar/bentuk awal yang saya berikan kepada mereka. Contoh, saya berikan huruf “D” murid harus membuat gambar yang kreatif yang dibuat dengan unsur D tersebut.

Di saat satu kelompok maju ke depan, saya memancing semua siswa yang duduk di atas bangku untuk berpikir kreatif juga. Misal, jadi apa angka 3. Dan ternyata mereka cukup kreatif. Membuat angka 3 menjadi bunga, kelinci, rambut, bibir, dan lain sebagainya.

Kalian tahu, mereka merasakan kemewahan setelah belajar mengetik dan menggambar. “Bu, kami merasa mewahlah belajar kek gini, yang dulu Cuma ngapal sekarang kami  bisa gambar sama ngetik. Mewah ya bu..”. “Bu, kami senang kek gini, walopun mungkin kami Cuman bisa coba sekali seumur idup kami bu”

: )

Walapun ini Cuma sekali kalian mencoba mouse pen seumur hidup, ibu yakin kalian akan mencoba alat yang jauh lebih canggih  bahkan kalian mampu memilikinya jika kalian berusaha. Aamiin Ya Rabb.

Ayo  Nak, menggambar seceria mungkin 😀

Older Entries

%d blogger menyukai ini: